
FRANKFURT — Warga Negara Indonesia (WNI) yang beragama islam meskipun berada di Jerman, tetap menggelar shalat Idulfitri dan tahun ini sholat idulfitri digelar dilapangan, layaknya di Indonesia. Salat Idulftiri 1446 H di lapangan di Jerman ini bukan untuk yang pertama kali, tapi telah dilaksanakan sejak pandemi Covid-19, 3 tahun lalu.

“Pada tahun 2022 waktu corona itu kan enggak boleh di ruangan. Tahun 2021-2022 diizinkan oleh pemerintah Jerman untuk memakai lapangan, untuk ber-idulfitri di lapangan. Dan yang di Frankfurt (Jerman) itu baru pertama kali saya ikut organisir dan tahun ini diadakan juga,” ungkap Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jerman Raya Diyah Nahdiati dalam sebuah wawancara eksklusif pada Kamis (27/3).

Diyah mengaku, salat Idulfitri yang akan digelar di lapangan tahun ini akan menjadi yang keempat kalinya. Bermula dari pandemi Covid-19 pada awal 2020 yang tidak memperbolehkan aktivitas di dalam ruangan. Maka, pada tahun 2022 komunitas muslim Indonesia yang tergabung dengan muslim dari negara lain mendaftar dan meminta izin ke pemerintah untuk salat Iduladha di lapangan.

Diyah merasa kekeluargaan dalam komunitas muslim Indonesia khususnya di Frankfurt cenderung lebih kuat karena tinggal di mancanegara, jauh dari Indonesia. Perayaan Idulfitri pun menjadi momen untuk berkumpul dengan WNI Muslim lainnya.
Kebersamaan ini terjalin antara komunitas-komunitas muslim Indonesia tak terkecuali Muhammadiyah di dalamnya.
“Anggota cukup banyak tapi menyebar, sehingga kita kalau idulfitri tidak hanya warga Muhammadiyah saja tapi kita menyatu dengan masyarakat muslim Indonesia,” kata Diyah.
Di Frankfurt sendiri, komunitas muslim Indonesia memiliki Masjid Indonesia-Frankfurt. Di dalamnya, unsur PCIM Jerman Raya aktif berkegiatan dan menjadi tempat yang hangat untuk berkumpul.

“Nah, tahun ini sangat spesial karena langsung begitu (selesai) salat idulfitri, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt mengadakan Open House gitu, halal bi halal di hari tersebut,” tutur Diyah.
Salat Idulfitri akan dilaksanakan pukul 9 hingga 10 pagi waktu setempat. Sedangkan, pada pukul 11, akan dilaksanakan acara Open House bertempat di Wisma KJRI Frankfurt.
“Di sana ada opor, menu-menu Indonesia dan biasanya itu yang bikin semangat kita untuk saling selain bersilaturahmi, saling memaafkan, berkumpul,” tambahnya.
Merawat Hubungan dengan Lingkungan Sosial
Salah satu usaha merawat hubungan dengan masyarakat non-muslim di Frankfurt, Masjid Indonesia-Frankfurt mengadakan Open House untuk mengenalkan budaya Indonesia. Masjid Indonesia-Frankfurt sendiri tidak dikenal dengan nama demikian, tapi sebagai kelompok muslim Indonesia non-profit.
“Jadi, kita kalau buka puasa suka kalau ada yang masih kerja di kantor, kita kasih makan. Jadi hubungannya baik,” katanya.
Ketika ramadan, panitia Masjid pun menghimbau jamaah supaya ramah lingkungan. Jadi, jamaah membawa alat makan sendiri. Di sisi lain, panitia mengupayakan tidak memakai kotak sterofoam melainkan wadah yang bisa dicuci dan digunakan kembali supaya tidak sekali pakai berakhir di tempat sampah.
“Terus juga kalau idulfitri di lapangan malah ini yang di-arrange sama temen saya orang Turki itu di-support oleh non-muslim. Tapi memang perjuangan sampai ke arah sana nggak mudah. Tapi kan kita menunjukkan kalau di sini menjalankan ibadah sesuai agamanya itu menjadi hak kita,” jelasnya.
Diyah meyakini, kalau muslim Indonesia bisa berintegrasi dengan elemen lokal dan menjadi inklusif di kegiatan masyarakat, maka masyarakat non-muslim pun akan sendirinya bersimpati dan bersahabat.[]

Sumber Muhammadiyah.or.id

