BANYUWANGI — Penanews.co.id – Usai acara peringatan Isra Miraj 1447 H dan para kiyai pulang, panitia melanjutkan dengan acara hiburan dengan menampilkan parabiduan dengan berpakaian tidak pantas dan bertolak belakang dengan inti acara keagamaan. Hal ini diakui oleh ketua panitia pelaksana, Muhammad Hadiyanto,
Kejadian yang memalukan ini terungkap setelah sebuah rekaman video yang menampilkan penampilan biduan berpakaian serba hitam dengan busana terbuka saat acara peringatan Isra Miraj ramai diperbincangkan warga Banyuwangi, Jawa Timur.
Dalam video yang beredar luas, terlihat seorang penyanyi perempuan berjoget di atas panggung dengan gerakan yang dinilai tidak pantas.
Aksi tersebut tampak kontras dengan latar belakang panggung bertuliskan peringatan Isra Miraj, serta iringan musik dari para pemusik yang mengenakan busana bernuansa Islami.
Di sisi kiri panggung, tampak pula seorang biduan lain yang duduk menunggu giliran tampil. Penyanyi tersebut juga mengenakan pakaian terbuka, sehingga semakin memicu sorotan publik.
Setelah ditelusuri, peristiwa dalam video tersebut diketahui terjadi di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.
Rekaman itu awalnya beredar melalui pesan berantai WhatsApp, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai platform media sosial.
Unggahan tersebut menuai beragam reaksi dari masyarakat. Banyak warganet menyampaikan kekecewaan dan mempertanyakan kesesuaian hiburan tersebut dengan konteks kegiatan keagamaan.
Sejumlah komentar juga menyinggung sikap organisasi kemasyarakatan Islam di Banyuwangi, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat, agar memberikan respons atas kejadian tersebut.
Menanggapi polemik yang berkembang, panitia penyelenggara acara akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui sebuah video.
“Atas nama pribadi dan sebagai ketua panitia, saya memohon maaf sebesar-besarnya,” ujar Ketua Panitia, Muhammad Hadiyanto, Jumat (16/1/2026).
Hadiyanto membenarkan bahwa penampilan biduan tersebut memang terjadi dalam rangkaian kegiatan di Dusun Bangunrejo, Desa Parangharjo.
Namun, ia menegaskan bahwa aksi tersebut berlangsung setelah acara inti peringatan Isra Miraj selesai.
Menurutnya, pada saat hiburan tersebut digelar, seluruh undangan, tokoh agama, dan kiai sudah tidak berada di lokasi.
“Itu murni untuk hiburan internal panitia yang sedang melakukan bersih-bersih setelah kegiatan selesai,” jelas Hadiyanto.
Ia menambahkan, panitia tidak bermaksud menodai nilai keagamaan maupun menyinggung perasaan masyarakat, dan berharap polemik ini dapat disikapi secara proporsional.[]
Sumber Tribungorontalo.com





