Fenomena Berfoto di Replika Hajar Aswad: Dokumentasi Kehilangan Nilai Kejujuran

by
Ilustrasi Hajar Aswad| Foto Ist

MENCIUM Hajar Aswad merupakan harapan banyak jamaah haji dan umrah. Namun, kesempatan tersebut tidak selalu dapat diraih oleh setiap orang. Kepadatan jamaah, antrean panjang, serta keterbatasan kondisi fisik sering kali menjadi penghalang.

Oleh karena itu, sebagian jamaah memilih mengabadikan momen di sekitar Ka’bah sebagai bentuk dokumentasi dan kenangan atas ibadah yang telah dilaksanakan. Dokumentasi perjalanan ibadah memiliki nilai penting bagi jamaah.

Foto dan video dipandang sebagai bukti kehadiran di Tanah Suci. Keluarga dan kerabat di tanah air kerap menantikan cerita sekaligus visual perjalanan tersebut. Dari kebutuhan inilah muncul fenomena baru di tengah masyarakat tanah suci Makkah.

Belakangan, beredar luas jasa foto dengan replika Hajar Aswad. Jamaah difoto seolah sedang mencium Hajar Aswad yang asli. Pengaturan pose, sudut pengambilan gambar, dan latar dibuat sedemikian rupa sehingga tampak meyakinkan.

Foto tersebut kemudian dibawa pulang dan diperlihatkan kepada orang lain seakan-akan benar-benar pernah mencium Hajar Aswad.

Video Pada dasarnya, dokumentasi perjalanan ibadah termasuk perkara yang mubah. Foto dapat menjadi sarana untuk mengenang momen ibadah atau sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah atas kesempatan mengunjungi Baitullah.

Akan tetapi, esensi dokumentasi adalah merekam realitas yang benar-benar terjadi. Ketika yang direkam justru sebuah rekayasa, lalu dipresentasikan sebagai kejadian nyata, dokumentasi tersebut telah berubah menjadi bentuk manipulasi. Orientasinya tidak lagi sebatas pengingat bagi diri sendiri, melainkan untuk membangun kesan tertentu di hadapan orang lain. Pada titik ini, dokumentasi kehilangan nilai kejujurannya dan bergeser menjadi kebohongan visual.

Islam menempatkan kejujuran sebagai fondasi utama akhlak.

Berfoto dengan replika Hajar Aswad, lalu memperlihatkannya kepada orang lain dengan narasi seolah-olah peristiwa tersebut nyata, termasuk perbuatan dusta.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dusta merupakan salah satu tanda kemunafikan. Beliau bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya; “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa perbuatan dusta akan mengantarkan seseorang kepada kejahatan, sedangkan kejahatan berujung pada siksa neraka. Beliau bersabda:

عَليكم بالصِدْقِ فإنً الصًدقَ يهدِى إلى البِرً، وإنً البرً يهدى إلى الجنًةِ وإيـَّاكم والكَذِبَ فإنً الكذِبَ يَهٔدِى إلى الفُجُورِ، وإنً الفُجورَ يهدى إلى النًار

Artinya, “Hendaknya kalian jujur karena jujur menuntun kepada kebaikan. Kebaikan menuntun ke surga. Jauhilah bohong karena bohong menuntun kepada kejahatan. Kejahatan menuntun ke neraka.” (HR Bukhari)

Dalam konteks jasa foto replika Hajar Aswad, kebohongan tersebut menyebabkan orang lain mempercayai sesuatu yang sejatinya tidak pernah terjadi. Rasulullah SAW bahkan menyebut bentuk kebohongan seperti ini sebagai pengkhianatan besar. Beliau bersabda:

كَبُرَتْ خِيَانَةً أَنْ تُحَدِّثَ أَخَاك حَدِيثًا هُوَ لَك مُصَدِّقٌ وَأَنْتَ لَهُ كَاذِبٌ

Artinya, “Termasuk pengkhianatan besar jika kamu berbicara kepada saudaramu dengan suatu cerita, sementara ia mempercayaimu, tetapi kamu berdusta kepadanya.” (HR Abu Dawud).

Selain persoalan dusta, penggunaan jasa foto replika Hajar Aswad juga berpotensi memengaruhi kemurnian ibadah haji apabila motivasinya adalah pengakuan dari orang lain. Praktik semacam ini dapat mengantarkan seseorang pada sifat riya dan dorongan untuk mencari validasi sosial.

Imam as-Suyuthi menjelaskan bahwa salah satu ciri haji mabrur adalah ibadah haji yang bersih dari unsur riya. Apabila seorang jamaah lebih disibukkan oleh upaya membangun citra diri melalui manipulasi foto, maka ia sedang menjauhkan dirinya dari tanda-tanda kemabruran haji. Beliau menyatakan:

وَقِيلَ هُوَ الَّذِي لَا رِيَاءَ فِيهِ وَقِيلَ : هُوَ الَّذِي لَا يَتَعَقَّبهُ مَعْصِيَةٌ وَهُمَا دَاخِلَانِ فِيمَا قَبْلهُمَا

Artinya, “Ada ulama yang mengatakan haji mabrur adalah haji yang tidak ada unsur riya di dalamnya. Ada lagi ulama yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah yang tidak diiringi dengan kemaksiatan. Kedua pandangan ini masuk ke dalam kategori pandangan sebelumnya,” (Jalaluddin as-Suyuthi, Syarhus Suyuthi ‘Ala Muslim, [Mekkah, Darul Ibnu ‘Affan:1996] jilid III, halaman 394).

Fenomena jasa foto replika Hajar Aswad perlu disikapi dengan kehati-hatian dan kesadaran moral. Ibadah haji dan umrah adalah ruang penyucian diri, bukan panggung untuk membangun citra di hadapan manusia.

Ketika dokumentasi berubah menjadi manipulasi, maka yang tercederai bukan hanya kejujuran personal, tetapi juga nilai luhur ibadah itu sendiri.

Oleh karena itu, jamaah perlu menata kembali niat dan orientasi dalam beribadah. Menjaga kemurnian ibadah berarti menjaga jarak dari segala bentuk dusta dan riya, termasuk yang dibungkus dalam tampilan visual yang tampak sepele, tetapi berdampak serius pada nilai ibadah di sisi Allah. Waallahu a’lam.[]

Penulis Ustadz Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. dikutip dari NU online dengan judul Fenomena Foto Replika Hajar Aswad: Batas Etika Berfoto di Tanah Suci

ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *