BANDA ACEH – Penanews.co.id – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat di berbagai wilayah kembali menghidupkan tradisi berziarah ke makam. Sejumlah keluarga tampak mendatangi pusara orang tua maupun sanak saudara untuk memanjatkan doa serta mengenang momen kebersamaan yang pernah terjalin semasa hidup.
Fenomena ini pun memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai hukum ziarah kubur yang dilakukan menjelang Ramadan?
Buya Yahya menjelaskan bahwa menyambut Ramadhan tidak cukup hanya dengan persiapan lahiriah, tetapi juga harus dibarengi persiapan batin yang matang. Ia menekankan pentingnya membangun hubungan baik dengan sesama manusia sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
“Untuk menyambut bulan Ramadhan harus kita persiapkan persiapan secara lahir dan persiapan secara batin,” ujar Buya Yahya di YouTube Al-Bahjah TV, Penenews.co.id kutip dari Viva, Senin (16/02/2026).
Menurutnya, persiapan batin menjadi hal utama. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga momentum memperbaiki hubungan sosial. Ia mencontohkan bahwa ibadah puasa sangat berkaitan erat dengan sikap terhadap sesama.
“Puasa ini adalah harus dibarengi dengan hubungan baik dengan sesama manusia. Maka perlu kita menjalin silaturahmi sebelum bulan Ramadhan tiba,” ujarnya lagi.
Dari sinilah tradisi saling memaafkan, berbagi makanan ke tetangga, hingga mempererat hubungan keluarga menjadi bagian penting dalam menyambut Ramadhan. Buya Yahya juga mengingatkan agar umat Islam tidak memasuki Ramadhan dalam kondisi masih menyimpan permusuhan atau kebencian.
Buya Yahya menegaskan bahwa ziarah kubur dapat mengingatkan manusia pada akhirat. Artinya, ziarah kubur diperbolehkan dan bahkan disunahkan karena dapat mengingatkan manusia pada kehidupan akhirat. Tradisi ini tidak dilarang, termasuk jika dilakukan menjelang Ramadhan, selama tetap menjaga adab dan ketentuan syariat.
“Karena ziarah kubur mengiatkan kita kepada akhirat,” kata Buya Yahya.
“Bukan sebuah kesalahan kalau ziarah. Apakah dibuat kebiasaan sebelum Ramadhan setelah Ramadhan? Karena ziarah kubur kapan saja di diajarkan dianjurkan asalkan tentu ada ketentuan-ketentuannya,” tambahnya.
Lebih jauh, ziarah kubur juga bisa menjadi momen refleksi. Mengingat orang tua atau keluarga yang telah wafat dapat memacu diri untuk memperbaiki hubungan antar saudara yang masih hidup. Bahkan, kegiatan ziarah bersama keluarga bisa menjadi sarana mempererat silaturahmi.
Namun, Buya Yahya mengingatkan agar persiapan Ramadhan tidak terjebak pada hal-hal lahiriah semata, seperti belanja berlebihan atau fokus pada urusan duniawi.
“Jangan sampai kita masuk bulan Ramadhan tanpa persiapan. Yang masuk bulan Ramadhan tanpa persiapan keluar bulan Ramadhan seperti tidak pernah memasuki bulan Ramadhan,” tandasnya.





