WASHINGTON – Penanews.co.id – Bentrokan kekerasan mematikan di atas kapal induk USS Abraham Lincoln, telah merenggut nyawa tujuh personel Angkatan Laut AS dan melukai beberapa orang lainnya.
Insiden ini seiring meningkatnya keresahan di antara awak kapal induk tersebut yang mengungkap tekanan yang semakin besar di dalam militer AS di tengah penugasan yang berkepanjangan.
Kapal USS Abraham Lincoln ini menjadi salah satu kapal induk canggih AS yang dikerahkan selama perang melawan Iran berkecamuk.
Kapal induk tersebut, yang membawa sekitar 5.000 pelaut dan Marinir, telah dikerahkan sejak 21 November dan tetap berada di laut selama lebih dari delapan bulan seiring berlanjutnya agresi militer AS terhadap Iran.
Laporan soal bentrokan sengit di kapal induk AS itu, seperti dilansir Press TV, Rabu (12/6/2026), disampaikan oleh kantor berita Iran, Tasnim News Agency, yang mengutip sumber militer terpercaya.
Menurut Tasnim, Insiden itu meletus setelah seorang penasihat kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, naik ke kapal induk untuk menanggapi keluhan yang semakin banyak dari anggota kru menyusul protes dari keluarga mereka atas penempatan kapal yang berkepanjangan, menurut Kantor Berita Tasnim, mengutip sumber militer yang mengetahui informasi tersebut.
Penasihat tersebut dilaporkan dicemooh dan dilempari botol air saat berpidato di hadapan para personel.
Konfrontasi tersebut kemudian meningkat menjadi perkelahian antar awak kapal yang melibatkan pisau dan senjata tajam lainnya, mengakibatkan tujuh personel tewas dan beberapa lainnya terluka, menurut sumber tersebut.
Kapal Abraham Lincoln telah dikerahkan selama 263 hari dan saat ini beroperasi di Samudra Hindia, di mana misi utamanya adalah untuk menegakkan blokade angkatan laut ilegal terhadap Iran.
Kapal induk tersebut telah menghabiskan 208 hari berturut-turut di laut, penempatan berkelanjutan terpanjang dari kapal induk AS mana pun di era modern, selain singgah sebentar di Oman pada bulan Juli.
Kekerasan yang dilaporkan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran atas kondisi hidup dan kerja yang dihadapi oleh sekitar 5.000 pelaut dan Marinir di atas kapal induk tersebut.
Para personel dilaporkan memprotes kekurangan pasokan makanan, dengan porsi makan dikurangi menjadi hanya setengah cangkir nasi dan dua potong daging. Fasilitas laundry kapal juga tidak beroperasi selama dua minggu, sementara jamur di area kamar mandi telah menyebabkan infeksi jamur di antara anggota kru.
Keluarga militer telah menyampaikan kekhawatiran tentang kelelahan, kesehatan mental, dan dampak dari tempo operasional yang berkepanjangan terhadap kemampuan awak pesawat untuk menjalankan tugas mereka dengan aman.
Pada pertemuan di San Diego hari Kamis, sekitar 200 kerabat menemui Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao untuk membahas kondisi di atas kapal induk dan kurangnya tanggal pasti untuk kepulangan para awak kapal.
Kematian yang dilaporkan di atas kapal Abraham Lincoln ini menyusul insiden serius lainnya yang melibatkan USS Gerald R. Ford. Pada 12 Maret 2026, kebakaran terjadi di tempat tinggal yang menampung sekitar 600 anggota kru, menyebabkan 200 personel terluka.
Kapal Gerald R. Ford kemudian membawa para korban luka ke fasilitas angkatan laut di pulau Kreta, Yunani, sebelum terpaksa kembali ke Amerika Serikat. []






