JAKARTA – Penanews.co.id – Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodoberencana mengusulkan tambahan anggaran dari Rp 51 triliun menjadi Rp 74 triliun yang akan difokuskan pada tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat untuk pemulihan pascabencana. Sekaligus pembangunan dam atau bendungan di Aceh dan Sumatera Utara. Anggaran itu lebih besar di Alokasikan untuk Aceh.
“Secara total kami akan mengajukan sekitar hampir Rp 74 triliun untuk tiga provinsi. Di Aceh hampir Rp 40 triliun, di Sumut Rp 15 triliun, dan di Sumbar hampir Rp 19 triliun,” kata Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026).
Di hadapan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Dody menjelaskan bahwa kebutuhan anggaran mengalami peningkatan signifikan dari rencana awal sebesar Rp 51 triliun. Kenaikan tersebut disebabkan oleh urgensi pembangunan dam di sejumlah wilayah rawan bencana.
Dody menjelaskan, Dam atau bendungan berfungsi sebagai penghalang untuk menahan, menampung, dan mengelola laju air, atau lumpur ketika terjadi curah hujan tinggi. Infrastruktur ini dinilai krusial untuk mengurangi risiko bencana.
“Kami baru tahu bahwa amat sangat diperlukan membangun dam di tiga provinsi ini. Minimum di Aceh dan Sumut,” kata dia.
Dody mengatakan, bendungan di Sumatera Barat sebenarnya sudah ada, tetapi tidak bisa menahan karena adanya bebatuan yang turun dari puncak Gunung Marapi.
“Tapi kalau Aceh dan Sumut ini hampir belum, tidak ada dam,” jelasnya.
Rencananya, pembangunan dam akan menggunakan lahan-lahan dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang sudah mendapatkan izin dari Kementerian Kehutanan.
“Aceh dan Sumut ini rencananya dam-nya akan banyak menggunakan lahan-lahan dari Taman Nasional. Beberapa kali kesempatan sudah bicara dengan Pak Menhut dan alhamdulillah beliau mengizinkan,” ucapnya.
Dam untuk cegah bencana
Mengantongi izin dari Kemenhut, Kementerian PU akan mulai membangun dam agar di Aceh dan Sumut tidak lagi tersapu air banjir bandang karena hujan lebat.
“Jadi dam ini fungsinya adalah manakala terjadi hujan lebat sekali di atas, di hulu-hulu Aceh maupun hulu Sumut seperti Gayo Lues dan sekitarnya itu, atau Tapteng, Tapsel dan sekitarnya, air-air dan kayunya kalaupun masih ada, tidak turun sampai dengan Tamiang dan sekitarnya yang di hilir,” jelas Dody.[]
Sumber Kompas.com





