BANDA ACEH – Penanews.co.id – Sejumlah media arus utama Barat kini menyoroti kebijakan konfrontatif Trump terhadap Iran sebagai langkah yang dinilai kurang terencana secara strategis, merugikan secara politik, mengisolasi secara internasional, dan tidak populer.
Tekanan ini dianggap menciptakan jarak antara AS dengan mitra internasionalnya serta memicu sentimen negatif di kalangan pemilih, baik di domestik maupun di Eropa.
Alih-alih meredam dominasi Iran, para ahli justru mengkhawatirkan kebijakan ini akan memicu peningkatan kemampuan pertahanan dan daya tawar Teheran di Timur Tengah.
Mengutip Palestinechronicle Dua minggu setelah perang AS-Israel di Iran dimulai, sebuah pola yang mencolok mulai muncul dalam pemberitaan media Barat. Di berbagai halaman opini, laporan politik, dan analisis strategis, banyak media menggambarkan perang tersebut bukan sebagai keberhasilan yang menentukan, melainkan sebagai eskalasi yang berisiko dan berpotensi kontraproduktif.
Perdebatan telah meluas melampaui medan perang itu sendiri. Para komentator berfokus pada ketiadaan strategi yang jelas, ketahanan struktur pemerintahan Iran, konsekuensi geopolitik dari terganggunya pasar energi, dan meningkatnya biaya politik akibat perang tersebut.
Di beberapa media, bahasanya menjadi semakin blak-blakan. Para analis dan kolumnis mempertanyakan apakah perang tersebut telah merusak tujuan-tujuan yang seharusnya dicapai.
Pertanyaan Strategi
Kritik utama yang muncul di berbagai pemberitaan adalah kurangnya tujuan yang koheren.
Reuters melaporkan pada 13 Maret bahwa Gedung Putih sendiri tampaknya terpecah mengenai arah perang, mencatat bahwa para penasihat sudah memperdebatkan bagaimana Presiden Donald Trump mungkin menyatakan kemenangan meskipun tidak ada tujuan akhir yang jelas. Laporan tersebut mengatakan para pejabat terpecah antara mereka yang mendorong eskalasi lebih lanjut dan yang lainnya yang khawatir tentang dampak ekonomi dan konsekuensi politik.
Reuters juga melaporkan sebelumnya bahwa badan intelijen AS tidak percaya struktur pemerintahan Iran akan segera runtuh meskipun ada kampanye militer.
![]()
Penilaian itu melemahkan salah satu asumsi tersirat dari perang tersebut: bahwa tekanan militer dapat menggoyahkan Republik Islam.
Para analis strategis telah menyuarakan kekhawatiran serupa tentang perencanaan Washington. Dalam tulisannya di The Atlantic, sejarawan Phillips Payson O’Brien berpendapat bahwa para pembuat kebijakan AS tampaknya telah meremehkan kemampuan Iran untuk merespons secara asimetris dan menggunakan sistem energi global sebagai alat tawar-menawar.
Analisisnya menekankan konsekuensi strategis dari ancaman Iran terhadap jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz, yang tetap menjadi pusat aliran minyak global.
Politik Dalam Negeri dan Perjudian Berisiko
Tema lain yang muncul dalam komentar Barat adalah hubungan antara perang dan posisi politik domestik Trump.
Di Guardian, kolumnis Moira Donegan berpendapat bahwa kelemahan politik Trump mungkin membantu menjelaskan keputusan untuk melancarkan perang. Dia menulis bahwa pemerintahan tersebut tidak berupaya membangun dukungan publik atau mengartikulasikan alasan yang jelas untuk konflik tersebut.
“Tidak ada upaya terorganisir untuk meyakinkan publik Amerika tentang kebenaran tindakan mereka,” tulis Donegan.
Sebaliknya, ia berpendapat bahwa aksi militer asing mungkin dipandang sebagai pengalih perhatian politik selama periode penurunan peringkat persetujuan dan kekhawatiran ekonomi.
Washington Post melaporkan bahwa perang tersebut juga mempersulit posisi sekutu politik di luar negeri. Dalam sebuah artikel karya Anthony Faiola dan Stefano Pitrelli, surat kabar tersebut menulis bahwa konflik tersebut telah mengubah hubungan dekat Trump dengan para pemimpin konservatif Eropa menjadi beban politik.
“Faktanya, Trump menjadi sangat, sangat tidak populer di Italia,” kata Senator Italia Carlo Calenda, menurut laporan tersebut. “Perang ini sangat tidak populer.”
Argumen “Bencana”
Beberapa kritik paling langsung muncul di halaman opini.
Dalam tulisannya di Guardian, kolumnis Jonathan Freedland berpendapat bahwa bahkan jika tujuan yang dinyatakan dari perang tersebut dilihat “dari sudut pandang terbaik dan paling positif,” kampanye tersebut tampaknya memperburuk masalah yang seharusnya diatasi.
“Semakin jelas bahwa perang yang dipimpin AS telah mengambil setiap masalah yang ingin dipecahkan dan malah memperburuknya,” tulis Freedland.
Ia mencatat bahwa salah satu harapan awal di Washington adalah bahwa penggulingan kepemimpinan Iran mungkin akan menghasilkan penerus yang lebih moderat. Namun, ia mengutip pernyataan mantan direktur CIA, David Petraeus, yang menunjukkan hasil sebaliknya.
“Kami berharap mendapatkan Delcy Rodríguez,” kata Petraeus di podcast Unholy, tulis Freedland. “Namun, yang kami dapatkan adalah Kim Jong-un muda.”
Freedland juga berpendapat bahwa respons Iran, termasuk kemampuannya untuk mengancam pasokan energi global melalui Selat Hormuz, menunjukkan bahwa Teheran tetap memiliki pengaruh yang kuat meskipun mengalami kekalahan militer.
“Jika rezim itu bertahan,” tulisnya, “mereka akan memiliki alasan kuat untuk menggandakan ambisi nuklirnya.”[]
Disarankan baca ini juga 👇
Skip to content



