Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)
PERJALANAN reformasi yang telah berlangsung hampir tiga dasawarsa sejatinya memberi harapan besar bagi bangsa ini. Demokrasi dibayangkan menjadi jalan menuju keadilan sosial, supremasi sipil, dan kesejahteraan rakyat. Namun, realitas yang dirasakan sebagian masyarakat hari ini justru menampilkan kegelisahan lain- yaitu kepercayaan publik yang menurun, jarak antara negara dan rakyat yang terasa melebar, serta pertanyaan tentang arah moral kepemimpinan nasional.
Pergantian kepemimpinan pada 2024 memang berlangsung sebagai ritual konstitusional yang sah, tetapi pergantian simbol tidak selalu diikuti perubahan substansi. Ekspektasi terhadap hadirnya pemimpin berwatak negarawan, yang menjadikan kepentingan rakyat sebagai orientasi utama, masih menjadi harapan yang belum sepenuhnya terjawab. Banyak kebijakan negara dipersepsikan sebagai kelanjutan dari pola lama, menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan struktur kekuasaan yang sudah mapan.
Dalam sudut pandang masyarakat bawah, persoalan tersebut terasa konkret bahwa ketimpangan ekonomi yang belum sepenuhnya teratasi, penegakan hukum yang dipertanyakan, serta akses kesejahteraan yang belum merata. Ini bukan sekadar soal angka statistik, tetapi soal pengalaman hidup sehari-hari. Ketika rakyat merasakan beban lebih berat daripada hasil pembangunan, maka makna kemerdekaan pun kerap dipertanyakan kembali.
Padahal, filosofi kebangsaan Indonesia bertumpu pada nilai luhur yang menempatkan keadilan sosial sebagai tujuan negara. Negara lahir dari sejarah, budaya, dan adat yang membentuk identitas kolektif bangsa. Jika nilai itu terkikis oleh praktik kekuasaan yang menjauh dari moral publik, maka krisis yang terjadi bukan hanya administratif, melainkan juga krisis makna.
Namun sejarah bangsa ini juga mengajarkan bahwa rakyat Indonesia bukan masyarakat yang mudah patah. Dari masa penjajahan hingga krisis ekonomi, ketangguhan sosial selalu menjadi fondasi bertahan. Dalam tradisi religius masyarakat, keyakinan kepada Tuhan memberi makna pada penderitaan dan harapan pada perubahan. Kisah-kisah moral dalam Al-Qur’an tentang runtuhnya kaum yang lalai terhadap keadilan sering dijadikan pengingat bahwa kekuasaan tanpa etika tidak pernah abadi.
Antara Krisis dan Peluang Kebangkitan
Sejumlah pemikir sejarah peradaban memandang perjalanan bangsa seperti gelombang siklus, berupa naik, jenuh, lalu bertransformasi. Dalam perspektif ini, kegelisahan sosial hari ini dapat dibaca sebagai fase koreksi, bukan semata kehancuran. Koreksi tersebut bisa lahir dari tekanan rakyat, perubahan alam, atau dinamika global yang memaksa penataan ulang arah pembangunan.
Indonesia sedang menghadapi tantangan besar, terkait perubahan ekonomi dunia, tekanan lingkungan, dan tuntutan generasi baru yang lebih kritis. Ini menuntut pembaruan cara berpikir negara dan masyarakat. Pergantian kepemimpinan dari era Joko Widodo ke fase berikutnya seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar kesinambungan administratif.
Gagasan tentang “reset peradaban” karenanya lebih tepat dipahami sebagai metafora sosial, sebagai peringatan bahwa bangsa ini sedang berada di titik evaluasi sejarah. Apakah nilai keadilan, kemanusiaan, dan keberpihakan pada rakyat akan ditegakkan kembali, atau justru semakin menjauh? Jawabannya tidak hanya berada di tangan elite, tetapi juga dalam kesadaran kolektif masyarakat.
Bangsa ini memiliki modal besar untuk bangkit berupa solidaritas sosial, keimanan, dan keberanian sejarah. Jika rakyat berani menyuarakan harapan dan pemimpin berani memperbaiki arah, maka krisis dapat berubah menjadi peluang. Masa depan bukan ditentukan oleh ramalan tentang kehancuran, melainkan oleh pilihan moral hari ini.
Pada akhirnya, perjalanan bangsa di Indonesia bukanlah garis lurus menuju kemajuan, tetapi perjalanan berliku yang memerlukan kesadaran bersama. Ketika kegelisahan muncul, itu tanda bahwa nurani kebangsaan masih hidup. Dan selama nurani itu ada, harapan untuk memperbaiki arah tidak pernah benar-benar padam.[]
Artikel ini merupakan opini penulis, seluruh isi di luar tanggungjawab redaksi, sepenuhnya tanggungjawab penulis.
Viral Tahlilan di Depan Rumah Jokowi, Jamaah; Semoga Dia Panjang Umur, Diberkahi Kehidupannya





