KOTA JANTHO – Penanews.co.id – Tim dosen dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (USK) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat secara mandiri di SMA Negeri 1 Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Rabu (3/6/2025).
Kegiatan ini berfokus pada pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) sebagai media pembelajaran berbasis teknologi bagi para guru di sekolah tersebut, dalam rangka mendukung program digitalisasi pembelajaran nasional yang diamanatkan oleh Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025.
Pengabdian dan pembelajaran yang disuguhkan Tim FKIP USK disambut hangat oleh Kepala SMAN 1 Peukan Bada, Ahlul Fikri, S.Pd.I., M.Pd., beserta seluruh dewan guru.
Ahlul mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran tim dosen FKIP USK yang dinilai sangat tepat waktu, mengingat sekolah telah menerima perangkat PID dari pemerintah pusat melalui Program Digitalisasi Pembelajaran Kemendikdasmen, namun belum memiliki panduan pelatihan yang terstruktur untuk mengoptimalkan penggunaannya.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran tim dosen FKIP USK. Ini menjadi kesempatan berharga bagi para guru kami untuk benar-benar memahami dan memanfaatkan teknologi papan interaktif digital yang selama ini sudah ada di kelas kami, namun belum digunakan secara optimal,” ujar Ahlul
Kegiatan ini difasilitasi oleh Fitria Herliana, S.Pd., M.Pd. dan Drs. Mukhlis, M.Hum., dua dosen FKIP USK yang saat ini juga jadi narasumber nasional Program Digitalisasi Pembelajaran Kemendikdasmen.
Tim pengabdi lain yang juga turut hadir dalam kegiatan ini diantaranya Dra. Erni Maidiyah, M.Pd., Dr. Muhammad Syukri, M.Ed., dan Dr. Susilawati, M.Ed.
Menurut Fitria Kegiatan pelatihan dirancang secara sistematis dalam dua sesi utama yang mencakup aspek teknis maupun pedagogis. Sesi pertama difokuskan pada peningkatan kompetensi teknis guru dalam mengoperasikan PID.
“Pada sesi ini, para guru diperkenalkan dengan antarmuka dan fitur-fitur dasar hingga lanjutan PID, mencakup whiteboard digital, fitur anotasi, layar sentuh, dan konektivitas perangkat,” ungkap Fitria.
Selain itu, katanya guru juga dilatih mengakses platform Rumah Pendidikan (platform resmi Kemendikdasmen) yang menyediakan ribuan konten pembelajaran berkualitas seperti video pembelajaran, buku digital, simulasi sains, dan kuis interaktif secara langsung melalui perangkat PID di kelas. Setiap peserta mendapatkan kesempatan praktik langsung agar keterampilan teknis dapat terbangun secara mandiri dan percaya diri.
Lalu pada Sesi kedua kata Fitria pembelajaran berfokus pada integrasi PID dalam pendekatan pembelajaran mendalam yang bersifat mindful, meaningful, dan joyful sesuai amanat Kurikulum Merdeka berdasarkan Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.
“Pada sesi ini, guru diberikan referensi untuk merancang skenario pembelajaran yang menempatkan PID sebagai fasilitator keterlibatan aktif siswa, kolaborasi, dan berpikir kritis. Tim pengabdi mendemonstrasikan pemanfaatan fitur kolaboratif PID seperti split screen dan multi-touch untuk mendukung diskusi dan kerja kelompok yang bermakna di kelas,” sebutnya.
Fitria Herliana selaku koordinator tim menyampaikan, tingkat antusiasme peserta terlihat begitu tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Para guru yang semula merasa asing dengan perangkat PID mulai aktif berinteraksi langsung dengan layar sentuh, bergantian mencoba fitur whiteboard digital, mengakses konten dari platform Rumah Pendidikan, hingga menyiapkan rancangan skenario pembelajaran.
Menurut Fitria tingginya antusiasme guru merupakan modal utama keberhasilan transformasi digital di sekolah.
“Semangat para guru hari ini sangat menggembirakan kami. Dengan antusiasme seperti ini, kami optimis minimal 70% guru peserta akan mampu mengoperasikan PID secara mandiri dan mengintegrasikannya dalam pembelajaran setelah kegiatan ini,” ujarnya.
Salah seorang peserta pelatihan mengungkapkan rasa terkejutnya dalam pemanfaatan PID begitu mudah dan siap untuk diimplementasikan pada siswa
“Saya tidak menyangka PID ini bisa digunakan semudah ini. Ternyata banyak sekali konten pembelajaran yang sudah tersedia dan siap digunakan, tinggal bagaimana kita mengintegrasikannya dalam proses belajar mengajar,” ungkap salah satu guru peserta dengan antusias.
Suasana pelatihan berlangsung sangat interaktif dengan proporsi 30% teori dan 70% praktik langsung. Para guru tampak enggan beranjak saat pelatihan berlangsung. Mereka aktif bertanya, berdiskusi dengan rekan sejawat, dan mencoba berbagai fitur PID di bawah pendampingan tim dosen. Semangat ini mencerminkan besarnya kebutuhan guru akan pelatihan teknologi yang terstruktur dan kontekstual.[]





