BANDA ACEH – Penanews.co.id – Hipertensi tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 10,7 persen penduduk Indonesia usia 18–24 tahun tercatat mengalami tekanan darah tinggi. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa penyakit yang selama ini dikenal sebagai silent killer kini semakin dekat dengan generasi muda.
Menjawab tantangan tersebut, Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) melalui subunit GrowInt & PHI, berkolaborasi dengan Youth for Planetary Health menggelar webinar World Hypertension Day 2026 bertema “The Silent Killer in Young Blood: Understanding Hypertension in Young Generations Through Clinical, Psychological, Preventive, and Planetary Health Perspectives”, Minggu (17/5/2026), secara daring melalui Zoom Meeting.
Direktur Eksekutif GEN-A, dr. Imam Maulana, melalui press releasenya melaporkan, kegiatan ini diikuti oleh 105 peserta yang terdiri atas mahasiswa, tenaga kesehatan, dokter muda, kader kesehatan, peneliti, dan aktivis pemuda dari berbagai daerah di Indonesia.
“Webinar ini menjadi ruang diskusi lintas disiplin yang mengangkat hipertensi pada generasi muda dari perspektif klinis, kesehatan mental, pencegahan sejak dini, hingga kesehatan planet (planetary health),” sebutnya.
Imam menuturkan bahwa hipertensi pada anak muda perlu dilihat sebagai isu kesehatan yang semakin kompleks.
“Selama ini banyak anak muda merasa hipertensi bukan masalah mereka karena tidak merasakan gejala. Padahal tekanan darah tinggi dapat diam-diam merusak organ vital sejak usia produktif. Karena itu, pencegahan harus dimulai lebih dini, lebih holistik, dan lebih dekat dengan bahasa generasi muda,” ujar Imam.
Pendiri Youth for Planetary Health yang berbasis di Amerika Serikat, Vildan Soguktas, dalam sajian materinya menyoroti keterkaitan antara kesehatan jantung generasi muda dan kondisi lingkungan global.
Ia menjelaskan bahwa kasus hipertensi pada anak dan remaja di dunia hampir meningkat dua kali lipat sejak tahun 2000, namun sebagian besar masih belum terdiagnosis.
Menurut Vildan, polusi udara, paparan bahan kimia beracun, urbanisasi, minimnya ruang aktivitas fisik, hingga perubahan iklim kini menjadi faktor risiko baru yang ikut memengaruhi kesehatan kardiovaskular generasi muda.
“Melindungi kesehatan planet berarti melindungi kesehatan jantung anak-anak. Hipertensi pada generasi muda bukan lagi sekadar masalah individu, tetapi refleksi dari sistem lingkungan dan kebijakan yang kita bangun,” ujarnya.
Dari perspektif klinis, dr. Desi Salwani, Sp.PD-KGH, dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi dari RSUD dr. Zainoel Abidin–Universitas Syiah Kuala, menekankan bahwa hipertensi pada usia muda sangat mungkin dicegah melalui perubahan gaya hidup yang terukur.
Ia memaparkan bahwa penurunan berat badan rata-rata lima kilogram dapat menurunkan tekanan darah sistolik hingga 4,4 mmHg dan diastolik 3,6 mmHg.
“Hipertensi pada anak muda sering tidak bergejala, tetapi dampaknya bisa mengenai ginjal, jantung, dan pembuluh darah. Kabar baiknya, perubahan sederhana seperti menjaga berat badan ideal, mengurangi garam, aktif bergerak, dan memperbaiki pola makan dapat memberikan dampak klinis yang nyata,” kata Desi.
Sementara itu, dr. Asti Yuliadha, Sp.KJ, psikiater dari RS Pendidikan Universitas Syiah Kuala, menjelaskan bahwa kesehatan mental memiliki hubungan biologis yang nyata dengan tekanan darah.
Menurutnya, ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan mengaktifkan sistem saraf simpatis yang memicu pelepasan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol, sehingga denyut jantung meningkat, pembuluh darah menyempit, dan tekanan darah ikut naik.
“Masalahnya bukan pada satu momen stres, tetapi ketika stres terjadi berulang dan tidak dikelola dalam jangka panjang. Stres kronis dapat menjadi faktor risiko hipertensi pada usia muda,” ujarnya.
Dari aspek pencegahan sejak dini, dr. Laxmi Nurul Suci, Sp.A, dokter spesialis anak, menekankan bahwa hipertensi sebenarnya dapat dikenali lebih awal, bahkan sejak masa anak-anak.
Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan tekanan darah idealnya mulai dilakukan secara rutin sejak anak berusia di atas tiga tahun, terutama pada anak dengan faktor risiko seperti obesitas, riwayat keluarga hipertensi, kurang aktivitas fisik, atau pola makan tinggi garam.
“Banyak orang tua mengira tekanan darah hanya perlu diperiksa saat dewasa. Padahal pada anak, deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang,” ujarnya.
Selain sesi ilmiah, kegiatan ini juga menghadirkan sesi Youth Voice and Perspective yang menampilkan dr. Liesa Sufani, Muhammad Afriansyah (Duta Pemuda Indonesia 2025 Provinsi Jambi), dan Hasna Nadiyya (Youth Health Educator TaKasi-SeRa GEN-A), yang berbagi pengalaman tentang peran anak muda dalam membangun budaya hidup sehat di lingkungan sebaya.
Koordinator Public Health Innovators (PHI) GEN-A, Ns. Rifa’ Nadhifatusysyarfi, S.Kep, menegaskan bahwa upaya pencegahan hipertensi pada generasi muda perlu dimulai dari ruang-ruang terdekat, seperti keluarga, sekolah, kampus, dan komunitas.
“Hipertensi sering datang tanpa gejala, sehingga edukasi kesehatan tidak bisa menunggu seseorang sakit. Anak muda perlu dibekali literasi kesehatan, keterampilan mengambil keputusan sehat, dan keberanian menjadi role model di lingkungannya,” ujarnya.
Menurut Rifa’, pendekatan kesehatan masyarakat yang melibatkan pemuda sebagai peer educator akan lebih efektif dalam membangun perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Imam mengatakan, keterlibatan generasi muda menjadi kunci dalam mengubah hipertensi dari sekadar isu medis menjadi gerakan promotif dan preventif yang lebih luas.
“Anak muda bukan sekadar kelompok berisiko, tetapi juga bagian dari solusi. Ketika mereka memahami kesehatan tubuh, kesehatan mental, dan kesehatan planet sebagai satu kesatuan, maka pencegahan penyakit tidak lagi bersifat individual, tetapi menjadi gerakan kolektif,” kata Imam.
Melalui webinar ini, GEN-A berharap semakin banyak generasi muda yang memahami pentingnya deteksi dini, pengelolaan stres, pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, serta kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari upaya mencegah hipertensi sejak usia muda. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals).[]
Skip to content





