Ramadhan sebagai Penguat Karakter Bangsa

by

Penulis : Drs. H AMRUN SALEH M.A.

RAMADHAN bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi madrasah rohani yang membentuk karakter individu sekaligus memperkuat nasionalisme dan patriotisme. Dalam perspektif tafsir tarbawi, puasa merupakan proses pendidikan ilahiah yang bertujuan melahirkan insan bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183). Takwa tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi melahirkan tanggung jawab sosial dan komitmen kebangsaan. Nilai ini menjadi fondasi moral bagi lahirnya warga negara yang berintegritas dan mencintai tanah air.

Dalam realitas masyarakat, Ramadhan memperlihatkan kesenjangan sosial yang nyata. Bagi masyarakat tidak mampu, kenaikan harga kebutuhan pokok dan keterbatasan ekonomi menjadi ujian tersendiri.

Sementara bagi masyarakat yang lebih mapan, Ramadhan kadang justru diwarnai budaya konsumtif dan pemborosan. Tafsir tarbawi memandang kondisi ini sebagai ruang pendidikan karakter kolektif. Puasa mengajarkan empati lintas kelas sosial; yang berkecukupan dididik untuk peduli, sementara yang kekurangan dimuliakan melalui solidaritas. Dari sinilah tumbuh rasa persaudaraan sebangsa-bahwa penderitaan satu kelompok adalah tanggung jawab bersama.

Nasionalisme dalam konteks Ramadhan bukan sekadar simbolik, tetapi terwujud dalam aksi nyata: berbagi takjil, membayar zakat, menguatkan UMKM lokal, hingga menjaga stabilitas sosial dengan sikap sabar dan tidak provokatif.

Patriotisme juga tampak dalam menjaga produktivitas kerja meski sedang berpuasa, karena mencintai bangsa berarti tetap memberikan kontribusi terbaik. Puasa melatih disiplin, pengendalian diri, dan kejujuran-nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam membangun tata kelola negara yang bersih dan berkeadilan.

Ramadhan juga memperkuat semangat persatuan dalam keberagaman. Di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, suasana Ramadhan sering menghadirkan harmoni sosial: umat agama lain turut menghormati yang berpuasa, dan umat Islam menjaga sikap toleran. Dalam pendekatan tafsir tarbawi, inilah pendidikan kebangsaan berbasis nilai Qur’ani-membangun moderasi (wasathiyah), menolak ekstremisme, dan meneguhkan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan).

Dengan demikian, Ramadhan adalah laboratorium pendidikan karakter nasional. Ia membentuk warga yang peduli pada sesama, berjiwa rela berkorban, serta siap menjaga persatuan.

Jika nilai-nilai puasa-empati, disiplin, solidaritas, dan pengendalian diri-diinternalisasikan secara konsisten, maka lahirlah generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga patriotik dalam kehidupan berbangsa. Dari pribadi yang bertakwa akan tumbuh masyarakat yang bersatu, dan dari masyarakat yang bersatu akan lahir bangsa yang kuat dan bermartabat.[]

Artikel ini merupakan opini penulis, seluruh isi di luar tanggungjawab redaksi, sepenuhnya tanggungjawab penulis.

Direkomendasikan untuk anda baca 👇

ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *