JAKARTA – Penanews.co.id – Sungai Meureudu yang mengalir membelah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, menjadi sungai utama yang menampung aliran dari berbagai anak sungai sebelum akhirnya bermuara ke Selat Malaka. Kondisi geografis tersebut menjadikan kawasan hilir berada dalam posisi rawan, terutama ketika wilayah hulu diguyur hujan deras dengan durasi panjang.
Situasi itu mencapai titik terparah pada akhir November 2025 saat fenomena Siklon Senyar memicu hujan berintensitas sangat tinggi. Curah hujan ekstrem tersebut menyebabkan peningkatan debit air secara signifikan hingga melampaui daya tampung sungai dan memicu luapan air di sejumlah titik
Banjir kiriman tersebut tidak hanya membawa massa air, tetapi juga material destruktif berupa potongan kayu, sampah, pasir, hingga bebatuan besar yang menghantam infrastruktur vital, termasuk memutus jembatan penyeberangan di Gampong Lhok Sanding, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya (Pijay).
Pasca-penanganan darurat, pemerintah kini berfokus pada fase pemulihan infrastruktur demi mengembalikan konektivitas warga yang sempat lumpuh total. Hingga hari Minggu (22/2), pembangunan kembali akses tersebut diwujudkan melalui proyek strategis jembatan gantung yang merupakan hasil kolaborasi solid antara tim ahli dari Vertical Rescue Indonesia dan prajurit Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 836/Brahma Yodha (Yonif TP 836/BY).
Dengan dukungan penuh material bangunan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tim gabungan ini terus berjibaku siang dan malam guna memastikan pembangunan berjalan sesuai target, mengingat peran jembatan ini sangat krusial dalam memulihkan roda ekonomi dan memangkas jarak tempuh warga.
Saat ini, akumulasi progres fisik pembangunan secara keseluruhan telah mencapai 65 persen. Secara teknis, sejumlah tahapan utama telah berhasil dituntaskan hingga 100 persen, meliputi pengeboran besi palang, pembentangan enam sling utama (atas dan bawah), mobilisasi material batu dan pasir ke titik A dan B, serta pengecatan dasar atau meni pada gapura di kedua sisi jembatan.
Percepatan kini dialihkan pada berbagai struktur pendukung lainnya agar jembatan dapat segera difungsikan secara aman.
Pekerjaan pada pondasi di titik A, pembentangan sling pagar horizontal, pemotongan sling rawayan, serta pembuatan plang gapura dan turunan tepi jauh kini telah memasuki tahap penyelesaian akhir dengan rata-rata progres antara 90 hingga 95 persen.
Di sisi lain, tim di lapangan tetap memacu pemasangan palang yang telah mencapai 45 persen serta pengecatan akhir gapura sebesar 30 persen. Fokus pengerjaan juga diarahkan pada pembuatan dudukan sling horizontal serta struktur sayap jembatan.
Sinergi antara keahlian teknis medan ekstrem dari Vertical Rescue dan dedikasi personel teritorial Yonif TP 836 memastikan jembatan ini dibangun dengan standar keamanan tinggi untuk mengakhiri keterisolasian warga Gampong Lhok Sanding.[]
Direkomendasikan untuk anda baca juga 👇
Skip to content





