BERLIN – Penanews.co.id – Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier telah mengambil sikap tegas dan berprinsip terhadap agresi militer gabungan ilegal oleh Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap Republik Islam Iran, menggambarkan konflik tersebut sebagai “perang yang benar-benar dapat dihindari dan tidak perlu.”
Pada hari Kamis (21/05/2026), Steinmeier menyoroti bagaimana penghancuran sepihak oleh pemerintahan Trump terhadap perjanjian nuklir tahun 2015 membuka jalan bagi eskalasi dan ketidakstabilan saat ini di kawasan Asia Barat.
Menurut media Jerman, Steinmeier menyampaikan pernyataan tersebut dalam pidato penting kepada para diplomat Jerman dan pada acara peringatan 75 tahun Kementerian Luar Negeri Jerman.
Ia secara langsung menyinggung Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015, menyatakan bahwa akan lebih baik jika perjanjian tersebut dipertahankan, dan menekankan.
“Jika perjanjian tahun 2015 dengan Iran dipertahankan, maka konsekuensi yang kita saksikan saat ini dapat dicegah,” ungkapnya.
Steinmeier, yang secara pribadi terlibat dalam negosiasi JCPOA sebagai menteri luar negeri, dengan blak-blakan menyebut perang itu sebagai “kesalahan politik yang membawa bencana” dan “kekeliruan politik yang fatal,” tegasnya.
Presiden Jerman mencatat bahwa pembenaran AS atas agresinya “tidak masuk akal” dan merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
Ia mengatakan kepada para diplomat bahwa mempertahankan JCPOA telah memberikan kemajuan nyata menuju stabilitas, sementara penarikan AS di bawah Presiden Trump pada masa jabatan pertamanya dan petualangan militer berikutnya pada masa jabatan keduanya telah menyebabkan situasi berbahaya yang telah lama diperingatkan oleh Iran.
Pernyataan Presiden Steinmeier merupakan keretakan signifikan dalam kedok dukungan Barat terhadap aliansi AS-Israel.
Dengan secara terbuka mengakui bahwa perang tersebut dapat dihindari dan bahwa mempertahankan JCPOA dapat mencegah krisis saat ini, kepala negara Jerman secara efektif telah memvalidasi posisi konsisten Republik Islam Iran.
Teheran mengatakan bahwa diplomasi dan penghormatan terhadap hak kedaulatan Iran, bukan sanksi dan bom, adalah jalan menuju perdamaian dan keamanan regional.
Intervensi terus terang presiden Jerman ini merupakan bukti lebih lanjut dari semakin meningkatnya isolasi internasional terhadap para agresor.
Republik Islam selalu memenuhi komitmennya terhadap JCPOA, sebagaimana berulang kali dikonfirmasi oleh IAEA, sementara rezim Zionis dan Washington berulang kali melanggar perjanjian dan hukum internasional melalui pembunuhan, sabotase, dan sekarang agresi militer terang-terangan.[]
Skip to content




