Dosen UTU Temukan 21 Spesies Ikan di Kawasan Mangrove Aceh Barat

by

MEULABOH – Penanews.co.id – Dosen peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Teuku Umar (FPIK UTU) mengidentifikasi 21 spesies ikan di ekosistem mangrove Aceh Barat melalui metode DNA Barcoding. Penelitian yang berlangsung sejak Agustus hingga Oktober 2026 ini merekam keragaman hayati perairan kawasan pesisir tersebut.

Rudi Hermi, M.Si., dosen Program Studi Sumber Daya Akuatik FPIK UTU, memimpin jalannya riset bersama Nabil Zurba, S.Pi. (Prodi Sumber Daya Akuatik) dan Hayatun Nufus, M.Si. (Prodi Ilmu Kelautan). Tiga mahasiswa Prodi Sumber Daya Akuatik, yaitu, Angga Dwi Nova, Sandika Naufal Farhan, dan Zefri Afdana turut dilibatkan langsung dalam pengambilan data lapangan hingga analisis laboratorium.

Di tengah rimbunnya vegetasi mangrove Aceh Barat, tim merentangkan jaring insang (gill net) dan memasang perangkap bubu di titik-titik aliran air yang terikat pasang surut. Kombinasi dua alat tangkap ini mempermudah penyampelan ikan yang memiliki pergerakan serta karakter perilaku berbeda.

“Penggunaan kombinasi alat tangkap jaring insang dan bubu merupakan metode yang sangat tepat untuk ekosistem mangrove. Hasil 21 spesies menggunakan kedua alat ini menegaskan bahwa keanekaragaman di lokasi tersebut tergolong kaya dan aktif,” ujar Rudi Hermi saat menjelaskan teknis pengambilan sampel di lapangan, dilansir dari kanal resmi utu.

Dari pengujian sampel molekuler, 21 spesies ikan yang teridentifikasi mencakup Ambassis gymnocephalus, Bembrops sp., Butis butis, Caranx sp., Dichotomyctere nigroviridis, Epinephelus coioides, Gerres filamentosus, Glossogobius giuris, Leiognathus equula, Lutjanus argentimaculatus, Lutjanus carponotatus, Mugil cephalus, Ophiocara ophicephalus, Oreochromis niloticus, Oryzias sp., Periophthalmus sp., Terapon jarbua, Toxotes jaculatrix, Vespicula trachinoides, Yarica hyalosoma, hingga Zenarchopterus dispar.

Akar mangrove yang rumit memberikan ruang perlindungan sekaligus tempat mencari makan bagi benih maupun ikan dewasa. Temuan 21 spesies ini menjadi basis data awal untuk memetakan komposisi komunitas ikan, pola keterkaitan spesies dengan vegetasi sekitar, serta pemantauan dinamika ekosistem pesisir Aceh Barat secara berkala.

Keterlibatan mahasiswa dalam riset lintas program studi ini memberi pengalaman praktis dalam identifikasi spesies berbasis pendekatan molekuler. Peneliti merencanakan pemetaan lanjutan dengan perluasan area cakupan, observasi berkala, serta pengukuran parameter lingkungan untuk melengkapi data ekologi perairan secara mendalam. 

ya