BANDA ACEH – Penanews.co.id – Kondisi finansial Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) kini tengah menjadi sorotan tajam. Anggota DPR Aceh, Munawar AR, membeberkan bahwa rumah sakit plat merah tersebut sedang memikul beban utang yang sangat besar, yakni mencapai Rp 392 miliar. Dia khawatir kondisi itu dapat mengancam pelayanan di rumah sakit milik Pemerintah Aceh itu jadi lumpuh
Sebelumnya kekosongan beberapa jenis obat di Rumah Sakit pendidikan Tiap A di Aceh itu sudah terjadi sejak November 2015
Lampu kuning ini dinyalakan Munawar dalam rapat kerja Tim Panitia Khusus (Pansus) LKPJ Dewan Perwakilan Rakyat Aceh bersama Direktur RSUZA di Ruang Serbaguna DPRA, Rabu (6/5).
Munawar menegaskan bahwa rumah sakit kebanggaan masyarakat Aceh ini sedang dalam kondisi keuangan yang tidak baik baik saja
“Kalau kondisi ini tidak segera ditangani, dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat. Pelayanan kesehatan terancam, bahkan bisa memengaruhi keselamatan pasien,” kata Munawar dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).
Pemerintah Aceh diminta segera mengambil langkah cepat dan konkret untuk menyelamatkan kondisi rumah sakit plat merah tersebut. RSUD berlokasi di Banda Aceh itu disebut memiliki peran vital sebagai pusat rujukan bagi seluruh kabupaten dan kota di Tanah Rencong.
Sebagai langkah tindak lanjut, Munawar menuntut dilakukannya pemeriksaan keuangan secara mendalam melalui audit menyeluruh, baik dari pihak internal maupun eksternal. Langkah ini dianggap krusial untuk membedah secara transparan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar keuangan RSUDZA. Tujuannya jelas: menemukan akar masalah atau “penyakit” utama yang menyebabkan beban utang rumah sakit terus membengkak tanpa kendali.”Perlu ada penelusuran mendalam untuk mengetahui mengapa utang ini bisa menumpuk sedemikian besar. Audit ini adalah kunci untuk mencari solusi permanen,” pungkasnya.
Munawar mendesak adanya audit keuangan menyeluruh, baik internal maupun eksternal untuk menemukan akar masalah atau “penyakit” utama yang menyebabkan beban utang rumah sakit terus membengkak tanpa kendali.
“Kami melihat perlu ada audit mendesak. Harus diketahui secara terbuka di mana letak persoalannya. Kami meyakini ada kesalahan manajerial sehingga akumulasi persoalan itu berujung pada utang yang sangat besar,” Jelas pria yang akrab disapa Ngoh Wan.
Menurutnya langkah ini dianggap krusial untuk membedah secara transparan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar keuangan RSUDZA.
Ngoh Wan, menyebutkan, pihaknya memperoleh informasi bahwa persoalan arus kas paling serius terjadi pada sektor pengadaan obat-obatan dan bahan habis pakai medis. Situasi itu dinilai sangat mengkhawatirkan apalagi jika sampai berdampak pada terganggunya stok obat di rumah sakit rujukan terbesar di Aceh tersebut.
Ngoh Wan, menyebutkan berdasarkan data yang diperoleh titik paling krusial dari krisis finansial yang melanda RSUDZA, terjadi pada pos pengadaan obat-obatan serta bahan medis habis pakai, situasi ini sangat mengkhawatirkan. Sebagai pusat rujukan terbesar di Aceh, RSUDZA tidak boleh sampai kehabisan stok obat karena kendala biaya, sebab itu jantung dari pelayanan medis,”
“Cash flow terjadi di sektor obat-obatan dan bahan habis pakai medis. Ini sangat berbahaya jika sampai terjadi kekosongan obat di RSUDZA. Rumah sakit ini menjadi tempat rujukan masyarakat dari seluruh Aceh,” ujar anggota Badan Anggaran DPRA itu.
Menurut Politikus PKB itu, persoalan RSUDZA tidak boleh dipandang semata sebagai masalah administrasi keuangan. Lebih dari itu, kondisi tersebut menyangkut keberlangsungan layanan kesehatan masyarakat Aceh secara keseluruhan.
“Karena itu, kami mendesak Pemerintah Aceh segera turun tangan melakukan langkah penyelamatan agar pelayanan medis tetap berjalan optimal dan masyarakat tidak menjadi korban dari buruknya tata kelola keuangan rumah sakit,” uangkapnya Munawar.
Sebelumnya diberitakan media ini Hampir tiga bulan Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin (RSUDZA) Banda Aceh mengalami krisis obat. Hal ini diungkapkan oleh seorang pasien yang mengantri obat di Instalasi Farmasi Rumah sakit itu.
Dari pantauan Penanews.co.id pada Selasa (27/01/2026) di Instalasi Farmasi RSUDZA bagi pasien atau keluarga pasien yang mengantri mengambil obat sesuai dengan nomor antrian tidak semua obat yang diresepkan dokter di poli rawat jalan dia dapatkan. Obat yang tidak tersedia di Instalasi Farmasi itu oleh petugas loket diminta untuk mengambil pada Apotek Kimia Farma yang berbeda di sisi tengah Rumah sakit Tipe A itu.
Dengan bermodal selembar kertas resep dan striker obat pasien dengan patuhnya mendatangi apotek Kimia Farma itu.
Sesampainya di Apotek Kimia Farma Pasien harus antri lagi, Penanews.co.id, ada lebih kurang 35 orang yang antri dalam dua barisan, satu selesai dilayani antrin dibelakang bertambah lagi dan lagi.

Pasian yang mendatangi apotek Kimia Farma itu, tidak semua mendapatkan obat, di apotek ini juga diminta untuk menunggu sampai obat tersedia.
“Sudah dua tempat kita antri lama, masih juga tidak kebagian obat, ungkap seorang pasien.
“Disuruh tunggu kali sudah ada nanti dihubungi kalau obat sudah tersedia,” Sambungnya.
“Ini dikasih selembar kertas untuk dibawa saat ambil obat kalau sudah tersedia, kertas ini ga menyembuhkan” gerutunya, sambil menunjukkan selembar kertas dari apotek.
Seorang pasien lain mengungkapkan Krisis obat di rumah sakit ini sudah sejak akhir Nopember 2025 lalu.
“Obat tidak ada di apotek rumah Sakit sudah dari Nopember lalu” ungkap seorang ibu dari keluarga pasien yang enggan disebut namanya.
“Diapotek ini kadang juga kosong” kalau kosong terpaksa kami beli diluar beberapa biji demi anak, ” ungkap ibu berbaju biru muda itu.
Krisis Obat di RSUDZA itu dibenarkan oleh Plt Direktur dr.Hanif
“Ia benar” jawabnya singkat saat dikonfirmasi Penanews.co.id melalui pesan WhatsApp, Rabu (28/01/2026)
Skip to content





