Ungkap Kisah Nabi Dihadiahi Kijang, Menag: Tak Semua Pemberian Dicap Gratifikasi

by
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan kerukunan kepada ribuan peserta Jalan Santai Lintas Iman dalam rangka perayaan 219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta | Foto Kemenag RI

JAKARTA – Penanews.co.id – Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang menerima hadiah seekor kijang dari warga Arab. Melalui narasi tersebut, beliau menekankan bahwa tidak setiap bentuk pemberian yang didasari rasa ikhlas harus selalu dicap sebagai gratifikasi.

​KIsah tersebut diceritakan oleh Nasaruddin saat ia memberikan sambutan dalam perayaan HUT ke-219 Keuskupan Agung Jakarta di Gereja Katedral, Sabtu (9/5/2026). Di hadapan para jemaat, beliau mengisahkan Nabi Muhammad Saw pernah menolong seekor kijang.

​Dikisahkannya, bahwa suatu ketika Rasulullah melintas di depan kediaman seorang warga Arab yang memiliki seekor kijang yang baru saja melahirkan. Dalam penuturan Nasaruddin, kijang yang terikat itu memohon kepada Nabi agar dibebaskan sejenak supaya bisa mencari makanan bagi dirinya sendiri.

Pada saat itu, Nabi Muhammad tengah lewat di depan rumah orang Arab. Di depan rumah itu terdapat kijang yang baru melahirkan. Nasaruddin mengisahkan bahwa kijang itu minta kepada Nabi Muhammad supaya ikatannya dilepas karena ingin mencari makan.

“Kijangnya manggil: ‘Ya, Nabi, Nabi, Nabi, tolong ikatan leher saya ini dibuka’. Induk kijang besar tuh. Pengawal Nabi, sahabat Nabi (bertanya) ‘Kenapa berhenti?’, ‘Anda tidak tahu bahasanya kijang, saya tahu artinya. Dia berteriak memanggil saya’. Artinya apa? Tolong saya, tali ikatan leher saya ini dilepas,” kata Nasaruddin menirukan percakapan Nabi Muhammad.

Setelah Nabi Muhammad melepaskan kijang dari ikatannya, induk kijang itu berlari untuk mencari makan. Beberapa saat kemudian kijang itu kembali dalam keadaan kenyang sehingga bisa untuk menyusui anak-anaknya. Nabi Muhammad kemudian mengikatkan kembali tali ke leher kijang.

“Begitu Nabi mengikatkan lehernya, datang yang punya, ‘Ya, Nabi, ada apa engkau mau datang ke tempat kami? Satu kebanggaan. Kenapa kau pegang kijang itu? Kalau Anda ingin ambil, ambil. Ambil kijang itu, di sini insyaallah kami bisa tangkap lagi’,” katanya.

Pemilik kijang tersebut memberikan kijang kepada Nabi Muhammad. Nasaruddin mengatakan kisah itu bisa diambil pelajaran bahwa semua pemberian yang tulus dan hadiah itu gratifikasi.

“Ini pembelajaran, Bapak, Ibu, kalau kita dikasih hadiah seseorang dengan penuh ketulusan, tidak semua hadiah itu gratifikasi. Ini tulus kok, dikasih,” kata Nasaruddin.

Ia melanjutkan Nabi Muhammad menerima pemberian itu dengan penuh penghargaan. Bahkan Nabi disebut membawa sendiri kijang tersebut tanpa meminta bantuan sahabatnya.

“Itu caranya seorang tokoh yang baik menghargai pemberian orang. Dia nggak minta ajudannya, asistennya, ‘tolong ambil itu’. Dia sendiri yang bawa kijang itu,” ujarnya.

Namun, lanjut Nasaruddin, Nabi Muhammad pada akhirnya kembali melepaskan kijang tersebut agar bisa kembali merawat anak-anaknya di alam bebas.

“Biarkan dia kembali membesarkan anak-anaknya. Ini hewan langka,” tutur Nasaruddin menirukan ucapan Nabi Muhammad.

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga mengajak masyarakat untuk lebih menyayangi binatang dan menjaga alam. Menurutnya, kasih sayang terhadap makhluk hidup merupakan bagian dari ajaran agama dan nilai kemanusiaan.

“Mari kita menyayangi binatang, mari kita menyayangi burung, dan kalau kita menyayangi semua, langit pun akan sayang terhadap kita,” katanya.

Acara HUT ke-219 KAJ turut dihadiri Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo, serta tokoh lintas agama lainnya.[]

Sumber detiknews