WARSAWA – Penanews.co.id – Pemerintah Polandia mengeluarkan imbauan darurat kepada seluruh warganya agar segera meninggalkan Iran serta menunda rencana perjalanan ke negara tersebut.
Perdana Menteri (PM) Donald Tusk menyatakan bahwa potensi pecahnya perang dalam waktu dekat merupakan ancaman yang “sangat nyata”.
Saat berbicara kepada awak media di Zielonka, wilayah dekat Warsawa, Tusk menegaskan bahwa situasi saat ini sangat serius. Ia juga mengingatkan bahwa peluang untuk meninggalkan wilayah tersebut bisa saja segera tertutup jika kondisi memburuk.
“Saya tidak ingin membuat siapa pun khawatir, tetapi kita semua tahu apa yang saya maksud. Kemungkinan konflik sangat nyata,” kata Tusk, dikutip dari Wionews.com, Kamis, (19/02/2026) seraya mendesak warga Polandia di Iran untuk menanggapi peringatan itu dengan serius.
Namun, pemerintah tidak mengungkapkan jumlah total warga Polandia yang tinggal di Iran. “Dalam beberapa jam, belasan jam, atau beberapa puluh jam lagi, evakuasi mungkin tidak lagi memungkinkan.”
Ia menambahkan bahwa peringatan sebelumnya tidak ditanggapi dengan serius. “Kami memiliki pengalaman buruk,” katanya. “Beberapa orang meremehkan imbauan seperti itu.”
Eskalasi ketegangan AS-Iran
Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan melakukan aksi militer terhadap Iran. “Jika Iran memutuskan untuk tidak membuat kesepakatan,” AS mungkin perlu menggunakan pangkalan udara di Samudra Hindia di Kepulauan Chagos, “untuk memberantas potensi serangan oleh rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya,” tulis Trump di Truth Social.
Angkatan laut Iran dan Rusia telah melakukan latihan pencitraan udara dan mempraktikkan formasi taktis serta manuver sebagai bagian dari latihan tersebut, menurut laporan media Iran.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dalam sebuah wawancara dengan televisi Al-Arabiya, mengatakan, “Sudah ada serangan terhadap Iran di situs-situs nuklir yang berada di bawah kendali Badan Energi Atom Internasional. Dari apa yang dapat kita nilai, ada risiko nyata terjadinya insiden nuklir.”
Selama pembicaraan di Jenewa, Iran setuju untuk menyerahkan proposal tertulis mengenai tanggapan terhadap kekhawatiran Washington. Peningkatan kekuatan militer AS dimaksudkan untuk memaksa Iran mencapai kesepakatan diplomatik.
Mantan perwira angkatan laut Iran, Mohammad Parsi, mengatakan bahwa kehadiran Rusia “kecil” dan “simbolis”. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro merupakan momen “macan kertas” bagi China dan Rusia, karena mereka tidak melakukan apa pun selain kecaman keras.
Namun, Iran bukanlah Venezuela; perang skala penuh dapat menyeret kekaisaran AS yang sedang menurun ke dalam perangkap dan mungkin akan menjadi sama brutalnya bagi AS seperti halnya bagi Iran.[]





