KAIRO – Penanews.co.id – Sebuah rekaman video yang beredar di media sosial dan membicarakan tentang status kedua orang tua Nabi Muhammad SAW menuai konflik serta memancing reaksi keras dari umat Islam di Mesir.
Menanggapi hal tersebut, Pusat Fatwa Elektronik Al-Azhar bergerak cepat dengan memberikan klarifikasi. Lembaga tersebut menegaskan bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad SAW termasuk golongan yang selamat, sekaligus mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan pernyataan yang dapat memancing keresahan dan melukai perasaan umat Islam.
Mengutip Republika.com, Pusat Fatwa Elektronik Al-Azhar mengatakan, pendapat yang telah disepakati oleh para ulama umat Islam terdahulu dan masa kini adalah bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad SAW selamat dan mereka bukanlah penghuni neraka.
Hal ini telah disepakati oleh semua mazhab Islam yang diikuti, dan para ulama Al-Azhar telah mengamininya sepanjang zaman.
Lembaga ini pun lantas mengeluarkan beberapa dalil penguat tentang kedua orang tua Nabi Muhammad SAW selamat dan tidak masuk neraka yang dilansir secara resmi pada Jumat (13/2/2026), dikutip dari Masrawy sebagai berikut:
Pertama, mereka termasuk golongan orang-orang yang hidup di masa kevakuman risalah nabi (ahlul fatrah), yaitu setelah Nabi Isa alaihissalam dan sebelum diutusnya Rasulullah Muhammad SAW. Siapa pun yang meninggal tanpa menerima seruan pada masa ini, maka dia selamat. Allah SWT berfirman:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
“..dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS al-Isra: 15)
Kedua, dan mereka berdua menganut agama Islam yang luhur, agama Nabi Ibrahim AS.
Ini merujuk al-Syua’ara ayat 219. Selain itu, hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam al-Suyuthi dalam al-Jami’ al-Kabir juga menguatkannya.
لم يزلِ الله ينقلني من الأصلاب الحسنة إلى الأرحام الطاهرة، مُصفّى مهذبًا، لا تتشعب شعبتان إلا كنت في خيرهما
“Allah terus memindahkan saya dari rahim yang baik ke rahim yang suci, disaring dan disucikan, tidak ada dua cabang kecuali saya berada di yang terbaik dari keduanya.”
Ketiga, Allah SWT telah menganugerahi Nabi ﷺ dengan menghidupkan kembali kedua orang tuanya agar mereka percaya kepadanya.
Sejumlah ahli hadis telah menyatakan bahwa hadis-hadis tentang penghidupan kembali –meskipun dalam sanadnya terdapat kelemahan—diperkuat oleh keseluruhan riwayatnya, dan diriwayatkan dalam kitab-kitab tentang keutamaan amal.
Keempat, dalam keyakinan orang tua Nabi ﷺ dan keselamatan mereka, serta keridhaan Nabi ﷺ, hal ini dibuktikan dengan apa yang disebutkan oleh Imam Thabari dalam “Tafsirnya” mengutip pendapat Ibnu Abbas saat menafsirkan ayat adl-Dhuha ayat 5 yaitu sebagai berikut:
من رضا محمد صلى الله عليه وآله وسلم أن لا يدخل أحدٌ من أهل بيته النار
“Dari keridhaan Nabi Muhammad SAW yaitu hendaknya tidak masuk neraka satu pun dari keluarganya.”
Kelima, sejumlah ulama besar telah menyusun berbagai macam referensi yang memuat tentang pembuktian bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari neraka. Antara lain Imam al-Suyuthi yang menulis secara khusus 6 kitab tentang topik ini.
Dan yang menyakitkan bagi setiap Muslim yang mencintai Nabi Muhammad ﷺ adalah ketika orang-orang yang bermaksud jahat seperti ini memanfaatkan kisah ini untuk memprovokasi perasaan umat Islam dengan merendahkan kedudukan kedua orang tua Nabi ﷺ atau menghina mereka.
Padahal Nabi ﷺ adalah orang yang paling berbakti kepada kedua orang tuanya dan paling mencintai mereka.
Para ulama juga memperingatkan agar tidak berbicara dengan tidak sopan dalam hal ini. Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَاببًا مُهِينًا
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS al-Ahzab: 57)
Oleh karena itu, mengangkat masalah ini dengan tujuan untuk memprovokasi, membalas dendam, atau menyatakan kebencian terhadap orang tua Nabi ﷺ, baik untuk tujuan mencari popularitas atau tujuan lain, merupakan pelanggaran terhadap etika syariat yang berlaku.
Bahkan, hal itu merupakan tindakan yang membahayakan iman terhadap Rasulullah ﷺ dan risalahnya. Hal ini juga merupakan tindakan yang menyakiti dan menyerang perasaan hampir dua miliar umat Islam, yang semuanya menghormati Rasulullah ﷺ dan menghargai segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
Al-Azhar International Fatwa Council menegaskan bahwa semua Muslim wajib bersikap sopan terhadap kedudukan kenabian, menjauhi hal-hal yang tidak berguna kecuali perselisihan, menyerahkan masalah-masalah ilmiah kepada para ahli ilmu yang berspesialisasi di bidangnya, dan bekerja untuk menyatukan dan mempersatukan, bukan untuk memicu perselisihan dan pertikaian.





