BANDA ACEH – Penanews.co.id – Minggu pagi di kawasan Car Free Day (CFD) Banda Aceh berlangsung semarak. Sepanjang Jalan Tgk H Daud Beureueh dipadati masyarakat dari berbagai kalangan yang memanfaatkan ruang publik untuk berolahraga, berekreasi, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Di tengah keramaian tersebut, suasana berbeda terlihat di salah satu titik kawasan CFD. Anak-anak dengan perlengkapan pelindung dan sepatu roda tampak antusias mengikuti Walikota Cup 2026 Kompetisi Sepatu Roda kategori pemula standard KUA-KUD, Minggu, 30 Agustus 2026.
Kegiatan yang digelar dalam semarak kemerdekaan tersebut tidak sekadar menjadi ajang kompetisi. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang pembinaan sekaligus pembelajaran bagi anak-anak untuk mengenal arti keseimbangan, fokus, kesabaran, kerja keras, dan pentingnya saling mendukung.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal yang hadir menyaksikan kegiatan tersebut berinteraksi langsung dengan para peserta. Didampingi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Banda Aceh Reza Kamilin beserta jajaran, Illiza menyapa para skater muda, termasuk mereka yang berhasil meraih juara.
Kepada anak-anak, Illiza juga memberikan apresiasi kepada para juara sekaligus menyemangati peserta yang belum berhasil meraih kemenangan untuk terus berlatih.
“Belum apa-apa sudah juara. Tapi yang belum juara harus kerja keras lagi. Minggu depan latihan lagi,” ujar Illiza menyemangati para peserta.

Dalam kesempatan itu, Illiza juga mengingatkan bahwa keberhasilan seorang skater tidak hanya ditentukan oleh kemampuan melaju di atas roda, tetapi juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan.
Menurutnya, pelajaran dari sepatu roda dapat diterapkan jauh lebih luas dalam kehidupan. Anak-anak belajar untuk tetap fokus, bersabar, saling membantu, membangun relasi, serta tumbuh bersama dalam komunitas.
“Karena seorang skater itu harus bisa menjaga keseimbangan. Kalau tidak seimbang, jatuh. Nah, hidup itu juga harus seimbang,” kata Illiza.
Ia menilai olahraga sepatu roda memiliki banyak nilai pembelajaran yang dapat membentuk karakter anak. Proses latihan yang tidak selalu mudah mengajarkan anak untuk menerima bantuan, kemudian berusaha hingga mampu berdiri dan melaju secara mandiri.
Dari proses tersebut, anak-anak tidak hanya ditempa untuk mengejar prestasi, tetapi juga belajar mengenai kesabaran, keberanian untuk mencoba kembali, serta pentingnya dukungan dari pelatih dan sesama anggota komunitas.
Illiza pun mengapresiasi peran para pelatih yang selama ini mendampingi dan membina para skater di Kota Banda Aceh. Ia mengajak anak-anak untuk menghargai kerja keras pelatih yang menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka mencapai prestasi.
Lebih jauh, Illiza berharap pembinaan yang dilakukan secara konsisten dapat melahirkan atlet-atlet muda yang mampu mengharumkan nama Kota Banda Aceh, Aceh, hingga Indonesia.
“Selain melatih olahraga, keseimbangan, fokus, dan kesabaran, anak-anak juga belajar berelasi dan berkomunitas. Insyaallah akan bisa tampil menjadi juara yang mengharumkan nama Kota Banda Aceh, nama Aceh, nama Indonesia,” ujarnya.

Bagi Pemko Banda Aceh, kehadiran kompetisi olahraga di ruang publik seperti CFD juga memperlihatkan bagaimana kawasan tersebut dapat menjadi wadah bagi berbagai aktivitas positif masyarakat. Olahraga dan rekreasi berlangsung berdampingan dengan interaksi sosial, menciptakan suasana kota yang aktif pada akhir pekan.
Walikota Cup 2026 menjadi salah satu bagian dari semangat tersebut. Kompetisi bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium, tetapi juga tentang proses panjang yang dilalui anak-anak untuk belajar, berlatih, jatuh dan bangkit kembali hingga menemukan keseimbangannya.
Dan sebagaimana pesan yang disampaikan Illiza kepada para skater muda, menjadi juara adalah hasil dari sebuah proses; sementara keseimbangan, kesabaran, fokus, dan kemauan untuk terus berlatih adalah bekal untuk menjalani perjalanan yang lebih panjang. (Riz)









