Penghulu dari Aceh Besar ini, Raih Gelar Doktor Lewat Beasiswa Indonesia Bangkit

by
Muhammad Nasril, berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya berkat dukungan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kemenag - LPDP.

BANDA ACEH – Penanews.co.id – Tepuk tangan panjang menggema di aula Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu siang (13/5/2026). Di hadapan para penguji, keluarga, sahabat, dan tamu undangan, Muhammad Nasril akhirnya menuntaskan satu fase penting dalam hidupnya: meraih gelar doktor bidang Pengkajian Islam. 

ASN Kementerian Agama asal Aceh itu dinyatakan lulus dengan nilai 93,33 dan predikat sangat memuaskan setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka promosi doktor. 

Namun siang itu bukan sekadar tentang sidang akademik. 

Ada perjalanan panjang seorang anak gampong dari Meunasah Mesjid, Pidie, yang perlahan menembus lorong-lorong ilmu hingga sampai di podium doktoral. Ada pula cerita tentang bagaimana Beasiswa Indonesia Bangkit menjadi jembatan yang membuka jalan pendidikan bagi banyak anak muda dari daerah. 

Berkat program kolaborasi Kementerian Agama dan LPDP itu, Nasril mampu menyelesaikan studi doktoralnya tepat waktu dalam delapan semester. 

“Alhamdulillah, berkah Beasiswa Indonesia Bangkit LPDP telah mengantarkan saya meraih doktor,” ujarnya lirih usai sidang dilansir dari laman Kemenag RI.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan perjalanan yang tidak pendek. 

Muhammad Nasril lahir di Meunasah Mesjid, Kabupaten Pidie, 38 tahun yang lalu. Ia tumbuh dari keluarga pendidik. Ayah dan ibunya, Kamaruzzaman, S.Pd., dan Ani, S.Pd., menanamkan kecintaan pada ilmu sejak kecil. 

“Ayah akan bangga bila kamu berhasil meraih gelar doktor, nak,” begitu pesan dari Kamaruzzaman pada Nasril remaja yang ternyata menancap pada dinding batinnya hingga hari ini. 

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri Meunasah Mesjid, lalu berlanjut ke MTs Darul ‘Ulum Banda Aceh dan MAS Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Aceh Besar. 

Langkahnya kemudian membawanya jauh ke Mesir. Di Universitas Al-Azhar, ia menempuh pendidikan sarjana hingga meraih gelar Lc pada 2009. Setelah itu, ia melanjutkan studi magister di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. 

Dan lewat Beasiswa Indonesia Bangkit, jalan akademiknya kembali terbuka menuju program doktor di Jakarta. 

Sidang promosi doktor itu terasa hangat sekaligus khidmat. Aula dipenuhi para sahabat, kolega, dan tokoh yang ikut menyaksikan perjalanan akademiknya. Hadir mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersama sang istri Trisna Willy, rekan-rekan ASN Kemenag Aceh, keluarga besar Dayah Insan Qurani Aceh Besar, serta para sahabat dan kolega lainnya. 

Sidang dipimpin Prof. Dr. Zulkifli, M.A. sebagai ketua sidang. Adapun tim promotor terdiri dari Prof. Dr. Rusli dan Prof. Dr. Kamarusdiana. Sementara tim penguji diisi Prof. Dr. Mesraini, Prof. Dr. Afidah Wahyuni, dan Prof. Dr. A. Bakir Ihsan, dengan Dr. Maswani, M.A. sebagai sekretaris sidang. 

“Pada dasarnya promovendus layak mendapatkan predikat cumlaude. Namun karena aturan baru mengharuskan masa studi minimal tiga tahun atau enam semester, maka predikat tersebut tidak dapat diberikan,” ujar Prof. Zulkifli saat membacakan hasil sidang. 

Meski tanpa label cumlaude, pencapaian Nasril tetap terasa istimewa. Sebab ia menempuh jalan akademik itu di tengah kesibukannya sebagai ASN non-dosen yang sebelumnya tidak terlalu akrab dengan tradisi penelitian ilmiah. 

“Perjalanan ini penuh perjuangan dan tantangan. Sebelumnya saya jarang melakukan penelitian karena bukan dosen, tetapi harus mampu menyelesaikan studi tepat waktu dan menyesuaikan dengan tradisi keilmuan di SPS,” ungkap Penghulu di Aceh Besar ini. 

Dalam disertasinya, Nasril mengangkat tema yang dekat dengan realitas sosial masyarakat Aceh: “Hegemoni Ulama dalam Praktik Pernikahan Usia Anak di Aceh.” 

Melalui pendekatan teori hegemoni Antonio Gramsci, ia mencoba membaca bagaimana otoritas ulama, legitimasi agama, budaya lokal, dan struktur sosial saling berkelindan membentuk praktik pernikahan usia anak di sejumlah wilayah Aceh. 

Tema itu menjadi menarik karena Nasril tidak melihat persoalan secara hitam-putih. Ia menunjukkan bahwa praktik sosial di masyarakat sering lahir dari perpaduan antara keyakinan agama, adat, tekanan sosial, hingga cara masyarakat menjaga kehormatan keluarga. 

“Fenomena pernikahan usia anak di Aceh tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Ia merupakan hasil interaksi antara agama, budaya lokal, dan struktur sosial masyarakat,” kata Nasril dalam pemaparannya. 

Penelitian itu menemukan bahwa pemahaman keagamaan kerap menjadi legitimasi moral dalam praktik tersebut. Mulai dari alasan menghindari maksiat hingga solusi atas kehamilan di luar nikah. 

Karena itu, menurutnya, penyelesaian persoalan tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum. 

“Upaya pencegahan pernikahan usia anak tidak cukup dilakukan melalui pendekatan hukum semata, tetapi juga memerlukan pendekatan kultural dan keagamaan melalui kolaborasi pemerintah dan ulama,” ujar suami dari Jusnaini Hasni, M.Ed., itu. 

Tetapi seperti banyak kisah perjuangan akademik lainnya, jalan menuju doktor tidak hanya berisi teori dan ruang seminar. 

Ada penantian panjang demi menemui narasumber. Ada wawancara yang baru dimulai hampir pukul satu dini hari. Ada penolakan. Ada pintu yang tidak langsung terbuka. Bahkan ada narasumber yang meminta dirinya mengisi ceramah terlebih dahulu sebelum wawancara dilakukan. 

“Ada yang harus menunggu berjam-jam, ada juga yang memberikan waktu hampir pukul 01.00 malam. Banyak dinamika, tetapi hari ini semua terasa indah untuk dikenang,” katanya sambil tersenyum. 

Kini, selain menjadi ASN Kementerian Agama Aceh, Nasril juga aktif di berbagai organisasi sosial-keagamaan. Ia menjabat sebagai pengurus Badan Wakaf Indonesia periode 2025–2028, Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah Aceh, serta Ketua Humas Dayah Insan Qurani. 

Di titik itu, kisah Muhammad Nasril terasa lebih dari sekadar cerita akademik. 

Ia menjadi potret tentang bagaimana Beasiswa Indonesia Bangkit membuka jalan perubahan hidup, mempertemukan anak-anak daerah dengan ruang-ruang ilmu yang sebelumnya terasa jauh. 

Dari sebuah gampong kecil di Pidie, langkah itu akhirnya sampai di podium doktoral. 

Dan mungkin, di sudut-sudut kampung lain di Indonesia, ada anak-anak muda yang mulai terinspirasi dan percaya bahwa mimpi mereka juga bisa tumbuh setinggi itu. Selamat, Doktor Nasril []