BANDUNG – Penanews.co.id – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam tim Moneyfesteam meraih juara 1 ajang L’Oréal Brandstorm 2026 tingkat nasional.
Atas prestasi ini, tim yang terdiri atas Rayhan Hidayatul Fikri, Allodya Qonnita (Sistem dan Teknologi Informasi, 2023), dan Muhammad Abdillah Putra Alfera (Manajemen, 2023) mewakili Indonesia pada tahap final internasional di Paris pada 18–19 Juni 2026.
Dalam kompetisi inovasi yang berfokus pada masa depan industri luxury fragrance ini, tim mengusung konsep Azzaro Quintessence, sebuah smart modular fragrance system yang menjawab kebutuhan gaya hidup pria modern yang dinamis.
“Azzaro Quintessence merupakan sebuah sistem parfum modular yang memungkinkan pria memiliki banyak identitas aroma dalam satu botol. Masalahnya sederhana, tetapi nyata—pria modern menjalani banyak peran dalam sehari, sementara parfum masih didesain untuk satu momen saja,” ujar Abdillah dilansir dari itb.ac.id.
Melalui pendekatan ini, pengguna cukup membawa satu botol parfum yang relevan untuk berbagai kesempatan.
Azzaro Quintessence mengintegrasikan sistem empat kompartemen aroma yang dapat menghasilkan hingga 15 kombinasi scent, serta perangkat portabel berbasis MagSafe yang dapat ditempel langsung pada ponsel.
Inovasi ini juga dilengkapi aplikasi berbasis kecerdasan buatan, ZaroApp, yang memungkinkan personalisasi aroma secara real-time. Pengguna dapat berinteraksi dengan asisten AI untuk mendapatkan rekomendasi kombinasi parfum yang sesuai dengan aktivitas, suasana hati, maupun kebutuhan personal.
“Melalui sistem 4-in-1 fragrance, AI personalization, dan portable device, kami ingin menciptakan pengalaman parfum yang adaptif, praktis, dan personal sesuai gaya hidup pria masa kini,” ujarnya.
Keunggulan utama inovasi ini terletak pada integrasi ekosistem yang menyeluruh. Tidak hanya menciptakan produk, tim ini menghadirkan pengalaman end-to-end fragrance yang mencakup teknologi modular, personalisasi berbasis AI, inovasi perangkat keras, serta sistem keberlanjutan melalui mekanisme refill dan reward.
“Kami tidak hanya menyelesaikan satu masalah, tetapi tiga sekaligus: variasi aroma, kepraktisan, dan personalisasi dalam satu sistem yang seamless,” kata Abdillah.
Menyatukan Fragrance, Teknologi, dan Bisnis
Perjalanan tim hingga mencapai juara 1 nasional tidak terlepas dari proses riset dan iterasi yang mendalam. Ide ini berangkat dari pertanyaan mengenai stagnasi inovasi di industri parfum, di tengah perubahan gaya hidup manusia yang semakin kompleks.
Tim menghadapi tantangan besar dalam mengintegrasikan tiga aspek utama, yakni dimensi emosional dari fragrance, kompleksitas teknologi seperti AI dan perangkat keras, serta aspek kelayakan bisnis dan pasar.
“Menjadikan semuanya satu solusi yang masuk akal, scalable, dan tetap terasa ‘luxury’ adalah proses yang panjang. Namun justru di situlah kekuatan ide kami terbentuk,” ujar Abdillah.
Selain tantangan konseptual, dinamika kerja tim lintas lokasi juga menjadi faktor tersendiri. Salah seorang anggota tim menjalani program pertukaran di National University of Singapore (NUS), sehingga koordinasi harus dilakukan secara daring.
Relevansi dengan Masa Depan Industri
Konsep yang diusung tim ini dinilai selaras dengan arah perkembangan industri global, yang semakin menekankan pada personalisasi, integrasi teknologi, dan keberlanjutan.
Tim ini mengusulkan pergeseran paradigma dari konsep “one scent per bottle” menjadi “one system for multiple identities” yang dinilai memiliki potensi menjadi standar baru di industri luxury fragrance, khususnya di segmen pria yang terus berkembang.
Peran ITB dan Pendekatan Multidisiplin
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan lingkungan akademik ITB yang mendorong pendekatan multidisiplin. Kombinasi latar belakang manajemen serta sistem dan teknologi informasi memungkinkan tim melihat permasalahan dari berbagai perspektif, mulai dari aspek bisnis, teknologi, hingga perilaku pengguna.
“Kombinasi ini membuat ide kami tidak hanya kreatif secara konsep, tetapi juga feasible untuk direalisasikan. Kami bisa menyeimbangkan antara market insight dan technological execution,” kata Abdillah.
Dari Nasional ke Panggung Global
Keberhasilan ini melanjutkan tradisi prestasi mahasiswa ITB di ajang L’Oréal Brandstorm sejak 2019. Bagi tim, pencapaian ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga dan meningkatkan standar yang telah ada.
“Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi dan membawa solusi yang relevan dengan perkembangan industri,” ujarnya.
Ke depan, tim akan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi internasional di Paris dengan fokus pada penguatan konsep, pendalaman pasar global, serta optimalisasi strategi komunikasi dan presentasi.
Prestasi Lain: AADC dari ITB Raih Juara 2 dan Favorite Winner
Selain kemenangan Moneyfesteam, mahasiswa ITB lainnya yang tergabung dalam tim AADC meraih Juara 2 sekaligus Favorite Winner. Tim ini terdiri atas Canggih Effendi (Teknik Industri, 2023), Audrey Santoso (Desain Mode, 2023), dan Aurelia Viny Natania (Wirausaha, 2023).
Tim AADC menghadirkan inovasi Sillage, sebuah perangkat parfum pintar berbasis MagSafe dengan sistem cartridge yang mampu menampung hingga tiga varian aroma sekaligus. Inovasi ini memungkinkan pengguna melakukan layering aroma secara fleksibel sesuai kebutuhan.
“Inovasi kami berangkat dari visi growing consumption while reducing waste, dengan fokus pada pengurangan limbah botol parfum serta memberikan kebebasan ekspresi melalui aroma,” ujar Aurelia.
Kedua tim menyampaikan pesan kepada mahasiswa untuk berani mencoba dan terus belajar melalui berbagai kesempatan.
“Jangan takut berpikir berbeda, tapi pastikan tetap grounded pada real problem. Kompetisi seperti brandstorm bukan hanya soal menang, tetapi bagaimana kita belajar melihat dunia dengan cara yang lebih tajam, kritis, dan kreatif,” tutur Abdillah.[]
Skip to content





