Ratusan Ribu Orang ‘Murtad’ demi Menghindari Pengenaan Pajak

by
Lanskap Kota Bern, Swiss, yang dikelilingi Sungai Aare, sungai tempat Emmeril Kahn Mumtadz berpulang.| Foto Unsplash/Andreas Fischinger

BANDA ACEH – Penanews.co.id – Swiss selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan beban pajak yang tergolong tinggi di dunia. Salah satu komponen pungutan yang menjadi sorotan adalah pajak gereja, yang membuat sebagian warga memutuskan untuk keluar dari keanggotaan gereja, bahkan menyatakan diri tidak ateis, agar tidak lagi dikenai kewajiban tersebut.

Kebijakan pajak gereja ini diterapkan berbeda-beda di setiap kanton, mengikuti aturan wilayah masing-masing. Pajak tersebut diwajibkan bagi penduduk yang tercatat sebagai anggota gereja resmi yang diakui negara. Besarannya bervariasi, umumnya berkisar antara 1% hingga 3% dari total pendapatan individu.

Bagi warga yang ingin terbebas dari pungutan tersebut, satu-satunya cara adalah secara administratif mengundurkan diri dari keanggotaan gereja.

Menurut laporan media lokal Le News, pada 2023 ada 67.497 orang meninggalkan Gereja Katolik di Swiss. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibanding 2022. Untuk gereja Protestan, sekitar 39.517 orang secara resmi meninggalkan gereja pada tahun yang sama. Jika ditotal, ada sekitar 100.000 orang yang meninggalkan gereja pada 2023.

Data dari Institut Sosiologi Pastoral Swiss (SPI) menunjukkan provinsi dengan aksi mundur dari gereja tertinggi berada di Basel-Stadt dengan persentase 4,5%. Provinsi yang terletak di Swiss utara tersebut memiliki sistem “berhenti dari keanggotaan gereja” yang memungkinkan orang tidak membayar pajak gereja.

Meski data resmi tidak selalu menyebutkan alasan kenapa orang meninggalkan gereja, statistik menunjukkan di provinsi di mana ada pajak gereja, tingkat orang yang meninggalkan Kristus cenderung lebih tinggi, menurut laporan Religion Watch.

Selain pajak, alasan lainnya yang mendorong orang meninggalkan gereja termasuk sekularisme hingga skandal di lingkungan rumah ibadah.

Survei dan data demografis menunjukkan semakin banyak warga Swiss yang mengidentifikasi diri sebagai ateis (sekitar ~34% dari populasi pada 2022). Angka ini menunjukkan banyak orang benar-benar melepaskan diri dari agama, terlepas dari pajak atau tidak.[]

Baca juga 👇

Baca juga👇

ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *