TEHERAN – Penanews.co.id – Kementerian Luar Negeri Iran pada hari Jumat (17/04/2016) mengatakan bahwa persediaan uranium yang diperkaya milik negara itu tidak akan dipindahkan “ke mana pun”, menyangkal klaim sebelumnya oleh Presiden AS Donald Trump bahwa republik Islam tersebut telah setuju untuk menyerahkannya.
“Uranium yang diperkaya milik Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dikutip dari Roya News, Sabtu (18/05/2026).
“Transfer uranium yang diperkaya milik Iran ke AS tidak pernah dibahas dalam negosiasi.”
Trump mengunggah di platform Truth Social miliknya pada Jumat pagi: “AS akan mendapatkan semua ‘Debu’ Nuklir, yang dihasilkan oleh pesawat pembom B2 hebat kita,” merujuk pada uranium yang diperkaya yang terkubur akibat serangan AS tahun lalu.
Namun Baqaei mengatakan pembicaraan baru-baru ini berpusat pada penyelesaian konflik dan bukan pada pemulihan uranium Iran.
“Negosiasi sebelumnya berfokus pada isu nuklir, tetapi sekarang negosiasi berfokus pada mengakhiri perang, dan tentu saja cakupan topik yang dibahas menjadi lebih luas dan beragam,” katanya.
“Rencana 10 poin untuk mencabut sanksi sangat penting bagi kami. Masalah kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang yang dipaksakan sangatlah penting.”
Dia juga mengkritik Trump karena mengunggah di platform Truth Social miliknya pada hari Jumat bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku sampai kesepakatan damai dengan Teheran tercapai, meskipun Teheran telah menyatakan Selat Hormuz dibuka kembali.
“Pembukaan dan penutupan Selat Hormuz tidak terjadi di internet, itu ditentukan di lapangan, dan angkatan bersenjata kita tentu tahu bagaimana harus bertindak dalam menanggapi tindakan apa pun dari pihak lain,” kata Baqaei.
“Apa yang mereka sebut blokade angkatan laut pasti akan ditanggapi dengan respons yang sesuai dari Iran. Blokade angkatan laut adalah pelanggaran gencatan senjata dan Iran pasti akan mengambil tindakan yang diperlukan.”
Komentar-komentar tersebut muncul setelah media berita AS, Axios, melaporkan bahwa Washington dan Teheran sedang menegosiasikan rencana yang mencakup pelepasan dana beku Iran sebesar 20 miliar dolar AS oleh Washington sebagai imbalan atas penyerahan persediaan uranium yang diperkaya oleh Iran.
Teheran masih memiliki sejumlah besar uranium yang diperkaya hingga 60 persen, mendekati tingkat 90 persen yang dibutuhkan untuk membuat bom atom, serta persediaan uranium yang diperkaya hingga 20 persen, ambang batas kritis lainnya.
Sebelum serangan AS pada Juni 2025, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperkirakan bahwa Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, jauh di atas batas 3,67 persen yang ditetapkan oleh perjanjian tahun 2015 yang kemudian ditinggalkan oleh Amerika Serikat.
Sejak Juni 2025, nasib persediaan senjata ini tetap tidak pasti, karena Teheran menolak akses bagi inspektur IAEA ke lokasi-lokasi yang hancur akibat serangan AS dan ‘Israel’.
Skip to content





