JAKARTA – Penanews.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap jejak intelektual dan spiritual ulama Nusantara, Syekh Yusuf Al-Makassari, yang berperan penting dalam perlawanan terhadap kolonialisme sekaligus penyebaran Islam hingga ke tingkat global. Kisah tersebut tidak hanya tersimpan dalam naskah sejarah, tetapi juga tercermin pada situs-situs penting, salah satunya kompleks makam Syekh Yusuf di Gowa, Sulawesi Selatan.
Di balik ketenangan kompleks makam tersebut tersimpan kisah tentang keberanian, pengasingan, dan pengaruh spiritual seorang guru sufi yang namanya dikenal hingga mancanegara.
Jejak sejarah dan pengaruh tokoh ini menjadi bahasan dalam webinar bertajuk “Mausoleum of Syekh Yusuf Al-Makassari in Gowa, Indonesia” yang diselenggarakan Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PRKK), Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra (Abastra) BRIN, di Jakarta, Senin (9/3).
Pada kesempatan tersebut, Peneliti PRKK BRIN, Nurman Kholis, memaparkan hasil penelitiannya mengenai keberadaan dan pengaruh ulama Nusantara di Afrika Selatan. Ia menjelaskan bahwa jejak tersebut tidak hanya berupa artefak fisik seperti manuskrip dan prasasti, tetapi juga jejak nonfisik yang mencerminkan pengaruh budaya dan spiritual.
Menurut Nurman, salah satu temuan penting adalah bukti kedatangan Syekh Yusuf dari Makassar yang meninggalkan jejak di berbagai lokasi penting di Afrika Selatan, bahkan pada sejumlah nama tempat di kawasan tersebut.
“Persepsi masyarakat lokal yang mengira istilah “Malai” merujuk pada Malaysia adalah keliru, karena sejarah dan artefak menunjukkan asal-usul ulama dari Sulawesi Selatan,” jelasnya, dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis (11/03/2026).
Nurman juga menemukan manuskrip dari Cianjur yang tersebar hingga Port Elizabeth, yang menunjukkan luasnya jaringan penyebaran budaya dan keilmuan Nusantara pada masa lalu. Ia mengajak masyarakat dan akademisi untuk terus menggali warisan sejarah tersebut agar jejak ulama Nusantara tetap hidup dan dikenal secara global.
Makna Penting Makam-Makam Tokoh Muslim
Sementara itu, peneliti PRKK BRIN, Hamdar Arraiyah, menjelaskan makna penting makam-makam tokoh Muslim sebagai simbol penghormatan sekaligus ruang pewarisan nilai keislaman. Ia mencontohkan makam Abu Ayyub Al-Ansari di Istanbul dan makam Sultan Nahmet di Bursa, Turki, yang menjadi pusat ziarah dan penguatan memori kolektif umat.
“Praktik ziarah tidak sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi media transmisi ingatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini serta memperkuat ikatan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar,” jelas Hamdar.
Ia juga menyoroti makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Gowa yang hingga kini menjadi pusat spiritual sekaligus destinasi sejarah yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai latar belakang. “Keberadaan makam tersebut tidak hanya berfungsi sebagai situs keagamaan, tetapi juga sebagai penguat identitas budaya, sumber pengetahuan sejarah, serta potensi penggerak ekonomi lokal,” jelasnya.
Peneliti PRKK BRIN lainnya, Roni Tabroni, menguraikan peran Syekh Yusuf sebagai tokoh yang memanfaatkan ajaran sufistik sebagai sarana perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme.
“Identitas umat Islam pada masa itu juga terbentuk melalui simbol-simbol tertentu, seperti turban putih yang bahkan dikenakan Pangeran Diponegoro meskipun ia tidak pernah menunaikan ibadah haji. Simbol tersebut menjadi penanda solidaritas sekaligus perlawanan,” jelasnya.
Roni menambahkan bahwa pengalaman haji dan jaringan perdagangan pada abad ke-17 tidak hanya memperkuat jejaring internasional umat Islam, tetapi juga membentuk identitas politik yang kemudian menyebar ke Nusantara melalui komunitas Melayu di Ceylon.
“Interaksi di kota-kota pelabuhan dan perjalanan haji turut membentuk kesadaran kolektif Islam global yang kemudian berkembang di Nusantara dan memperkuat perlawanan terhadap kolonialisme dengan landasan teologis berupa tauhid dan persatuan umat,” urainya menjelaskan.
Kolaborasi dan Refleksi Kritis, Membuka Perspektif Baru
Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN, Wuri Handoko, dalam penutupannya menyampaikan apresiasi atas kedalaman diskusi yang disampaikan dalam webinar tersebut.
“Kajian tentang Syekh Yusuf telah banyak dilakukan, namun tantangan ke depan adalah menghadirkan perspektif dan inovasi baru yang dapat memperkaya narasi keilmuan, baik dari aspek simbolik, morfologi, maupun perspektif internasional,” ungkap Wuri.
Wuri berharap kolaborasi dan refleksi kritis seperti ini dapat membuka perspektif baru dalam studi tentang tokoh dan warisan intelektualnya, sekaligus mendorong para peneliti untuk terus menghasilkan publikasi dan menyebarluaskan pengetahuan tentang warisan budaya keislaman Nusantara.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara, mengapresiasi kegiatan webinar yang rutin diselenggarakan oleh tim riset PRKK. “Kebiasaan berbagi gagasan seperti ini penting karena memungkinkan adanya masukan dari berbagai perspektif, baik dari sisi substansi maupun metode penelitian,” tuturnya.
Herry juga menekankan pentingnya melihat peran Nusantara dalam konteks globalisasi secara lebih aktif. Ia menilai selama ini globalisasi sering dipahami sebagai pengaruh dari luar ke Nusantara, padahal Nusantara juga memiliki kontribusi besar dalam mempengaruhi dunia internasional.
Ia berharap kajian mengenai peran ulama Nusantara yang memiliki pengaruh hingga Afrika Selatan dapat menjadi pembelajaran penting sekaligus memperkuat pemahaman tentang kontribusi Indonesia dalam sejarah global. []
Direkomendasikan untuk anda baca ini juga 👇
Skip to content





