BANDA ACEH – Penanews.co.id – Universitas Syiah Kuala (USK) mendorong agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca bencana Badai Siklon Senyar 2025 dilaksanakan dengan pendekatan mitigasi bencana yang komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Dorongan ini sejalan dengan keterlibatan aktif USK dalam mendukung Pemerintah Aceh menyusun Dokumen Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Provinsi Aceh.
Rektor USK, Prof. Dr. Marwan, menyampaikan bahwa USK mengusulkan pembangunan kembali wilayah terdampak melalui pendekatan Daerah Aliran Sungai (DAS) utama sebagai strategi kunci pengurangan risiko bencana di masa mendatang.
“Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable, yaitu membangun kembali wilayah terdampak dengan kondisi yang lebih baik, lebih aman, dan lebih berkelanjutan,” ujar Prof. Marwan, dikutip dari usk.ac.id, Selasa (13/01/2026)
Dalam mendukung penyusunan R3P Aceh, USK telah mengerahkan 14 tim pakar lintas disiplin yang tergabung dalam lima gugus kerja tematik rehabilitasi dan rekonstruksi. Keterlibatan ini dimaksudkan agar proses pembangunan pasca bencana tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga memperkuat aspek mitigasi dan pengurangan risiko bencana secara jangka panjang.
Salah satu fokus utama usulan USK adalah pembangunan dan penguatan infrastruktur pengendalian banjir pada DAS yang melintasi kawasan perkotaan, seperti DAS Krueng Meureudu, DAS Krueng Peusangan, dan DAS Krueng Tamiang. Ketiga sungai tersebut dinilai sudah tidak lagi memadai dalam menampung debit puncak banjir tahunan, terutama pada kondisi cuaca ekstrem seperti saat Badai Siklon Senyar.
Usulan tersebut meliputi pengerukan dan normalisasi sungai, pembangunan tanggul banjir, penetapan sempadan sungai sebagai kawasan lindung, perbaikan tutupan hutan di wilayah hulu dan tengah DAS, serta penataan permukiman di kawasan rawan bencana.
Rektor USK juga menekankan pentingnya Aceh belajar dari negara-negara yang memiliki pengalaman panjang dalam mitigasi bencana badai, seperti Jepang dan Taiwan, yang meskipun sering dilanda bencana serupa, mampu menekan dampak dan jumlah korban secara signifikan.
Selain infrastruktur sungai, USK memberi perhatian serius pada pemulihan kawasan lindung, khususnya hutan di wilayah hulu DAS. Melalui pemanfaatan citra satelit, tim USK memetakan tingkat kerusakan hutan akibat badai serta menyusun rekomendasi perbaikan kawasan hutan agar kembali memenuhi fungsi ekologisnya dalam menahan limpasan air dan mengurangi risiko banjir di masa depan.
Tidak hanya pada aspek perencanaan dan kebijakan, USK juga telah menunjukkan kontribusi nyata sejak awal terjadinya bencana. Melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Respons Badai Siklon Senyar, USK bergerak sejak hari kedua pasca bencana, tepatnya sejak 28 November 2025, dengan menurunkan relawan, tenaga medis, serta bantuan logistik ke berbagai wilayah terdampak di Aceh.





