KOTA JANTHO – Penanews.co.id —Persoalan banjir tahunan yang merendam tujuh gampong di kawasan Kemukiman Lam Ara, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, kian memprihatinkan. Kondisi ini memicu para tokoh masyarakat untuk mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Besar segera melakukan langkah konkret melalui normalisasi drainase.
Guna merumuskan solusi, para pimpinan desa menggelar rapat koordinasi di kawasan Lampeneurut, Sabtu (09/05/2026).
Pertemuan yang dipimpin Imuem Mukim Lam Ara, Hamidi Usman, tersebut dihadiri oleh jajaran Keuchik dari Gampong Ulee Tuy, Ulee Lueng, Lambheu, Daroy Kameu, Kandang, dan Tingkem, serta turut didampingi Imuem Mukim Daroy Jeumpet.
Fokus utama pembahasan adalah rencana normalisasi parit induk sepanjang 2.000 meter yang melintasi gampong-gampong tersebut. Hamidi menegaskan bahwa akar masalah terletak pada saluran utama yang telah bertahun-tahun tidak mendapatkan perawatan.
“Persoalan utama ada di saluran yang memanjang mulai dari Gampong Ulee Tuy hingga depan salah satu gerai kopi di Gampong Tingkem. Selain dipenuhi semak belukar, di ujung parit tersebut berdiri bangunan papan yang tiang penyangganya dipancang persis di dalam saluran,” ungkap Hamidi.
Kondisi ini diperparah dengan masifnya pembangunan ruko dan perumahan di sepanjang kawasan tersebut yang tidak dibarengi dengan sistem drainase memadai.
Pertumbuhan hunian baru dituding menjadi faktor penyumbat aliran air yang berdampak langsung pada lima gampong, mulai dari Ulee Tuy hingga Daroy Kameu.
“Saluran dari Gampong Ulee Tuy hingga Tingkem sebenarnya sudah ada, namun fungsinya mati total karena terabaikan tanpa pembersihan. Akibatnya, setiap hujan turun, tujuh desa di sini selalu terendam,” tambah mantan Anggota DPRK Aceh Besar ini.
Berdasarkan hasil kesepakatan rapat, para pimpinan desa di Kemukiman Lam Ara dan Daroy Jeumpet secara resmi memohon kepada Bupati Aceh Besar untuk segera menginstruksikan dinas terkait melakukan pengerukan dan perbaikan parit.
“Kami sangat berharap Bapak Bupati segera mengambil tindakan nyata. Normalisasi parit sepanjang 2.000 meter ini adalah kebutuhan mendesak agar warga terbebas dari ancaman banjir yang terus berulang setiap musim penghujan,” pungkas Hamidi.[]
Skip to content





