Mop Mop, Teater Rakyat Aceh Utara yang tergilas Modernisasi, Dilupakan Generasi

by

#Buleuen kapeut ngon buleuen trang, buleuen meugang tapreh-preh baja.
Pakiban hate hana teugang, breuh di leunggang abeh sep leuka…….

MALAM merayap kian pekat, menusuk hingga ke sudut-sudut kedai kopi senyap di pelosok Aceh Utara. Di remang cahaya yang kian redup, lengkingan biola mendadak pecah—meratap, meliuk pilu, seolah mengiris udara malam yang kian dingin. Dari panggung sunyi itu, dua pria tua mulai mengocok emosi lewat dialog jenaka penuh sindiran yang menghantam jiwa 21 September 2026.

Pria pertama bertelanjang rasa malu, bersolek bagai pengantin wanita (dara baroe). Gesturnya centil dan dibuat-buat, memancing gelak tawa yang terasa asing di tengah keheningan.

Lawannya menimpal dengan mulut yang sengaja dimonyong-monyongkan ke depan, menirukan gerakan mengunyah., membiarkan humor satire itu meledak di udara.

Itulah Mop Mop—atau Biola Aceh yang pernah bernyawa agung. Sebuah teater rakyat sakral yang dulu menyihir ribuan pasang mata dan menguasai malam-malam Aceh sejak era 1950-an hingga 1980-an.

Namun malam ini, panggung itu tidak digelar di alun-alun pasar kecamatan yang megah. Pertunjukan itu hanyalah sekelibat memori dan kerinduan dari segelintir seniman sepuh yang tersisa.

Mop Mop kini tengah tersandera. Ia terjebak di persimpangan zaman, berkejaran dengan kepunahan generasi dan derasnya arus modernisasi.

Senjata Kritik Berbalut Komedi

Secara etimologis, kata “Mop Mop” atau Mob-mob dalam bahasa Aceh merujuk pada aktivitas celoteh tanpa ujung. Nama unik ini lahir dari tingkah laku para pemainnya yang kerap berakting kocak dengan mulut monyong ke depan.

Berbeda dengan teater modern yang kaku dengan naskah tertulis, Mop Mop adalah panggung spontanitas. Pertunjukan tradisional ini umumnya dimainkan oleh tiga orang laki-laki: seorang Syech yang bertindak sebagai Yah Tuan (mertua) sekaligus pemain biola utama dan pengatur alur cerita, serta dua orang lainnya yang berperan sebagai pasangan pengantin baru (lintoe baroe dan dara baroe).

Kekuatan utama kesenian ini terletak pada kelihaian para pemainnya merangkai hadih maja (peribahasa/pantun Aceh) secara spontan untuk menyindir realitas sosial. Ketika membicarakan konflik rumah tangga akibat himpitan ekonomi, sang Syech akan menggesek biolanya dengan tempo cepat seraya bersyair:

“Buleuen kapeut ngon buleuen trang, buleuen meugang tapreh-preh baja.
Pakiban hate hana teugang, breuh di leunggang abeh sep leuka.”

(Bulan gelap dan bulan terang, bulan meugang menunggu pupuk datang. Bagaimana hati tidak tegang, beras di tampah habis tak bersisa.)

Mendengar itu, sang dara baroe (pria yang berdandan wanita) akan menyahut dengan gaya centil yang memancing tawa penonton:
“Gata hai kanda tapajoh mantong, ta’eue u kudoeng ta’eue u lua.

Dapu ka soh tanyoeng cit loeng,
peu keu loeng ta bri keu pangkai nyan hai bang?”
(Kamu ini.. wahai kanda makan saja kerjanya, melihat ke atas dan ke luar rumah. Dapur sudah kosong malah bertanya padaku, modal apa yang kamu berikan untuk itu wahai abang?)

Di balik dialog-dialog jenaka dan sahutan spontan yang memancing tawa tersebut, Mop Mop sebenarnya memegang peran penting dalam ruang sosial: ia adalah media kritik sosial yang tajam sekaligus sarana komunikasi warga yang paling jujur.

Napak Tilas Kejayaan Krueng Mane: Dari Pidie ke Panggung Nasional

Nostalgia kejayaan Mop Mop tidak bisa dilepaskan dari benang merah perjalanan para maestronya. Jauh sebelum konflik meredupkan panggung hiburan malam di Serambi Mekkah, Mop Mop adalah kesenian yang hidup sepanjang tahun, berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain layaknya pasar malam modern.
Pada tahun 1970-an, peta kesenian ini mengalami pergeseran sejarah yang manis.

Seorang maestro Mop Mop asal Pidie, Syekh Ali Basyah, memutuskan untuk menikah dan menetap di kawasan Krueng Mane, Aceh Utara. Kepindahan Syekh Ali Basyah membawa angin segar bagi geliat kebudayaan setempat. Di Krueng Mane inilah ia melatih dan membesarkan anak-anak asuhnya, melahirkan generasi emas pemain teater rakyat.

Salah satu murid terbaiknya yang kemudian tumbuh menjadi legenda adalah Syekh Seuhak. Dengan postur yang lincah dan kemampuan bersyair yang tajam, Syekh Seuhak bersama Syekh Ali Basyah sukses membawa Mop Mop Aceh Utara merambah panggung-panggung bergengsi, termasuk dalam ingatan sejarah Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Kehadiran mereka di atas panggung selalu menjadi jaminan riuhnya gelak tawa penonton hingga menjelang subuh.

Nama besar lain seperti Syekh Abdul Ghani (Syekh Ghani) dari kelompok Meurak Jeumpa Aceh juga melengkapi mosaik keemasan tersebut. Dengan dedikasi tinggi, Syekh Ghani sempat membawa keunikan Biola Aceh ini menembus panggung ibu kota di Jakarta pada dekade lalu, membuktikan bahwa bahasa daerah dan lawakan domestik mampu memukau penonton melintasi batas kultural.

Sunyinya Panggung dan Benteng Terakhir

Namun, putaran roda zaman tak bisa ditahan. Menatap panggung Mop Mop hari ini adalah menatap deretan kursi kosong. Syekh Ali Basyah, Syekh Seuhak, dan Syekh Ghani kini telah berpulang. Mereka pergi membawa serta separuh ingatan kolektif tentang masa kejayaan seni tutur komedik tersebut.

Kini, pertahanan Mop Mop di tanah Pase berada di titik paling kritis. Di seluruh lanskap Aceh Utara, tercatat hanya tersisa dua wadah kultural yang masih gigih menjaga denyut nadi kesenian ini: Sanggar Muara Batu dan Sanggar Meurak Jeumpa. Dua sanggar inilah yang menjadi saksi bisu betapa sunyinya perjuangan merawat tradisi di tengah gempuran zaman modern.

Di tengah kepungan nisan para maestro, Syeh Muhammadiah (atau akrab disapa Syeh Madiyah) berdiri tegak memimpin garis depan di Sanggar Muara Batu. Di usianya yang telah melampaui 70 tahun, seniman gaek ini masih setia merawat sisa-sisa ingatan kulturalnya.

Sore itu, di teras rumahnya yang bersahaja, Syeh Madiyah memandangi biolanya yang mulai kusam. Jemarinya yang berkerut perlahan mengusap senar instrumen yang telah menemaninya puluhan tahun tersebut.

“Dulu, kami tidak pernah istirahat. Dari panggung ke panggung, dari kampung ke kampung, hanya hari Jumat, bulan maulid dan bulan puasa kami libur,” kenang Syeh Madiyah dengan suara yang bergetar namun tatapan matanya menerawang jauh, mengingat riuh tepuk tangan masa lalu.

Ketika ditanya mengenai masa depan Mop Mop yang kini hanya bersandar pada lembaran sejarah Sanggar Muara Batu dan Sanggar Meurak Jeumpa, helaan napas panjang terasa berat keluar dari dadanya.

“Kawan-kawan saya—Syekh Seuhak, Syekh Ghani—semua sudah tidak ada. Mereka sudah menghadap Yang Kuasa. Sekarang tinggal kami yang tersisa di sanggar-sanggar ini untuk memegang biola. Kadang malam-malam saya berpikir, kalau besok lusa giliran saya yang dipanggil, ke mana biola dan cerita-cerita Mop Mop ini akan pergi?”

Syeh Madiyah mengaku sedih melihat minimnya ketertarikan anak muda hari ini.

“Anak-anak sekarang lebih suka melihat layar gawai daripada belajar memonyongkan mulut dan menyanyi teater rakyat. Menjadi Syech Mop Mop itu tidak mudah. Tangan harus lihai menggesek biola, sementara otak harus cepat merangkai pantun sindiran secara spontan. Jika tidak ada anak muda Aceh Utara yang mau duduk di Sanggar Muara Batu atau Meurak Jeumpa untuk belajar memegang biola ini, maka tamatlah riwayat Mop Mop,” ujarnya lirih.

Membebaskan Sang Teater Rakyat: Ikhtiar dari Menara Gading

Upaya untuk membebaskan Mop Mop dari “penyanderaan” zaman sebetulnya mulai bergulir dari ranah akademik. Menyadari kepunahan yang sudah di depan mata dan rapuhnya dua sanggar yang tersisa, para akademisi, peneliti, dan mahasiswa dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh gencar melakukan gerakan penyelamatan.

Kerja keras ini diawali dengan riset etnografi mendalam untuk mendokumentasikan setiap struktur pertunjukan yang tersisa dari ingatan Syeh Madiyah. Tidak berhenti di atas kertas, para akademisi ini juga menyusun modul revitalisasi seni tradisi dan turun langsung ke sekolah-sekolah menengah di Aceh Utara. Mereka menggelar workshop interaktif, mengajarkan dasar-dasar gesekan biola bernada melayu-aceh, serta melatih kepekaan siswa dalam merangkai bait-bait komedi spontan. Melalui pendekatan ilmiah dan kultural ini, dunia akademik mencoba menyuntikkan energi baru ke dalam Sanggar Muara Batu dan Sanggar Meurak Jeumpa untuk menjembatani jurang generasi yang sempat terputus.

Namun, dokumentasi dan workshop musiman tentu tidak cukup untuk membuat Mop Mop kembali bernapas legowo. Selama Syeh Madiyah dan dua sanggar sisa ini masih berdiri di tengah kita, transfer pengetahuan harus digalakkan secara masif dan terstruktur dengan dukungan penuh pemerintah daerah sebelum semuanya terlambat. Mop Mop membutuhkan ruang pertunjukan yang nyata, pengakuan resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang aktif, hingga adaptasi format digital agar tetap relevan dengan selera zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Mop Mop adalah warisan identitas kultural Aceh Utara yang tak ternilai. Sebelum gesekan biola terakhir dari Syeh Madiyah benar-benar senyap dan pintu dua sanggar tersisa itu tertutup rapat, sudah saatnya semua pihak bergerak bersama untuk menyelamatkan teater rakyat ini dari belenggu kepunahan.[]

sumber acehutarakab.go.id