BANDA ACEH – Penanews.co.id – Kanker serviks atau kanker leher rahim tetap menjadi ancaman kesehatan yang mematikan bagi kaum perempuan di Indonesia.
Indonesia kini menempati peringkat ketiga dunia jumlah kasus kanker serviks. Berdasarkan data terbaru, diperkirakan muncul 36.000 hingga 36.964 kasus baru setiap tahunnya, atau setara dengan 88 hingga 98 wanita yang terdiagnosis setiap hari.
Kematian akibat kanker serviks di Indonesia mencapai 20.000 hingga 21.000 jiwa per tahun. Secara statistik, rata-rata 54 hingga 57 wanita meninggal dunia setiap harinya akibat penyakit ini.
Tingginya angka kematian tersebut ditengarai akibat rendahnya deteksi dini. Tercatat sekitar 70% kasus baru ditemukan sudah memasuki stadium lanjut. Keterlambatan diagnosis ini secara signifikan menurunkan peluang kesembuhan pasien sekaligus memperburuk risiko kematian di tanah air.
Pakar Obstetri dan Ginekologi dari RSU Hermina Banda Aceh, dr. Meutya Handiny, Sp.OG, menegaskan bahwa penyakit ini bukan sekadar statistik medis, melainkan ancaman nyata yang sering kali muncul tanpa gejala awal yang jelas.
Menurut dokter yang akrab disapa dr. Diny ini, penyebab utama kanker serviks adalah infeksi persisten Human Papillomavirus (HPV). Penularannya umumnya terjadi melalui kontak kulit ke kulit saat aktivitas seksual. Risiko akan meningkat drastis pada individu dengan gaya hidup kurang sehat, seperti merokok, serta mereka yang memiliki sistem imun lemah.
“Kanker serviks adalah ‘pembunuh senyap’ yang sering kali datang tanpa gejala. Masalah serius muncul saat virus HPV menetap lama dan perlahan mengubah sel sehat menjadi sel kanker,” ujar dr. Diny. Banda Aceh, Minggu (10/05/2026).
Meski termasuk jenis kanker yang paling bisa dicegah, dr. Diny mengakui adanya tembok besar dalam upaya mitigasi di masyarakat. Budaya malu dan stigma negatif terkait pemeriksaan organ intim masih menjadi kendala utama. Banyak perempuan enggan menjalani skrining karena merasa tabu atau takut dianggap tidak menjaga kebersihan diri.
Selain faktor sosial, kendala biaya untuk prosedur pemeriksaan seperti Pap Smear atau tes HPV DNA juga sering kali membuat para perempuan menunda deteksi dini. Padahal, biaya pengobatan saat kanker sudah mencapai stadium lanjut jauh lebih besar dan menguras energi serta ekonomi keluarga.
Masyarakat diminta lebih peka terhadap sinyal tubuh, seperti pendarahan tidak wajar di luar siklus haid, pendarahan pasca-hubungan intim, keputihan berbau tajam atau bercampur darah, hingga nyeri panggul kronis. dr. Diny mengingatkan agar para perempuan tidak menunggu gejala memburuk sebelum mencari bantuan medis.
“Jangan tunggu sampai muncul nyeri hebat. Lebih baik sedikit ‘repot’ melakukan pemeriksaan rutin sekarang, daripada menyesal saat kondisi sudah masuk stadium lanjut,” tegasnya.
Sebagai langkah preventif, dr. Diny menekankan tiga pilar utama yakni Vaksinasi HPV sejak dini (sebelum aktif secara seksual), kemudian Skrining Rutin (Pap Smear atau tes IVA) bagi yang sudah aktif secara seksual dan terakhir Penerapan Pola Hidup Sehat.
“Vaksinasi HPV adalah investasi masa depan. Melakukan Pap Smear ibarat inspeksi mesin; lebih baik menemukan kendala kecil sekarang daripada menghadapi kerusakan fatal nantinya. Dengan deteksi dini, kita bisa memutus rantai perkembangan virus ini demi terus hadir bagi keluarga tercinta,” tuturnya.
“Saat ini fasilitas pemeriksaan IVA tersedia diseluruh puskesmas, sementara untuk pemeriksaan Papsmear dan vaksinasi HPV sudah tersedia di RS Hermina Banda Aceh,” pungkas dr. Diny.
Skip to content





