GEN-A Cetak Pelopor Dayah Ramah Anak di MUQ Pidie

by

PIDIE — Penanews.co.id – Sebanyak 48 santri di MUQ Pidie mengikuti kegiatan Penguatan Kapasitas Pengurus FORSA dan Kader TaKasi-SeRa yang diselenggarakan oleh Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A), yang dilakukan sehari penuh pada Rabu (30/04/2026)

Kegiatan ini diikuti oleh 48 peserta yang terdiri dari 17 santriwan dan 31 santriwati. Para peserta merupakan bagian dari pengurus FORSA dan kader TaKasi-SeRa yang dipersiapkan untuk membangun budaya komunikasi yang sehat serta berperan aktif dalam pencegahan perundungan di lingkungan dayah.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas santri sebagai agen perubahan dalam membangun lingkungan dayah yang sehat, aman, dan ramah anak. Fokus kegiatan tidak hanya pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada penguatan keterampilan komunikasi, kesadaran terhadap pencegahan perundungan, serta kemampuan menyampaikan edukasi kepada teman sebaya. Dengan pendekatan tersebut, peserta didorong untuk tidak sekadar memahami materi, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pada materi pertama tentang public speaking, Mina Shafira,S.T menekankan bahwa kemampuan berbicara bukan sekadar keterampilan, tetapi juga alat penting dalam menyampaikan pesan positif kepada sesama. Peserta dilatih untuk membangun kepercayaan diri serta menyampaikan pesan edukatif dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh teman sebaya. Melalui praktik berbicara singkat, peserta mulai berani mengutarakan pendapat serta mengasah kemampuan komunikasi yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dayah.

Sebagai salah satu narasumber, Ns. Rifa’ Nadhifatusysyarfi menekankan bahwa “pencegahan bullying tidak dapat dibebankan hanya pada individu, tetapi harus dibangun melalui sistem yang jelas di lingkungan dayah.” Ia menambahkan bahwa mekanisme pelaporan yang aman, komunikasi aktif antar pihak, serta kebijakan yang disusun bersama menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi seluruh santri.

Dalam sesi interaksi dan partisipasi yang dipandu oleh dr. Imam Maulana selaku Direktur GEN-A, peserta difasilitasi untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Peserta didorong untuk mengembangkan gagasan melalui penulisan opini dengan tema yang dipilih secara mandiri, sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis terhadap isu di lingkungan dayah. Selain itu, peserta juga dibimbing dalam menyusun draft rencana aksi sebagai langkah awal membangun sistem pelaporan bullying yang dapat dijalankan oleh kader FORSA secara berkelanjutan.

“Peserta tidak hanya kami dorong untuk memahami materi, tetapi juga untuk berani menyampaikan gagasan dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dari proses itu, mereka mulai menyusun langkah nyata dalam membangun sistem pelaporan bullying di lingkungan dayah,” ujar dr. Imam Maulana.

Kegiatan ini menghasilkan 33 karya opini peserta sebagai bentuk implementasi keterampilan menulis dan berpikir kritis terhadap isu remaja. Selain itu, peserta juga menyusun draft rencana aksi FORSA sebagai langkah awal dalam membangun sistem pencegahan dan pelaporan bullying di lingkungan dayah.

“Pelatihan ini membuka wawasan kami tentang pentingnya pencegahan bullying di lingkungan dayah. Kami juga belajar bagaimana membangun sistem pelaporan yang bisa menjadi wadah aman bagi teman-teman,” ujar Muhammad Iftah, salah seorang peserta pelatihan.

Pimpinan Dayah, Tgk. Junaidi, S.Ag., M.H., turut menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan ini sebagai langkah yang sejalan dengan visi dayah dalam membangun lingkungan yang aman dan berkarakter. Ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dayah.

“Kami berharap para santri tidak hanya memahami materi yang disampaikan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai kebaikan harus terus dijaga, sebagaimana yang selalu kami tekankan dalam slogan ‘jangan jadi mantan orang baik’, sehingga lingkungan dayah tetap menjadi tempat yang aman, saling menghargai, dan bebas dari perundungan,” ujar Tgk. Junaidi, S.Ag., M.H. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya menjaga konsistensi perilaku positif sebagai bagian dari upaya pencegahan perundungan di lingkungan dayah.

Sebagai bagian dari komitmen dalam pemberdayaan remaja, Direktur GEN-A, Imam Maulana, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membangun peran aktif santri sebagai agen perubahan di lingkungan dayah. Ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas melalui pendekatan partisipatif diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga mendorong lahirnya inisiatif nyata dari peserta dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman, suportif, dan bebas dari perundungan. Ke depan, inisiatif ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun sistem perlindungan santri yang berkelanjutan serta memperkuat peran mereka sebagai agen perubahan di lingkungan dayah.

ya