Makna Hadis Tentang Nubuat Rasulullah Mengenai Bangsa Persia, Menurut Muhammadiyah

by
Ilustrasi

JAKARTA — Penanews.co.id – Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, Saiful Bahri, menegaskan bahwa nubuat Rasulullah SAW tentang bangsa Persia bukanlah soal keistimewaan ras atau suku tertentu.

Menurutnya, penyebutan bangsa Persia oleh Rasulullah sebagai penegasan bahwa kemuliaan dan estafet kepemimpinan umat ditentukan oleh iman, keteguhan prinsip, serta kontribusi nyata dalam menegakkan nilai-nilai Islam.

Hal tersebut disampaikan dalam Pengajian Tarjih yang digelar pada Rabu (22/04), saat membahas hadis Nabi tentang bangsa Persia yang diriwayatkan Abu Hurairah dan termuat dalam Shahih At-Tirmidzi.

Saiful membuka kajian dengan menjelaskan hadis yang cukup masyhur ketika beberapa sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah mengenai kaum yang akan menggantikan suatu umat jika mereka berpaling dari agama Allah.

Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menunjuk Salman Al-Farisi yang berada di samping beliau seraya bersabda:

“Orang ini dan kaumnya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya iman itu tergantung di bintang Tsurayya (Pleiades), niscaya orang-orang dari Persia akan meraihnya.”

Menurut Saiful, hadis ini berkaitan erat dengan Surah Muhammad ayat 38 serta Surah Al-Jumu’ah ayat 3. Dalam Surah Muhammad, Allah berfirman bahwa jika suatu kaum berpaling dari jalan Allah, maka Allah akan mengganti mereka dengan kaum lain yang lebih baik dan tidak seperti mereka.

“Inilah konteks pentingnya. Yang dimaksud bukan sekadar bangsa Persia secara etnis, tetapi siapa saja yang memenuhi syarat iman, keteguhan, dan kontribusi. Persia di sini hanya menjadi sampel,” ujarnya.

Hadis tentang Persia yang dibahas dalam kajian ini dipilih karena tergolong sahih dan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, serta memiliki penguat dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

Persia, Romawi, dan Yaman

Saiful menjelaskan bahwa mayoritas ulama tafsir memaknai “kaum pengganti” dalam Surah Muhammad ayat 38 sebagai bangsa Persia. Namun, terdapat pula pendapat lain dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas yang memasukkan Romawi dan Ahlul Yaman dalam cakupan ayat tersebut.

“Dalam riwayat-riwayat tafsir bil ma’tsur, Ibnu Katsir dan Ath-Thabari juga menyebutkan second opinion bahwa yang dimaksud bisa juga Romawi yang Muslim, Persia yang Muslim, bahkan Ahlul Yaman,” katanya.

Sementara dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 3, hadis ini menunjukkan bahwa dakwah Islam tidak hanya ditujukan kepada kaum ummiyyin di Jazirah Arab, tetapi akan menjangkau bangsa-bangsa lain yang jauh, termasuk Persia.

“Ini menandakan inklusivitas dakwah Islam. Islam tidak dibatasi oleh geografis, suku, maupun status sosial,” ujarnya.

Saiful menekankan bahwa hadis ini mengandung pesan penting bahwa syarat memikul amanah dan kepemimpinan tidak ditentukan oleh ras, bangsa, atau keturunan, tetapi oleh kualitas iman dan keteguhan memegang prinsip.

“Allah memuliakan siapa saja, baik Arab maupun Ajam. Kalau dia memenuhi syarat iman dan kontribusi, maka dia bisa dipakai Allah sebagai khairu ummah dan ummatan wasathan,” jelasnya.

Sebaliknya, jika suatu kaum malas berkontribusi, berpaling dari prinsip, dan kehilangan semangat berjuang, Allah akan mengganti mereka dengan kaum lain yang lebih baik.

Ia juga menyoroti sosok Salman Al-Farisi sebagai simbol keutamaan tersebut. Meski bukan Arab dan tidak memiliki hubungan nasab dengan Nabi, Salman disebut sebagai bagian dari Ahlul Bait karena keteguhan prinsip dan kedekatannya dengan nilai-nilai Islam.

“Salman menjadi contoh bahwa kemuliaan itu bukan soal darah, tetapi soal prinsip,” katanya.

Bintang Tsurayya dan Simbol Keunggulan

Dalam hadis itu, Rasulullah menyebut bintang Tsurayya sebagai simbol sesuatu yang sangat jauh dan sulit dijangkau. Menurut Saiful, ini menunjukkan bahwa iman, ilmu, dan keunggulan intelektual adalah sesuatu yang harus diraih dengan kesungguhan.

“Bintang Tsurayya itu sangat jauh. Ini menandakan ada literasi tinggi, wawasan luas, keteguhan jiwa, dan kemapanan intelektual. Allah akan memberikan estafet kepemimpinan kepada mereka yang memenuhi syarat itu,” ujarnya.

Ia mengaitkan hal ini dengan konsep sunnat al-mudawalah atau pergiliran peradaban yang dijelaskan Ibnu Khaldun. Dalam teori tersebut, kejayaan suatu bangsa akan bergilir sesuai kualitas generasi yang memegang amanah.

“Masa sulit melahirkan pahlawan. Pahlawan melahirkan kemakmuran. Kemakmuran melahirkan generasi manja. Generasi manja membuat masa sulit kembali. Itulah siklus peradaban,” jelasnya.

Dari pendekatan irfani, Saiful mengutip tafsir Buya Hamka dan Abdurrahman As-Sulami bahwa keunggulan suatu bangsa bermula dari kemenangan individu atas dirinya sendiri.

Ia mencontohkan Salahuddin Al-Ayyubi yang berhasil mengembalikan kejayaan umat Islam bukan semata karena strategi perang, tetapi karena kemenangan atas hawa nafsu, sikap tidak bakhil, dan kesediaan berkorban.

“Kejayaan dimulai dari kemenangan atas diri sendiri. Menahan hawa nafsu, meninggalkan kemalasan, dan berani berkorban,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya qanaah, kejernihan hati, dan menjauhi sikap berlebihan dalam membandingkan diri dengan orang lain.

“Kalau hati tidak jernih, mudah iri, overthinking, dan tidak qanaah, maka itu akan melemahkan diri dan bahkan menurunkan derajat bangsa,” katanya.

Pelajaran untuk Umat Hari Ini

Sebagai penutup, Saiful menegaskan bahwa nubuat Rasulullah tentang Persia harus dipahami sebagai motivasi untuk membangun kualitas umat, bukan sekadar membaca sejarah atau mengaitkannya secara sempit dengan konflik politik kontemporer.

Menurutnya, pelajaran utama dari hadis tersebut adalah pentingnya kontribusi nyata, budaya membaca, dan riset berkelanjutan.

“Take away lesson-nya hari ini ada tiga: pertama, harus berkontribusi. Kedua, meningkatkan reading habit dan budaya riset. Ketiga, mengapresiasi pencapaian peradaban,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ketika melihat konflik dan penderitaan di dunia Islam maupun di luar Islam, pendekatan yang harus digunakan adalah pendekatan kemanusiaan.

“Kalau ada bangsa yang dizalimi, pendekatannya adalah humanistik. Bahkan jika itu terjadi pada bangsa yang berbeda agama sekalipun, kita tetap wajib menolong mereka yang tertindas,” pungkasnya.[]

Sumber Muhammadiyah.or.id

ya