Beri Pendampingan Psikososial, Siswa SDN 9 Kebayakan Sambut Relawan GEN-A dan MIT Foundation dengan Didong dan Tarian Gayo

by

TAKENGON – Penanews.co.id — Suasana ruang kelas SD Negeri 9 Kebayakan, Aceh Tengah, mendadak hidup oleh lantunan syair dan tepukan ritmis khas Gayo, saat kedatangan relawan Aksi Kemanusiaan Batch 7 dari Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) dan MIT Foundation Rabu, (27/01/2026).

Kehadiran relawan itu di tengah proses pemulihan pascabencana, disambut siswa-siswi sekolah dasar tersebut dengan Didong dan tarian Gayo.

Tim Publikasi dan Pemberitaan GEN-A dalam.press releasenya mengatakan, sajian tarian tradisional dan syair Gayo itu sebuah sambutan yang sarat makna sekaligus menjadi bagian dari proses pendampingan psikososial anak. Kegiatan ini rangkaian dari penyaluran donasi dari masyarakat Negeri Sabah, Malaysia.

Menurutnya tim, Didong dipimpin oleh Fathan, siswa kelas 2 SD, bersama 13 teman sebayanya. Dengan penuh percaya diri, mereka melantunkan syair-syair sederhana yang mencerminkan kebersamaan dan semangat bangkit. Menariknya, anak-anak tersebut mengaku belajar Didong secara mandiri, tanpa pelatihan khusus. Sedangkan tarian dipersembahkan oleh 4 orang siswi kelas 5 dan 6.

“Kami belajar sendiri, saling mengingatkan. Kalau lupa syair, teman bantu,” ujar Fathan polos, disambut senyum para relawan dan guru.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pendampingan psikososial yang dilaksanakan GEN-A dan MIT Foundation di sekolah-sekolah terdampak bencana di Kecamatan Kebayakan. Pendekatan yang digunakan menempatkan budaya lokal dan ekspresi anak sebagai pintu masuk pemulihan, agar anak-anak dapat kembali merasa aman, didengar, dan dihargai.

Pendampingan difasilitasi oleh dr. Imam Maulana, Trainer GEN-A, bersama Ns. Zafira Nabilah, S.Kep , Edukator GEN-A, serta didukung oleh para relawan mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kebayakan. Para relawan mahasiswa turut berperan aktif mendampingi anak-anak dalam aktivitas bermain, bernyanyi, menggambar, dan bergerak bersama.
“Anak-anak tidak selalu mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Melalui seni, gerak, dan permainan, mereka menemukan cara bercerita yang aman,” kata dr. Imam Maulana.

“Didong dan tarian Gayo bukan sekadar pertunjukan. Itu adalah bahasa emosi mereka.”

Menurut Imam, pendekatan berbasis budaya lokal membuat anak lebih nyaman dan terhubung dengan identitasnya sendiri. Hal ini penting untuk membangun kembali rasa percaya diri dan kebersamaan di lingkungan sekolah setelah mengalami situasi darurat.
Ns. Zafira menambahkan bahwa pendampingan psikososial bagi anak perlu dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan tidak mengintimidasi.

“Kami ingin anak-anak merasa sekolah kembali menjadi tempat yang aman dan menyenangkan. Dengan bermain dan berekspresi, mereka belajar bahwa perasaan mereka valid dan mereka tidak sendirian,” ujarnya.

Bermain, Mengenal Diri, dan Menata Harapan
Pendampingan psikososial dilakukan melalui metode bermain bersama, saling mengenal, berbagi cerita, serta diskusi ringan tentang cita-cita. Anak-anak diajak menyebutkan mimpi mereka, mulai dari ingin menjadi guru, dokter, tentara, hingga ustaz, lalu berdiskusi sederhana tentang bagaimana mewujudkannya.

Di sinilah konsep doa–ikhtiar–tawakkal–tawadhu diperkenalkan secara kontekstual. Anak-anak diajak memahami bahwa berdoa memberi ketenangan hati, ikhtiar berarti berusaha sungguh-sungguh, tawakkal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah berusaha, dan tawadhu mengajarkan rendah hati serta kebersamaan.

Materi disampaikan oleh dr. Imam Maulana, Trainer GEN-A, bersama Ns. Zafira Nabilah, S.Kep , Edukator GEN-A, serta didukung oleh relawan mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kebayakan.

Pendekatan dibuat sederhana, komunikatif, dan ramah anak, agar pesan mudah dipahami tanpa memberi tekanan.
“Anak-anak tidak selalu bisa menjelaskan perasaan mereka dengan kata-kata. Lewat bermain, bercerita, dan nilai spiritual yang akrab dengan keseharian mereka, kita membantu anak merasa aman dan tidak sendirian,” kata dr. Imam Maulana.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian penting dari pemulihan psikososial. “Ketika anak merasa tenang, didengar, dan dihargai, proses belajar dan tumbuh kembang mereka bisa kembali berjalan,” ujarnya.

Nilai Spiritual sebagai Jangkar Emosi Anak
Poster edukasi yang digunakan dalam kegiatan ini menekankan pesan bahwa kesedihan dan musibah bukan tanda ditinggalkan, melainkan bagian dari ujian kehidupan. Anak-anak diajak memahami bahwa dalam kesulitan, ada kekuatan doa dan kebersamaan.

“Bukan hanya mengajarkan anak untuk kuat, tapi juga mengajarkan bahwa merasa sedih itu manusiawi, dan meminta bantuan itu boleh,” jelas Ns. Zafira Nabilah, S.Kep. Menurutnya, nilai spiritual membantu anak menata emosi tanpa mengabaikan realitas yang mereka alami.

Pendekatan ini dinilai relevan di Aceh, di mana spiritualitas dan budaya lokal menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Founder MIT Foundation, Teuku Farhan, menilai sambutan siswa SDN 9 Kebayakan sebagai pengingat bahwa pemulihan pascabencana harus berangkat dari martabat dan kekuatan lokal.

“Melihat anak-anak menyambut dengan Didong dan tarian Gayo adalah pengalaman yang sangat menyentuh. Di tengah keterbatasan, mereka menunjukkan daya hidup dan kebanggaan pada budayanya,” ujar Teuku Farhan.

“Inilah wajah pemulihan yang kami harapkan, manusiawi, inklusif, dan berakar pada komunitas.” lanjutnya

Ia menegaskan bahwa kolaborasi MIT Foundation dengan GEN-A tidak hanya berfokus pada bantuan fisik, tetapi juga pada pemulihan psikososial jangka menengah, khususnya bagi anak-anak dan lingkungan sekolah.

Sementara itu, Ketua Tim Reaksi Cepat GEN-A (TRC GEN-A), dr. Intan Qanita, menjelaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan terdampak secara psikologis dalam situasi bencana, meski sering kali dampaknya tidak langsung terlihat.

“Anak bisa tampak ceria, tetapi menyimpan kecemasan dan kebingungan. Pendampingan psikososial membantu mereka memproses pengalaman tersebut secara sehat,” kata dr. Intan.

“Kegiatan berbasis seni dan budaya kearifan lokal seperti ini sangat efektif karena anak merasa aman dan diapresiasi.” tambahnya

Ia juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa KKN yang turut memperkuat pendampingan di lapangan. Menurutnya, kolaborasi antara relawan komunitas, mahasiswa, dan organisasi kemanusiaan mempercepat proses pemulihan sosial di tingkat akar rumput.

Bagi pihak sekolah, kehadiran relawan membawa suasana baru. Guru-guru melihat perubahan positif pada siswa yang sebelumnya cenderung pendiam dan menarik diri.
“Anak-anak terlihat lebih berani tampil dan berinteraksi. Mereka bangga bisa menunjukkan budaya Gayo di depan kakak-kakak relawan,” ujar salah seorang guru.

Melalui pendampingan psikososial berbasis budaya ini, GEN-A dan MIT Foundation berharap sekolah kembali menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan pulih bersama. Di Kebayakan, lantunan Didong dan gerak tarian Gayo hari itu menjadi tanda bahwa harapan masih tumbuh dari suara dan langkah anak-anak sendiri[]

ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *