GEN-A dan MIT Foundation Edukasi Standar Jurnalisme Warga bagi Penyintas Bencana di Aceh Tengah

by

TAKENGON — Penanews.co.id – Di tengah situasi bencana, ponsel warga kerap menjadi alat pertama yang merekam peristiwa. Video dan foto menyebar cepat, melintasi grup percakapan hingga media sosial. Namun, tanpa pemahaman yang memadai, informasi yang semestinya membantu justru berpotensi menyesatkan.

Tim Publikasi dan Pemberitaan GEN-A dalam Press Releasenya, Jumat (30/01/2016) mengatakan Kesadaran inilah yang melatarbelakangi Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) bersama MIT Foundation menggelar edukasi Standar Jurnalisme Warga bagi masyarakat terdampak bencana.

Kegiatan edukasi ini digelar di Gampong Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (28/1/2026).

Tim menyatakan, edukasi ini diikuti oleh sekitar 40 orang masyarakat, yang sebagian besar merupakan penyintas banjir dan warga sekitar lokasi layanan kesehatan gratis.

“Kegiatan dilakukan secara sederhana dan dialogis di sela-sela antrean pengobatan, agar tetap inklusif dan tidak mengganggu layanan medis,” ungkap Tim.

Pemateri kegiatan, Maulana Kamal, S.I.Kom, Edukator GEN-A, menjelaskan bahwa dalam situasi darurat, warga kerap menjadi sumber informasi pertama dari lapangan. Karena itu, cara merekam dan menyampaikan informasi memiliki dampak besar terhadap respons kemanusiaan.

“Video warga bisa sangat menolong, tapi juga bisa menyesatkan. Semua bergantung pada bagaimana informasi itu direkam dan disampaikan,” ujar Maulana Kamal.

Dalam edukasi tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa rekaman bencana idealnya memuat informasi dasar yang jelas. Identitas perekam, misalnya, perlu disebutkan secara sederhana—apakah sebagai warga, relawan, atau saksi. Hal ini penting agar informasi memiliki konteks dan dapat diverifikasi.

Selain itu, waktu perekaman menjadi unsur krusial. Banyak informasi keliru beredar karena video lama dibagikan ulang seolah-olah kejadian baru. Dengan mencantumkan tanggal dan jam perekaman, potensi kesalahpahaman dapat diminimalkan.

Aspek lain yang ditekankan adalah kejelasan lokasi. Menyebutkan desa atau gampong, kecamatan, hingga kabupaten membantu relawan dan pihak berwenang memahami situasi secara akurat.

“Informasi lokasi yang jelas bisa mempercepat bantuan. Sebaliknya, lokasi yang samar justru membuat respons salah sasaran,” kata Maulana.

Yang tidak kalah penting, peserta diingatkan untuk merekam fakta yang terlihat, bukan asumsi atau narasi provokatif. Dalam situasi bencana, emosi sering kali memuncak. Namun, menyimpulkan sesuatu tanpa dasar yang jelas dapat memicu kepanikan dan memperkeruh keadaan.

“Rekam apa yang ada di depan mata. Jangan menambahkan tuduhan, jangan memprovokasi. Biarkan fakta yang berbicara, dan jangan lupa sampaikan bentuk bantuan apa yang dibutuhkan jika ada” ujar Maulana Kamal di hadapan peserta.

Pendekatan edukasi ini disambut positif oleh warga. Beberapa peserta mengaku baru menyadari bahwa kebiasaan membagikan video tanpa keterangan lengkap dapat berdampak luas, tidak hanya bagi penerima informasi, tetapi juga bagi penyintas lain.

Ditempat yang sama Founder MIT Foundation, Teuku Farhan, menyampaikan bahwa edukasi literasi informasi merupakan bagian penting dari aksi kemanusiaan.

Menurutnya, bantuan bencana tidak cukup hanya berupa logistik dan layanan kesehatan, tetapi juga harus menyentuh aspek pengetahuan masyarakat.

“Di era digital, bencana selalu diikuti oleh banjir informasi. Jika tidak dibekali pemahaman, masyarakat bisa menjadi korban misinformasi. Karena itu, edukasi seperti ini sangat relevan,” ujar Teuku Farhan.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini terlaksana berkat dukungan para donatur dari Negeri Sabah, Malaysia, yang mempercayakan bantuannya untuk aksi kemanusiaan yang tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga edukatif.

Disesi lain Ketua Tim Reaksi Cepat GEN-A (TRC GEN-A), dr. Intan Qanita, menilai edukasi jurnalisme warga memiliki peran strategis dalam respons bencana. Berdasarkan pengalaman tim di lapangan, banyak laporan awal berasal dari warga sekitar.

“Informasi dari masyarakat sangat menentukan. Jika disampaikan dengan standar yang baik, itu membantu kami bergerak cepat dan tepat. Jika keliru, justru bisa menghambat,” jelas dr. Intan.

Ia menambahkan bahwa membekali warga dengan prinsip dasar jurnalisme warga berarti memperkuat ketangguhan komunitas itu sendiri.

Selanjutnya Direktur Eksekutif GEN-A, dr. Imam Maulana, menegaskan bahwa edukasi ini merupakan bagian dari upaya menjaga martabat penyintas bencana. Menurutnya, penyintas bukan objek tontonan, melainkan manusia yang memiliki hak atas privasi dan kebenaran informasi.

“Lengkapi identitas, waktu, dan tempat. Rekam fakta, bukan asumsi. Bijak bermedia di situasi bencana. Ini bukan sekadar slogan, tapi nilai yang ingin kami tanamkan,” ujar Imam.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan yang bergerak bersama GEN-A serta para donatur yang telah memberikan kepercayaan, meski tidak dapat disebutkan satu per satu.

“Kami bersyukur atas solidaritas yang terus mengalir. Kolaborasi dengan MIT Foundation dan dukungan dari Sabah menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas,” katanya.

Melalui edukasi singkat namun bermakna ini, GEN-A dan MIT Foundation berharap masyarakat terdampak bencana di Takengon dapat menjadi penyampai informasi yang lebih bertanggung jawab. Dengan begitu, video dan laporan warga tidak hanya menjadi rekaman peristiwa, tetapi juga jembatan solidaritas yang membantu pemulihan bersama.[]


ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *