KOTA JANTHO – Penanews.co.id – Penunjukan Ir. Yusmadi, MM sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PDAM Tirta Mountala, Kabupaten Aceh Besar, oleh Bupati Muharram Idris pada Kamis, 5 Februari 2026, menjadi sorotan tajam di tengah keluhan masyarakat terkait kualitas air.
Mutasi pucuk pimpinan ini diharapkan mampu membawa angin segar bagi pelayanan air bersih yang selama ini kerap diwarnai problematika klasik: air keruh, khususnya saat musim penghujan tiba.
Selama bertahun-tahun, PDAM Tirtamontala dihadapkan pada tantangan berulang yang meresahkan pelanggan setianya. Setiap kali hujan deras mengguyur, terutama dalam intensitas tinggi dan durasi panjang, pasokan air dari PDAM otomatis berubah warna menjadi kecoklatan dan berbau lumpur. Kondisi ini bukan lagi fenomena musiman, melainkan menjadi “tradisi” yang diterima dengan pasrah oleh sebagian besar warga.
Menyoroti kondisi ini, Mantan Ketua Fraksi Partai Golkar DPRK Aceh Besar periode 2004-2009, Hamidi Usman, menyoroti buruknya kualitas air PDAM Tirtamontala Aceh Besar yang keruh dan berlumpur saat musim hujan.
Menurutnya, kondisi air yang mirip irigasi sawah ini sudah berlangsung lama dan sulit diatasi oleh direktur utama PDAM manapun, berbanding terbalik dengan PDAM Tirta Daroy Banda Aceh yang mampu menjaga kualitas air tetap jernih sepanjang tahun.
Hamidi Usman mengungkapkan, kekeruhan air PDAM Tirtamontala tidak hanya mengganggu, tetapi juga merusak fasilitas rumah tangga.
“Bayangkan, granit putih di kamar mandi berubah kuning kecokelatan setelah mandi, apalagi jika tak dibersihkan selama empat hari—endapan kuning menumpuk tebal,” jelasnya, menggambarkan dampak langsung yang dirasakan masyarakat, Selasa (24/02/2026).
Ia menekankan pentingnya kualitas air bagi seorang direktur PDAM yang kompeten. “Seorang direktur PDAM yang kompeten tidak boleh hanya fokus pada ketersediaan air, tapi juga kualitasnya. Minimal, usahakan agar saat musim hujan air tidak keruh seperti air irigasi sawah,” ujarnya.
Hamidi yang juga Imuem Mukim Lam Ara mengenang pengalamannya saat menjabat di DPRK Aceh Besar. Kala itu, Dirut PDAM Tirtamontala, Pak Ayub, mengajukan kenaikan tarif air untuk meningkatkan pendapatan daerah. Namun, kenaikan tersebut membuat harga air Tirtamontala kalah bersaing dengan PDAM Tirta Daroy, padahal Tirta Daroy menawarkan kualitas air yang jauh lebih baik.
“Dulu, saat saya ketua fraksi, Dirut Pak Ayub minta persetujuan DPRD untuk naikkan tarif demi pendapatan daerah. Tapi, harga jadi kalah saing dengan PDAM Tirta Daroy, padahal kualitas mereka lebih baik, jernih sepanjang musim, hanya beda tipis,” kenangnya.
Menyikapi permasalahan ini, Hamidi Usman memberikan saran tegas kepada Direktur Utama PDAM Tirtamontala yang baru.
“Prioritas utama seharusnya menjamin kualitas air prima bagi seluruh masyarakat Aceh Besar. Pastikan air tetap jernih dan bebas lumpur, terutama saat musim hujan. Ambil pelajaran dari PDAM Tirta Daroy di Banda Aceh, yang konsisten menyediakan air berkualitas tinggi sepanjang tahun, dengan tingkat kekeruhan minimal bahkan di cuaca ekstrem. Ini standar yang harus dicapai PDAM Tirtamontala,” ujarnya.
Ia menambahkan peran PDAM bukan hanya sekedar sebagai lembaga distributor air, tetapi menjaga kepercayaan publik jauh penting dan utama.
“PDAM bukan sekadar lembaga distributor air, tapi juga berfungsi sebagai penjaga kepercayaan publik. Jangan biarkan warga terus menerima air yang berkualitas buruk dan merusak fasilitas rumah tangga dan sebabkan ketidaknyamanan,” tambahnya.
Terakhir mantan aktivis kepemudaan di Aceh Besar ini mengharapkan agar PLH Dirut PDAM konkret memperbaiki kinerja lembaga tersebut
“Saya berharap Dirut baru dapat mengambil langkah-langkah konkret dan inovatif demi konsumen pelanggan PDAM Tirta Mountala Aceh Besar,” pungkasnya.[]
Direkomendasi untuk anda 👇





