DI tengah kegelapan yang masih menyelimuti sebagian besar wilayah Aceh, suara kecewa warga semakin keras terdengar. Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyatakan pemulihan listrik di Aceh telah mencapai 93 persen menjadi titik sentral kemarahan yang tidak dapat disangkal.
Sebuah angka yang seharusnya memberikan harapan, malah menjadi pemicu kebencian karena realitas di lapangan jauh dari apa yang diumumkan.
Jika kita mau melihat dengan jujur, kondisi listrik di Aceh saat ini masih jauh dari layak. Data potensi suplai listrik yang ada hanya berkisar antara 60 hingga 70 persen, dan di ibu kota provinsi, Banda Aceh, angka itu bahkan lebih parah: hanya 35 hingga 40 persen.
Bayangkan, warga yang setiap hari harus berjuang dengan gelap gulita yang datang tanpa pemberitahuan, sementara di tingkat nasional (pemerintah pusat), mengumumkan keberhasilan yang seolah-olah sudah sempurna.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apa yang salah, Pak Bahlil? Apakah Anda benar-benar tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya di lapangan, atau angka-angka itu hanya upaya untuk menyenangkan Presiden dengan gambaran yang menyenangkan namun tidak akurat?
Kita semua, tanpa terkecuali, menginginkan pemulihan listrik di Aceh secepat mungkin. Aceh yang baru saja melewati masa-masa sulit membutuhkan dukungan nyata untuk bangkit kembali, dan listrik adalah tulang punggung dari semua aktivitas kehidupan. Tapi harapan itu tidak akan pernah terwujud jika pernyataan pemerintah terus tidak sesuai dengan realitas.
Ketidaksesuaian ini tidak hanya membuat Aceh merasa dikecewakan dan ditinggalkan, melainkan juga mempertanyakan kredibilitas seluruh lembaga pemerintah dalam menangani bencana dan kebutuhan dasar warga. Bahkan petugas PLN yang bekerja keras di lapangan, bersusah payah menghubungkan saluran listrik di tengah kondisi yang sulit, terkena imbas buruk dari pernyataan itu.
Mereka yang seharusnya mendapatkan apresiasi malah berisiko menghadapi reaksi frustasi warga yang merasa ditipu oleh angka-angka yang bohong.
Apakah Anda pernah berfikir, bagaimana sulitnya warga hidup tanpa listrik yang stabil? Anak-anak yang tidak bisa belajar dengan baik karena tidak ada cahaya, padahal anak- anak di Aceh saat ini sedang menghadapi ujian smester ganjil, masa depan mereka terancam.
Sisi lain, Pedagang yang tidak bisa menjalankan usaha karena mesin tidak bisa berjalan, membuat pendapatan mereka menurun dan kehidupan keluarga terganggu.
Pasien yang membutuhkan perawatan medis dengan peralatan yang bergantung pada listrik harus menghadapi risiko nyawa karena ketidakstabilan pasokan.
Kita tidak meminta Anda untuk membuat janji-janji kosong atau memberikan angka-angka yang tidak akurat. Yang kita minta hanyalah kebenaran dan tindakan nyata. Kita meminta Anda untuk turun ke lapangan, mendengarkan suara warga, dan memahami betul kesulitan yang mereka alami.[]





