BANDA ACEH – Penanews.co.id – Ada pemandangan unik di Museum Tsunami Aceh pada Sabtu (18/4/2026). Ridwan Kamil tampil tak biasa, dia melepas sejenak atribut formalnya untuk turun tangan langsung menjadi pemandu wisata (tour guide) bagi para tamu internasional yang merupakan arsitek dari mancanegara
Dengan gaya santai, Kang Emil memandu rombongan menyusuri setiap sudut museum, mulai dari lantai dasar hingga rooftop. Ia menjelaskan secara rinci konsep desain, filosofi ruang, hingga makna di balik setiap elemen bangunan yang ia rancang.
Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian International Conference on Natural & Human Disaster 2026 yang diselenggarakan oleh International Union of Architects melalui program Natural and Human Disasters. Para peserta konferensi diajak meninjau langsung Museum Tsunami Aceh sebagai contoh arsitektur yang lahir dari tragedi, namun berfungsi sebagai ruang edukasi dan refleksi.
Ridwan Kamil mengungkapkan bahwa museum yang mulai dirancang pada 2007 dan diresmikan pada 2009 tersebut memiliki makna emosional mendalam baginya. Bangunan ini terinspirasi dari Tsunami Samudra Hindia 2004 yang menelan banyak korban jiwa.
“Saya mendesain ratusan bangunan, tapi yang membuat saya meneteskan air mata hanya saat mendesain museum ini. Karena di baliknya ada begitu banyak kenangan dan korban,” ujarnya dikutip dari kontruksi media.
Di bawah panduannya, para arsitek dunia tidak hanya mengagumi struktur bangunan, tetapi juga merasakan atmosfer emosional yang dihadirkan museum. Beberapa peserta bahkan tampak terharu saat menyaksikan visual dan narasi tentang dahsyatnya tsunami 2004.
Kang Emil mengaku bahagia melihat museum tersebut kini ramai dikunjungi, terutama oleh kalangan pelajar. Menurutnya, antusiasme generasi muda dalam mempelajari sejarah bencana menjadi kunci penting dalam membangun masa depan yang lebih tangguh.
“Dengan belajar, kita bisa memahami dan menyiapkan masa depan yang lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara DR3 Aceh 2026, Aimee Roslan, menyampaikan bahwa kunjungan lapangan ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesadaran akan mitigasi bencana.
Ia menilai pengalaman langsung di Museum Tsunami Aceh memberikan pemahaman mendalam tentang dampak bencana serta upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam mengantisipasi kejadian serupa di masa depan.
“Tujuan kunjungan ini untuk memahami apa yang terjadi saat tsunami 2004, sekaligus melihat langkah-langkah mitigasi yang telah dilakukan. Ini juga menjadi pengingat penting bagi kita semua,” ujar Aimee.
Kunjungan ini menegaskan bahwa arsitektur tidak hanya berfungsi sebagai karya fisik, tetapi juga sebagai medium edukasi, refleksi, dan penguatan kesadaran kolektif dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.[]
Skip to content





