
BANDA ACEH — Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Aceh, Abd Hadi Abidin, menyatakan kenaikan harga tiket pesawat ke Aceh menjelang Idulfitri mencapai lima kali lipat sebagai kebijakan yang tidak berkeadilan.

Lonjakan harga hingga Rp11 juta per tiket dinilai memberatkan masyarakat, khususnya perantau yang ingin pulang kampung.

“Kalaupun tidak diberikan diskon, jangan sampai harga tiket dinaikkan hingga Rp11 juta. Ini bentuk ketidakadilan bagi rakyat,” ujar Hadi, yang akrab disapa Hadi Maros, dalam keterangan resminya di Banda Aceh, Ahad (23/3).

Ia menilai pemerintah hanya sebatas wacana dalam memberikan diskon tiket Lebaran, sementara kenyataannya harga terus meroket. “Hari raya Idulfitri adalah momen sakral bagi umat Islam, khususnya masyarakat Aceh di perantauan. Namun, mahalnya tiket menjadi kendala besar bagi mereka yang ingin pulang kampung,” ucapnya.
“Jika diskon tak diberikan, harga tiket tidak boleh sampai melambung ekstrem”, tambahnya.
Hadi mengingatkan peran historis Aceh dalam pendirian Garuda Indonesia pada 1949, di mana pesawat pertama maskapai itu mendarat di wilayah tersebut untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.
“Aceh berkontribusi besar bagi negara. Pemerintah harusnya lebih peka dengan menetapkan harga tiket yang manusiawi,” tambahnya.

Hadi berharap pemerintah segera turun tangan dan mengatasi persoalan ini agar rakyat tidak terus terbebani.[]

Sumber ajnn

