BANDA ACEH – Penanews.co.id – Setelah hampir dua dekade diselimuti keheningan tanpa suara tangis bayi, wilayah Eunha di Distrik Hongseong, Korea Selatan akhirnya punya “napas baru”. Maret 2026 menjadi catatan sejarah bagi warga setempat saat menyambut kelahiran Yong-jun, bayi laki-laki pertama yang lahir di desa tersebut dalam 17 tahun terakhir.
Kehadiran Yong-jun bukan sekadar menambah angka populasi. Bagi warga Eunha, ia adalah simbol harapan di tengah ancaman kepunahan komunitas.
Kelahiran ini langsung disambut meriah. Spanduk ucapan selamat orang sekampung terpasang di berbagai sudut desa. Warga bahkan menyebut Yong-jun sebagai “warga spesial”, simbol harapan baru di tengah kekhawatiran akan masa depan komunitas.
Salah satu spanduk berbunyi, “Hadiah bermakna hadir untuk kami di tahun 2026. Selamat atas kelahiran bayi Yong-jun.”
Yong-jun merupakan putra dari pasangan Jeong Hae-deok dan SYardani, perempuan keturunan Kamboja yang kini menetap di desa tersebut. Kehadirannya tak hanya disambut sebagai anggota keluarga baru, tetapi juga titik terang bagi komunitas yang perlahan menyusut.
Dalam satu dekade terakhir, populasi Eunha turun dari lebih dari 2.600 menjadi di bawah 2.000 jiwa. Sebagian besar penduduknya adalah lansia, sementara angka kelahiran nyaris tak ada.
Suara tangisan bayi pun seperti sesuatu yang lama dirindukan. Kebahagiaan warga semakin terasa ketika pada bulan yang sama, satu-satunya sekolah dasar di desa tersebut menerima empat siswa baru di kelas satu-sebuah angka kecil, namun berarti besar bagi keberlangsungan komunitas.
Kepala pemerintahan setempat, Shim Seon-ja, menyebut kelahiran Yong-jun sebagai kebahagiaan terbesar yang dirasakan wilayah itu dalam bertahun-tahun.
“Kami berkomitmen memberikan dukungan administratif dan kesejahteraan semaksimal mungkin, agar tempat ini tidak hanya menjadi desa yang damai, tetapi juga lingkungan terbaik untuk membesarkan anak,” ujarnya.
Kelahiran bayi pertama setelah 17 tahun di Eunha menjadi potret kecil dari persoalan yang lebih besar di Korea Selatan. Negara tersebut tengah menghadapi krisis demografi serius, dengan angka kelahiran yang terus menurun.
Pada 2023, tingkat kelahiran Korea Selatan tercatat hanya 0,72-terendah di dunia dan jauh di bawah angka ideal 2,1 untuk menjaga populasi tetap stabil. Sementara itu, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas kini mencapai lebih dari 21% dari total populasi, menempatkan negara ini dalam kategori ‘super-aged society’.
Berbagai kebijakan digelontorkan pemerintah demi mendorong angka kelahiran. Pemerintah setempat memberikan bantuan finansial, fasilitas penitipan anak gratis, hingga kemudahan akses hunian bagi pasangan muda.[]
Sumber CNBC Indonesia
Skip to content





