JAKARTA – Penanews.co.id — Pengungkapan dugaan penyelundupan 1,16 ton ketamin di perairan Sumatera Utara menjadi bukti pentingnya pengawasan jalur laut dan sinergi antarlembaga dalam menghadapi ancaman narkotika lintas negara.
Ketua Umum Pemuda Mahasiswa Aceh Serantau, Rifqi Maulana, menyampaikan apresiasi terhadap langkah tegas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) bersama Badan Narkotika Nasional (BNN), Bea Cukai, dan unsur terkait dalam mengungkap kasus tersebut.
Menurut Rifqi, keberhasilan aparat mengamankan kapal MT Global 168 beserta barang bukti narkotika menunjukkan bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara terukur, profesional, dan berorientasi pada perlindungan masyarakat.
“Pemberantasan narkotika bukan sekadar persoalan menangkap pelaku atau menyita barang bukti. Ini merupakan bagian dari upaya menyelamatkan masa depan generasi muda, melindungi keluarga, serta menjaga ketahanan sosial bangsa,” ujar Rifqi dalam keterangannya di Jakarta.
Penegakan Hukum Harus Menyentuh Jaringan Besar
Rifqi menilai, pengungkapan kasus dengan barang bukti mencapai 1,16 ton ketamin harus menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan penyelundupan secara menyeluruh, termasuk asal barang, jalur distribusi, aliran dana, dan pihak-pihak yang diduga menjadi pengendali.
Ia menekankan bahwa penanganan perkara tidak boleh berhenti pada awak kapal yang diamankan. Aparat perlu menelusuri kemungkinan keterlibatan jaringan yang lebih luas, baik di dalam maupun di luar negeri, dengan tetap mengedepankan alat bukti dan proses hukum yang adil.
“Ketegasan harus berjalan beriringan dengan kecermatan penyidikan. Siapa pun yang terbukti terlibat harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum. Pada saat yang sama, setiap orang yang diperiksa tetap memiliki hak untuk mendapatkan proses hukum yang adil,” katanya.
Dalam kasus ini, tim gabungan mengamankan delapan orang yang terdiri atas tujuh warga negara Indonesia dan satu warga negara asing. Kapal yang membawa barang bukti tersebut juga telah diamankan untuk kepentingan penyidikan.
Perkuat Pengawasan Jalur Laut
Lebih lanjut, Rifqi mendorong penguatan pengawasan wilayah perairan Indonesia, khususnya jalur strategis yang berpotensi dimanfaatkan sindikat narkotika internasional.
Menurut dia, Indonesia membutuhkan sistem pengawasan maritim yang terintegrasi, pertukaran informasi intelijen yang cepat, serta koordinasi berkelanjutan antara Polri, BNN, Bea Cukai, TNI, dan mitra penegak hukum negara lain.
Ia juga menilai pemanfaatan teknologi pemantauan kapal, analisis pergerakan yang mencurigakan, dan penguatan kemampuan aparat di wilayah perbatasan perlu terus dikembangkan.
“Jangan sampai keberhasilan hari ini hanya menjadi catatan penindakan sesaat. Harus ada evaluasi dan penguatan sistem agar jalur laut Indonesia semakin sulit ditembus jaringan penyelundupan,” ujarnya.
Lindungi Generasi Muda dari Ancaman Narkotika
Rifqi menegaskan bahwa pemberantasan narkotika perlu didukung pendekatan pencegahan melalui pendidikan, literasi bahaya narkoba, rehabilitasi bagi pengguna yang membutuhkan, serta keterlibatan keluarga dan masyarakat.
Ia mengajak mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif membangun lingkungan yang sehat dan berani melaporkan dugaan peredaran narkotika melalui saluran resmi.
Menurutnya, keberhasilan pemberantasan narkotika tidak hanya diukur dari besarnya barang bukti yang disita, tetapi juga dari kemampuan negara memutus jaringan peredaran dan mencegah generasi muda menjadi korban.
“Polri dan seluruh lembaga terkait perlu terus mendapat dukungan masyarakat dalam menjalankan penegakan hukum yang profesional dan transparan. Kita ingin Indonesia tidak hanya kuat dalam menindak, tetapi juga unggul dalam mencegah dan melindungi rakyat,” tutup Rifqi.
Ia berharap pengungkapan kasus tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas lembaga dan meningkatkan kesadaran publik bahwa pemberantasan narkotika merupakan tanggung jawab bersama demi masa depan Indonesia.[]







