YOGYAKARTA – Penanews.co.id – Lubang berukuran raksasa yang muncul di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus mengalami perluasan dan memicu kekhawatiran warga setempat.
Saat ini, cekungan tanah yang luasnya diperkirakan telah melampaui 30 ribu meter persegi tersebut dilaporkan mulai membahayakan fasilitas di sekitarnya.
“Dampak yang terkena adalah infrastruktur jalan dan ladang warga,” sebut Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Salahuddin Husein dilansir Kompas.com, Jumat (13/2/2026).
Salahuddin menjelaskan lubang yang melebar seluas 3 hektar tersebut diduga sebagai piping erosion, bukan sinkhole.
“Piping erosion atau erosi air bawah tanah yang membentuk saluran serupa pipa, lazimnya terjadi di dasar bendungan atau tanggul sungai,” jelas Salahuddin.
Dalam hal ini, Ngarai adalah sebutan bagi lembah raksasa dengan tebing terjal yang terbentuk di Ketol, Aceh Tengah.
“Ngarai dalam Bahasa Inggris disebut canyon, seperti Ngarai Sianok (Sianok Canyon) di Bukittinggi, Sumatera Barat,” jelasnya.
Ngarai Ketol saudara kembar Ngarai Sianok
Menurutnya, sebagaimana Ngarai Sianok, Ngarai Ketol ini juga berkembang pada batuan piroklastika (abu dan pasir letusan gunung berapi) muda.
Yang mana merupakan jenis batuan bersifat kohesif (rekat), namun mudah dierosi secara vertikal oleh sungai.
Salahuddin menjelaskan, Ngarai Sianok merupakan hasil erosi Sungai Sianok terhadap piroklastika letusan Kaldera Maninjau yang berada di sebelah baratnya.
“Sementara, Ngarai Ketol merupakan hasil erosi Sungai Lampahan terhadap piroklastika Gunung Geureudong yang terletak di sebelah timur lautnya,” lanjut Salahuddin.
Lantas, mengapa ngarai bisa semakin memanjang ke arah lereng atas?
Erosi menghulu dan timbulnya ngarai
Dalam konteks ini, Salahuddin menjelaskan tentang peran erosi menghulu atau yang biasa disebut dengan headward erosion.
“Akibat kekuatan erosi sungai pada suatu ngarai, kerap erosi juga berkembang ke arah hulu, menyebabkan ngarai semakin memanjang ke arah lereng atas,” jelas Salahuddin.
Alhasil, inilah yang membuat Ngarai Ketol seolah muncul mendadak atau tiba-tiba. Tepatnya setelah banjir bandang yang muncul di kawasan Aceh Tengah pada akhir November 2025 silam.
“Hal ini terjadi karena anak Sungai Lampahan menerima debit yang sangat besar, menuruni lereng Gunung Geureudong dengan kecepatan dan volume yang luar biasa, sehingga mampu menciptakan erosi vertikal dan erosi menghulu di Kampung Pondok Balik tersebut, yang berujung munculnya sebuah ngarai raksasa,” ulas Salahuddin.
Pembajakan Sungai
Melihat posisi kemunculan Ngarai Ketol dan arah erosi, Salahuddin mengatakan ngarai tersebut dapat dipastikan bakal terus tumbuh memanjang ke hulu.
Parpanjangan itu suatu saat bisa mencapai lembah Sungai Baleg yang hanya sekitar 500 meter dari Ngarai Ketol.
“Kondisi ini terjadi karena elevasi Sungai Lampahan dan Ngarai Ketol berada lebih rendah daripada Sungai Baleg, sehingga erosi menghulu Ngarai Ketol niscaya menuju ke lembah Sungai Baleg yang lebih tinggi (hulu),” sebutnya.
Dalam beberapa tahun hingga puluh tahun lagi, ia menuturkan Ngarai Ketol akan terhubung dengan lembah Sungai Baleg.
“Titik pertemuan ini kelak dapat disebut sebagai siku penangkapan (elbow of capture),” lanjutnya.
Jika fenomena ini benar terjadi, aliran Sungai Baleg dari arah akan akan berbelok bergabung dengan Sungai Lampahan. Bagian hilir Sungai Baleg bisa jadi kehilangan aliran airnya.
“Kelak Sungai Baleg ini dapat disebut sebagai sungai terpancung (beheaded stream) karena kehilangan aliran airnya. Apabila lembah Sungai Baleg menjadi lembah kering, maka akan disebut sebagai celah angin (wind gap),” jelasnya.
Fenomena itu disebut dengan pembajakan sungai atau stream piracy dalam ilmu geologi atau kebumian.
“Di mana salah satu sungai akan mati karena alirannya berbelok bergabung dengan sungai lain yang secara hidrologi lebih efisien dalam membawa air dan sedimen karena memiliki lereng aliran yang lebih besar,” tutur Salahuddin.
Contoh pembajakan sungai di Indonesia
Fenomena pembajakan sungai pernah terjadi di Indonesia. Salahuddin menyebutkan, peneliti Belanda menduga pada jutaan tahun lalu aliran utama Bengawan Solo di Jawa Tengah tidak bermuara ke Laut Jawa di utara seperti sekarang ini.
“Melainkan mengalir ke arah selatan dan bermuara di Samudra Hindia,” sebutnya.
Kok sekarang bisa sedemikian rupa?
Salahuddin memaparkan pengangkatan tektonik di bagian selatan Jawa membuat daratan di selatan menjadi lebih tinggi.
Alhasil, aliran sungai ke selatan mulai terhambat.
“Di saat yang sama, anak-anak sungai di bagian utara (yang bermuara ke Laut Jawa) melakukan erosi mundur yang sangat kuat,” jelasnya.
Anak sungai ini akhirnya memotong dan membajak jalur utama Bengawan Solo, karena posisi Laut Jawa yang lebih rendah.
“Aliran Bengawan Solo akhirnya berbelok tajam 180 derajat ke arah utara. Titik siku penangkapan (elbow of capture) terletak di daerah sekitar Wonogiri, sedangkan celah angin (wind gap) dijumpai di daerah Giritontro hingga Pantai Sadeng,” terang Salahuddin.
Perlu belajar dari Sungai Mississippi
Dari fenomena yang terjadi di Aceh Tengah, Salahuddin menyebutkan contoh fenomena pembajakan paling fenomenal dan dramatis.
Fenomena yang dimaksud ialah pembajakan Sungai Mississippi oleh Sungai Atchafalaya di Amerika Serikat.
“Selama ribuan tahun Sungai Mississippi mengalir menuju Teluk Meksiko, di mana endapan sedimennya menjadi tempat berdirinya kota New Orleans,” katanya.
“Kemudian muncullah Sungai Atchafalaya yang memiliki jalur yang jauh lebih pendek menuju Teluk Meksiko,” sambungnya.
Mengikuti hukum gravitasi yang lebih efisien, aliran sungai Mississippi bakal berpindah ke jalur Atchafalaya secara alami.
Kekhawatiran pun tumbuh, masyarakat sana was-was akan terjadi matinya ekonomi kota New Orleans karena hilangnya aliran Sungai Mississippi.
“Serta khawatir potensi banjir di Sungai Atchafalaya yang tidak mampu menampung debit aliran Sungai Mississippi,” tambahnya.
Sebagai langkah pencegahan, Salahuddin mengatakan pemerintah Amerika Serikat melakukan rekayasa pengaturan debit aliran kedua sungai tersebut.
“Dengan demikian pembajakan Sungai Mississippi oleh Sungai Atchafalaya dapat dicegah,” tuturnya. Baca juga: Fenomena Sungai Green di Colorado Mengalir ‘Melawan Gravitasi’, Bagaimana Bisa?
3 langkah penanganan yang bisa dilakukan Indonesia
Salahuddin memaparkan, proses pembajakan sungai bersifat alamiah. Artinya, fenomena tersebut merupakan proses alam.
Kalau mau mengendalikan sebagaimana Pemerintah Amerika Serikat terhadap Sungai Mississippi, bakal memerlukan biaya tinggi.
“Pengendaliannya sebagaimana di Sungai Mississippi membutuhkan biaya yang sangat besar,” ucapnya.
Untuk itu, Salahuddin mengatakan ada tiga langkah paling tepat yang bisa dilakukan saat ini, yakni:
1. Membiarkan perkembangan erosi menghulu di Ngarai Ketol
2. Menutup jalan raya penghubung Ketol dan Pante Raya yang kini telah terputus, serta meminta masyarakat memutar melalui Kute Panang dan Segene Balik
3. Merelokasi rumah warga terdampak ngarai.





