Ini 9 Mitos yang Menyebabkan Wanita Menolak Pap Smear, Berikut Faktanya

by -67 Views


BANDA ACEH – Penanews.co.id – Menjaga kesehatan serviks sebenarnya bisa dimulai dengan satu langkah sederhana: pemeriksaan Pap smear secara rutin. Metode ini terbukti menjadi salah satu senjata paling ampuh untuk mendeteksi dini kanker serviks, tepat saat sel-sel abnormal masih sangat mudah diobati. Sayangnya, fasilitas medis ini masih sering dilewatkan.

Faktor utamanya? Banyak wanita yang belum tahu, atau justru telanjur takut karena termakan mitos yang keliru.

Untuk meluruskan simpang siur ini, Dr. Pallavi Vasal, seorang pakar Kebidanan dan Ginekologi dari Rumah Sakit Marengo Asia, Gurugram, seperti dilansir health Shots: membagikan fakta medis sekaligus membongkar sembilan mitos tentang Pap smear yang paling sering dipercaya masyarakat.

9 mitos umum tentang pap smearmenurut Dr. Pallavi Vasal

Mitos: Jika tidak ada gejala seperti infeksi vagina atau pendarahan di antara siklus menstruasi, Anda tidak perlu melakukan tes Pap.

Fakta: Jadi, kenyataannya tidak seperti itu, prakanker serviks dan kanker serviks stadium awal seringkali tidak menimbulkan gejala. Pemeriksaan rutin mendeteksi sel abnormal dan sel prakanker sebelum menyebabkan penyakit serius lainnya.

Mitos: Hanya perempuan yang aktif secara seksual yang membutuhkan tes Pap.

Fakta: Rekomendasi pemeriksaan didasarkan pada usia, riwayat aktivitas seksual, dan riwayat medis. Bahkan jika seorang wanita saat ini tidak aktif secara seksual, pemeriksaan tetap penting.

Mitos: Pemeriksaan Pap smear normal menyingkirkan semua jenis kanker ginekologi.

Fakta: Pap smear terutama digunakan untuk mendeteksi kelainan sel serviks dan kanker serviks. Tes ini tidak mendeteksi kanker ovarium, rahim, atau sebagian besar kanker ginekologi lainnya.

Mitos: Banyak perempuan salah percaya bahwa tes Pap itu menyakitkan, sehingga mereka menghindarinya.

Fakta: Tapi itu tidak benar. Memang sedikit tidak nyaman, tetapi sama sekali tidak sakit.

Mitos: Setelah divaksinasi terhadap HPV, Anda tidak perlu lagi melakukan tes Pap smear.

Fakta: Vaksinasi HPV bertujuan untuk pencegahan terhadap virus penyebab kanker serviks, dan tes Pap bertujuan untuk mendeteksinya pada tahap prakanker; keduanya harus dilakukan secara bersamaan.

Mitos: Satu hasil Pap smear normal tidak berarti seorang wanita tidak akan pernah terkena kanker serviks.

Fakta: Pemeriksaan rutin sebaiknya dilanjutkan setiap 3 tahun sekali bagi mereka yang berusia 21-65 tahun.

Mitos: Setelah menopause, pemeriksaan Pap smear tidak lagi diperlukan.

Fakta: Itu tidak benar. Semua wanita sebaiknya menjalani tes Pap setiap 3 tahun sekali atau tes Pap + HPV setiap 5 tahun sekali mulai usia 21 hingga 65 tahun.

Mitos: Tes Pap smear tidak memengaruhi kesuburan atau kehamilan.

Fakta: Hasil Pap smear yang abnormal tidak selalu berarti Anda mengidap kanker; itu menandakan perubahan sel kecil, infeksi HPV, atau perkembangan prakanker yang dapat dipantau atau diobati.

Mitos: Tes Pap smear itu memalukan, jadi tidak apa-apa untuk melewatkannya.

Fakta: Sama sekali tidak. Dokter melakukannya secara profesional dan rutin.[]

ya