BANDA ACEH — Penanews.co.id – Kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi diperkuat melalui konsultasi dan koordinasi Balai Wilayah (BWS) Sumatera I dengan Badan Meteorologi Klimatologi BMKG dan sejumlah pegawai serta staf ahli Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK),
Pertemuan tersebut yang berlangsung di Banda Aceh Rabu (30/09/2026), membahas langkah tanggap darurat dalam menghadapi potensi kemunculan siklon tropis serta penguatan koordinasi antarinstansi.
Langkah ini diharapkan dapat mendukung penyampaian informasi yang lebih cepat dan membantu masyarakat memperoleh perlindungan serta kesiapan yang lebih baik ketika terjadi bencana.
Koordinasi antarlembaga menjadi penting agar potensi ancaman dapat diketahui dan diantisipasi sejak lebih awal.
Menurut BWS, melalui pertukaran informasi dan penguatan komunikasi, diharapkan masyarakat di wilayah rawan dapat memperoleh informasi mengenai kondisi cuaca dan potensi bencana secara lebih cepat.
“Dengan demikian, masyarakat memiliki waktu untuk melakukan langkah kewaspadaan, mengamankan keluarga dan harta benda, serta mengikuti arahan dari instansi terkait saat kondisi darurat terjadi,” sebut BWS Sumatera.
BWS Sumatera I juga telah menjalin kerja sama dengan BMKG dalam mendukung Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi (SIH3).
“Kerja sama tersebut akan diperkuat melalui peningkatan koordinasi dan pembentukan grup diskusi antarlembaga sebagai ruang berbagi informasi dan membahas perkembangan kondisi hidrometeorologi,” sebutnya
“Penguatan sistem informasi ini diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat, sehingga upaya perlindungan masyarakat dapat dilakukan secara lebih terarah,” lanjutnya.
Selain itu, BWS Sumatera I tengah membangun 40 sabo dam yang tersebar di sejumlah titik terdampak banjir pada November 2025. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya menangani kerusakan sungai sekaligus mengurangi risiko dan dampak bencana di wilayah terdampak.
_Keberadaan sabo dam diharapkan dapat membantu mengendalikan material dan aliran yang berpotensi mengganggu sungai, sehingga masyarakat di sekitar wilayah rawan dapat merasakan lingkungan yang lebih aman dari ancaman bencana susulan,” tegas BWS Sumatera.
Menurutnya, Klkesiapsiagaan juga diperkuat melalui kebutuhan pengembangan sistem peringatan dini banjir agar informasi ancaman dapat diterima masyarakat dan instansi terkait dengan lebih cepat. BMKG memprediksi curah hujan meningkat pada Oktober, November, dan Desember 2026, sementara sejumlah sungai masih menghadapi kondisi seperti pendangkalan, perubahan morfologi, pelebaran penampang, serta perubahan tata guna lahan.
“Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama agar langkah antisipasi dapat dilakukan lebih awal, sehingga masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk bersiap dan risiko terhadap keselamatan maupun aktivitas sehari-hari dapat ditekan,” pungkas BWS Sumatera.







