TEHERAN – Penanews.co.id –Unit komando operasional tertinggi Iran telah mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan rezim Israel, menyatakan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur Republik Islam akan membuka “gerbang neraka” bagi para agresor .
Mayor Jenderal Ali Abdollahi, komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, yang mengoordinasikan operasi antara Angkatan Darat Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menyampaikan pernyataan tersebut pada hari Sabtu.
“Presiden AS yang agresif dan gemar berperang, setelah menderita kekalahan berulang kali, dalam langkah yang putus asa, gugup, tidak seimbang, dan bodoh, telah mengancam infrastruktur dan aset nasional negara kita,” katanya, merujuk pada komentar-komentar terbaru Donald Trump, dikutip dari Press TV,.Minggu (05/04/2026)
Komandan tersebut menekankan bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah bertindak sesuai dengan setiap komitmen yang dibuat sejak awal serangan tanpa provokasi terbaru dari AS dan rezim Israel terhadap Republik Islam pada tanggal 28 Februari.
“Sejak awal perang yang dipaksakan ini, kami telah bertindak sesuai dengan semua yang telah kami katakan. Makna sederhana dari pesan ini adalah bahwa pintu neraka akan terbuka bagi kalian,” tegasnya.
Dia memperingatkan bahwa setiap agresi musuh akan memicu “serangan dahsyat dan berkelanjutan” terhadap semua infrastruktur yang digunakan oleh “tentara Amerika yang teroris” dan rezim Zionis.
Komandan tersebut menggarisbawahi tekad Iran, dengan menyatakan, “Kami, Angkatan Bersenjata, tidak akan pernah ragu sedetik pun dalam membela hak-hak bangsa kami dan melindungi aset-aset nasional kami, dan kami akan menempatkan setiap agresor pada tempatnya.”
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah Operasi True Promise 4 yang sedang berlangsung sebagai bentuk pembalasan terhadap agresi tersebut.
Operasi tersebut telah melibatkan para prajurit yang menembakkan ratusan rudal balistik dan hipersonik serta pesawat tak berawak ke target-target strategis dan sensitif Amerika dan Israel di seluruh wilayah tersebut.
Mereka telah melancarkan setidaknya 95 gelombang serangan balasan sebagai bagian dari operasi tersebut, beberapa di antaranya dilakukan berkoordinasi dengan gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon dan Angkatan Bersenjata Yaman.[]
Sumber Press TV
Skip to content





