LHOKSUKON – Penanews.co.id – Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sejak 18 Desember 2025 hadir di gampong-gampong untuk melakukan intervensi kesehatan pascabencana banjir di Aceh Utara. Mendatangkan mobile clinic untuk memberikan layanan kesehatan darurat bagi para penyintas banjir di Gampong terdampak di Kabupaten Setempat
“Intervensi ini dilakukan sebagai respons atas terganggunya akses layanan kesehatan masyarakat akibat bencana banjir,” kata Dr Maidar, MKes, penanggungjawab HEOC (Health Emergency Operational Center) Aceh Utara, Rabu, 14 Januari 2026.
Maidar menuturkan, layanan mobile clinic MER-C difokuskan pada pemeriksaan kesehatan umum, penanganan penyakit infeksi pascabanjir, layanan kesehatan ibu dan anak, serta identifikasi dan rujukan kasus kegawatdaruratan.
“Kegiatan ini berada di bawah koordinasi Ira Hadiati selaku Penanggung Jawab MER-C Aceh, serta dilaksanakan dengan sinergi bersama Pemerintah Daerah dan fasilitas kesehatan setempat,” jelas Maidar.
Pada fase awal, tambahnya, prioritas utama adalah memastikan masyarakat tetap mendapatkan layanan kesehatan dasar, terutama kelompok rentan. “Mobile clinic menjadi solusi sementara di tengah keterbatasan akses fasilitas kesehatan akibat bencana,” kata Ira Hadiati.
Seiring berjalannya waktu, pemantauan lapangan menunjukkan meningkatnya kebutuhan rujukan medis, khususnya di 11 kecamatan di wilayah timur Aceh Utara. Kondisi ini mengemuka dalam koordinasi bersama Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara Abdurrahman, SKM, MSi, Direktur RS dr Mukhtar Hasbi dr Adnani, serta Dr Maidar, MKes, selaku Person in Charge (PIC) HEOC Aceh Utara.
Menurut dr. Adnani, pelaksanaan mobile clinic sangat membantu menurunkan beban pelayanan primer, juga sekaligus memperlihatkan keterbatasan kapasitas rujukan.
“Banyak kasus yang memerlukan penanganan lanjutan. Tanpa penguatan rumah sakit rujukan, risiko keterlambatan pelayanan pada kasus gawat darurat tetap tinggi,” ungkap Adnani.
Hal senada disampaikan Abdurrahman, SKM, MSi, yang menekankan pentingnya konsensus lintas sektor dalam memperkuat sistem rujukan.
“Kegiatan MER-C membuka gambaran nyata kondisi lapangan. Kami sepakat bahwa penguatan tipe rumah sakit rujukan, sarana prasarana, dan SDM kesehatan menjadi kebutuhan mendesak, terutama untuk wilayah timur Aceh Utara yang rawan bencana,” jelas Abdurrahman.

PIC HEOC Aceh Utara Dr Maidar, MKes, mengatakan hasil temuan lapangan menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan kedaruratan kesehatan.
“Data dari mobile clinic sangat membantu HEOC dalam memetakan risiko dan kebutuhan rujukan. Penguatan sistem rujukan merupakan bagian dari upaya meningkatkan ketahanan sistem kesehatan daerah,” ungkapnya.
MER-C menilai bahwa pelayanan Mobile Clinic tidak hanya berfungsi sebagai respons darurat, tetapi juga sebagai instrumen identifikasi kebutuhan sistemik layanan kesehatan pascabencana. Oleh karena itu, MER-C menyatakan dukungan penuh (consent) terhadap upaya pemerintah daerah dalam penguatan rumah sakit rujukan, sebagai bagian dari strategi jangka menengah dan panjang pemulihan kesehatan Aceh Utara.
“Respons darurat harus diikuti dengan perbaikan sistem. Penguatan rujukan adalah kunci agar masyarakat tidak kembali menjadi korban saat bencana berikutnya terjadi,” tutup Ira Hadiati.
MER-C bersama pemerintah daerah dan mitra kesehatan berkomitmen melanjutkan kolaborasi untuk memastikan keberlanjutan pelayanan kesehatan yang adil, inklusif, dan tangguh terhadap bencana di Aceh Utara.[]






