NGANJUK – Penanews.co.id – Guru MAN 3 Nganjuk berinisial S (56) mengembuskan napas terakhir lima hari setelah terlibat konflik dengan salah seorang siswa di sekolah.
Berdasarkan keterangan kepolisian, S diketahui memiliki riwayat penyakit hipertensi dan pernah mengalami stroke. Pihak keluarga menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak bersedia dilakukan visum terhadap jenazah.
Kasi Humas Polres Nganjuk AKP Fajar Kurniadhi mengatakan, informasi terkait kondisi kesehatan S diperoleh berdasarkan rekam medis yang dimiliki korban.
AKP Fajar menegaskan, sejauh pemeriksaan yang dilakukan, tidak ditemukan indikasi yang menunjukkan S meninggal dunia akibat tindak kekerasan yang dilakukan oleh siswa tersebut.
“Polres Nganjuk sudah ke kediaman Almarhum di Kediri. Keluarga menerima kejadian itu sebagai musibah. Dari rekam medis, almarhum sakit hipertensi dan stroke,” ujarnya.
Humas MAN 3 Nganjuk Ihwanus Sofa mengatakan, sebelum meninggal, Bapak S memang sempat mengalami cekcok dengan seorang siswa pada Selasa (1/9/2026). Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.30 WIB dan bermula ketika S menggunakan kamar mandi siswa yang berada di samping ruang kelas.
Menurutnya saat Cekgu itu berada di dalam toilet, seorang siswa datang dan hendak menggunakan fasilitas tersebut. Siswa itu kemudian menggedor beberapa pintu kamar mandi, termasuk pintu yang sedang digunakan S.
Atas prilaku siswa itu ia menduga S tersulut emosi. Setelah keluar dari kamar mandi, S kemudian mencari siswa yang sebelumnya menggedor pintu.
Sofa menyebut S diduga hendak menjewer siswa tersebut sebagai bentuk teguran. Namun, siswa bersangkutan menolak dan menangkis tangan S hingga tubuh guru tersebut terhuyung dan nyaris terjatuh.
“Mungkin, (S) mau menjewer atau gimana, tapi si anak itu menolak. Akhirnya (S) terhuyung dan hampir jatuh. Guru dan siswa yang ada di sekitar situ menolongnya,” ujar Sofa.
Setelah kejadian itu, kondisi di lokasi disebut kembali tenang. S juga sempat berniat melanjutkan aktivitasnya dengan kembali ke ruang kelas untuk mengajar.
Namun, ketika berjalan menuju kelas, kondisi S tiba-tiba berubah. Ia berhenti dan kemudian muntah sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
“Sesudah itu, almarhum tidak sadarkan diri. Almarhum dibawa ke Puskesmas terdekat kemudian dirujuk ke Rumah Sakit,” tutur Sofa.
S kemudian menjalani perawatan di rumah sakit selama kurang lebih lima hari. Ia akhirnya meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026).
Sofa menegaskan, pihak sekolah tidak memperoleh informasi mengenai adanya pemukulan atau tindakan kekerasan yang dilakukan siswa terhadap S hingga menyebabkan guru tersebut meninggal.[]
Sumber Tribun Lampung







