BANDA ACEH – Penanews.co.id—Di tengah meningkatnya kerentanan generasi muda terhadap narkoba, UIN Ar-Raniry bersama Yayasan Amanah mendorong solusi yang lebih mendasar: membangun kompetensi, mengubah mindset, dan membuka akses ke ekosistem kreatif global.
Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Rektor UIN Ar-Raniry pada 31 Maret 2026 itu mempertemukan Ketua Yayasan Amanah, Dr. Syaifullah Muhammad, dengan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman. Momentum ini menandai penguatan sinergi strategis dalam pembinaan pemuda Aceh.
Fokus kolaborasi tidak berhenti pada pencegahan narkoba semata, tetapi membenahi akar persoalan: minimnya ruang aktualisasi dan rendahnya produktivitas generasi muda. Kedua pihak sepakat, narkoba bukan hanya persoalan hukum, melainkan gejala kegagalan ekosistem. Ketika potensi tidak terkelola, ruang kosong kerap diisi aktivitas destruktif.
“Pemuda Aceh tidak kekurangan potensi, tetapi membutuhkan ekosistem yang mampu mengubahnya menjadi daya saing,” ujar Syaifullah.
Syaifullah menguraikan, UIN Ar-Raniry diposisikan sebagai simpul perubahan—bukan sekadar institusi akademik, melainkan pusat inovasi terbuka yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan industri dan dinamika global.
“Kolaborasi ini diarahkan pada program konkret
berbasis industri kreatif, inkubasi kewirausahaan, serta penguatan jejaring internasional” tuturnya.
Ia menjelaskan, Pendekatan yang diusung menekankan transformasi dari fixed mindset ke growth mindset.
“Pemuda didorong melihat tantangan sebagai peluang, sembari memperkuat soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kolaborasi, serta hard skill yang relevan dengan kebutuhan pasar,” jelasnya.
Selain itu, sertifikasi kompetensi diproyeksikan menjadi instrumen penting untuk meningkatkan legitimasi dan daya saing, baik di tingkat nasional maupun global.
Langkah ini dinilai krusial di tengah momentum bonus demografi Aceh. Tanpa intervensi yang tepat, potensi tersebut berisiko menjadi beban. Sebaliknya, dengan strategi yang terarah, generasi muda dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi sekaligus agen perubahan sosial.
Pertemuan ini mencerminkan pergeseran pendekatan dari reaktif menjadi proaktif. Dari sekadar mengatasi dampak, menuju membangun sistem yang mencegah sejak akar.
“Aceh tidak kekurangan talenta yang dibutuhkan adalah ekosistem yang mampu mengorkestrasi potensi menjadi kekuatan nyata,” pungkasnya.[]
Skip to content





