MOSKOW – Penanews.co.id – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat (ASN) Donal Trump dan Benyamin Netanyahu berupaya mencegah normalisasi hubungan antara Teheran dan negara-negara Arab serta melemahkan dukungan untuk Palestina.
“AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran untuk mencegah normalisasi hubungan Teheran dengan negara-negara Teluk,” kat Lavrov kepada Rusia Toda India, Kamis (15/5/2026) .
“Kampanye tersebut dimaksudkan untuk mendorong negara-negara Arab lebih dekat ke Israel dan menekan mereka agar meninggalkan dukungan untuk Palestina,_ tambahnya.
Iran menanggapi serangan udara AS-Israel yang diluncurkan pada 28 Februari dengan menargetkan pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk, bersama dengan infrastruktur energi dan pelabuhan yang terkait dengan operasi AS.
Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Rabu, Lavrov mengutuk serangan terhadap Iran sebagai “tanpa provokasi” dan menggambarkan tanggapan Teheran sebagai tindakan membela diri.
“Saya tidak ragu bahwa ketika rencana untuk memicu agresi terhadap Iran sedang disusun, salah satu tujuannya adalah untuk mencegah normalisasi hubungan antara Iran dan negara-negara Arab,” kata Lavrov.
“Sekarang, segala upaya dilakukan untuk memastikan bahwa rekonsiliasi tidak akan pernah terjadi.”
Lavrov berpendapat bahwa AS menekan negara-negara Arab untuk “memaksa mereka mengkhianati perjuangan Palestina.”
Ia juga menuduh Washington menggunakan taktik “neokolonial” untuk “memaksa semua orang membeli minyak AS dan gas alam cair yang mahal daripada minyak Rusia yang murah.”
“Mereka berupaya menguasai dunia melalui pengendalian pasokan energi global,” tambah Lavrov.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Rabu bahwa ia secara diam-diam melakukan perjalanan ke Uni Emirat Arab (UEA) pada puncak perang dan menggambarkan perjalanan itu sebagai “terobosan bersejarah.” UEA membantah bahwa kunjungan itu terjadi.
Media melaporkan pekan ini bahwa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melakukan serangan udara rahasia terhadap Iran selama konflik tersebut.
Uni Emirat Arab membantah klaim tersebut, meskipun Arab Saudi tidak mengkonfirmasi maupun membantah laporan tersebut. Para pejabat Iran menuduh negara-negara Teluk memfasilitasi serangan terhadap wilayah Iran dan menyerukan AS untuk menarik diri dari kawasan tersebut.[]
Skip to content



