Purbaya Akui Defisit APBN 2025 Melebar Nyaris 3 %, ini Penyebabnya

by
Materi paparan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan konferensi Pers APBN KITA Edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Tangkapan Layar Youtube/ Kementerian Keuangan RI) Materi paparan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan konferensi Pers APBN KITA Edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). | Foto Tangkapan Layar Youtube/ Kementerian Keuangan RI

JAKARTA – Penanews.co.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa hingga Desember 2025, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat sebesar Rp 695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Realisasi sementara pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target APBN 2025 sebesar Rp3.005,1 triliun. Realisasi penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp2.217,9 triliun atau setara 89 persen dari target Rp2.490,9 triliun.

Purbaya menjelaskan, Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan defisit tahun 2024 yang berada di level 2,3 persen dari PDB, pelebaran defisit tersebut melampaui target awal yang dipatok sebesar 2,53 persen dari PDB. Namun, langkah itu diambil sebagai bagian dari kebijakan countercyclical untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

“Defisit naik ke 2,92% dari rencana awal 2,53% ini misi menjaga ekonomi ekspansi ini kebijakan countercyclical,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA, Kamis (8/1/2026).

Menurutnya, pemerintah sebenarnya mampu menekan defisit hingga nol, tetapi kebijakan tersebut justru berisiko membuat kondisi perekonomian melemah.

“Saya buat defisit 0 juga bisa tapi ekonomi morat-marit,” ungkap Purbaya

Purbaya sangat optimis defisit anggaran pada 2026 dapat ditekan seiring dengan penguatan fundamental ekonomi dan berlanjutnya momentum pertumbuhan. Ia memproyeksikan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi untuk tahun berjalan sebesar 5,4 persen.

“Saya yakin 2026 dengan membaiknya fondasi ekonomi dan momentum ekonomi ke depan, defisit bisa ditekan dengan dampak ekonomi ke masyarakat lebih besar. Tahun ini, kita asumsikan ekonomi 5,4%, kita coba tekan ke level lebih tinggi lagi,” tegasnya.

Adapun, Purbaya menyampaikan keseimbangan primer juga tercatat defisit Rp180,7 triliun. Lebih lanjut, pendapatan negara mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7%, dengan penerimaan pajak Rp 1.917,6 triliun, kepabeanan cukai Rp 300,3 juta dan PNBP Rp 534,1 triliun. Sementara itu, belanja mencapai Rp 2.602,3 triliun atau 96,3% dari perkiraan.[]

ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *