BANDA ACEH – Penanews.co.id – Analis geopolitik, Prof. Jiang Xueqin, menilai bahwa Iran berpotensi mengungguli Amerika Serikat dalam perang Timur Tengah apabila konflik berkembang menjadi perang yang berkepanjangan.
Menurut Jiang, keunggulan Iran tidak hanya terletak pada kemampuan militernya, tetapi juga pada penerapan strategi perang asimetris serta letak geografisnya yang sangat strategis di kawasan Teluk.
“Iran dapat memanfaatkan strategi perang biaya rendah untuk melemahkan kekuatan Amerika Serikat yang jauh lebih mahal,” ujar Prof Jiang Xueqin dalam analisisnya di channel YouTube pribadinya, dikutip dari BeritaSatu, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa Iran kerap memanfaatkan drone dan rudal berbiaya relatif murah dalam operasinya. Sementara itu, sistem pertahanan Amerika Serikat harus menggunakan interceptor bernilai jutaan dolar untuk mencegat serangan tersebut, sehingga menciptakan ketimpangan biaya dalam menghadapi ancaman itu.
“Drone dan rudal Iran bisa menelan biaya sekitar puluhan ribu dolar, sementara interceptor Amerika bisa bernilai jutaan dolar. Dalam perang jangka panjang, ini bisa menguras persenjataan Amerika,” katanya.
Selain faktor militer, Jiang juga menyoroti dampak geopolitik yang lebih luas jika Amerika Serikat mengalami kekalahan dalam konflik tersebut.
Menurutnya, kekalahan AS dapat mengguncang dominasi ekonomi global yang selama ini ditopang oleh sistem petrodolar, yaitu perdagangan minyak dunia yang menggunakan dolar AS.
“Sebuah kekalahan Amerika dapat mengakhiri era petrodolar dan mempercepat perubahan menuju tatanan dunia multipolar,” ujar Jiang.
Prof. Jiang Xueqin juga menilai bahwa dalam skenario konflik berkepanjangan, negara-negara besar seperti China dan Rusia berpeluang meningkatkan pengaruh geopolitik mereka di tingkat global.
Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah, tidak sedikit kekuatan besar yang mengalami kemunduran karena terlalu percaya diri ketika terlibat dalam perang yang ternyata sulit dimenangkan.
Menurut Jiang, konflik dengan Iran berpotensi menjadi contoh bagaimana negara kuat dapat terseret ke dalam perang yang panjang, melelahkan, dan memerlukan biaya besar, terutama ketika berhadapan dengan pihak yang memiliki keunggulan geografis serta strategi pertahanan yang efektif.
Meski demikian, Jiang menegaskan bahwa hasil akhir dari konflik semacam itu masih sangat ditentukan oleh tingkat eskalasi yang terjadi serta kemungkinan keterlibatan kekuatan global lainnya.[]
Direkomendasikan untuk anda baca ini juga 👇
Skip to content





