Dr. Nasrullah RCL: Fakultas Teknik USK Ujung Tombak Riset Berdampak Pengisi PNBP

by
Dr Ir. Nasrullah RCL, ST., MT

BANDA ACEH – Penanews.co.id – Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala memiliki aset besar. Aset itu berupa laboratorium. Laboratorium Teknik Kimia, Teknik Sipil, Teknik Komputer, Laboratorium Teknik Mesin, Teknik Kebumian, penguji kualitas lingkungan, Studio Arsitektur, PWK dan Laboratorium Alam Jantho.

Dosen Fakultas Teknik USK, Dr Ir. Nasrullah RCL, ST., MT menjelaskan, semua aset ini dapat menghasilkan uang.

“Uang itu masuk ke kas negara sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sayangnya, potensi ini belum tergarap maksimal,”sebut Mantan Ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) USK periode 1993/1994 ini, kepada penanews.co.id di Banda Aceh Rabu (03/06/2026)

Data dari USK menunjukkan bahwa pendapatan PNBP dari jasa laboratorium Fakultas Teknik masih rendah. Pada tahun 2023, kontribusi FT terhadap total PNBP USK dari sisi riset terapan kurang dari 5 persen. Padahal fakultas ini memiliki lebih dari 15 laboratorium dengan peralatan modern.

“Sebagian besar peralatan itu menganggur. Peralatan hanya dipakai untuk praktikum mahasiswa. Pemakaiannya hanya satu atau dua kali per semester,” jelas alumni SMA Negeri 3 Banda Aceh ini.

“Kondisi ini tidak boleh berlanjut. Fakultas Teknik harus berubah. Ia harus menjadi ujung tombak riset berdampak. Riset berdampak artinya riset yang memecahkan masalah nyata. Masalah nyata di Aceh misalnya pencemaran air tambang, kerusakan jalan akibat banjir, atau kualitas konstruksi bangunan pasca gempa. Solusi dari riset ini bisa dijual ke pemerintah daerah atau perusahaan. Hasil penjualannya menjadi PNBP,” pinta Calon Dekan Fakultas Teknik USK Periode 2026-2031.

Nasrullah menyebutkan, Visi Fakultas Teknik Butuh Eksekusi Nyata

Visi FT USK sudah bagus. Visi itu berbunyi: menghasilkan lulusan berkompeten dan berkarakter sosio-teknopreneur yang mampu bersaing di tingkat global. Misi fakultas juga mencakup penelitian mutakhir dan pengabdian inovatif. Namun visi dan misi tidak akan berarti tanpa eksekusi.

“Salah satu target strategis FT USK adalah menjadi pusat riset berdampak. Target ini tertulis dalam rencana strategis fakultas. Target ini juga sejalan dengan kebijakan Rektor USK Prof. Mirza Tabrani. Rektor mendorong setiap fakultas meningkatkan PNBP,” jelasnya, seraya menyebutkan, “kenaikan PNBP akan meningkatkan kesejahteraan dosen, staf, dan mahasiswa melalui sistem remunerasi berbasis kinerja.”

Fakultas Teknik memiliki keunggulan dibanding fakultas lain. Ia punya Laboratorium Alam Jantho. Lahan seluas puluhan hektar ini bisa digunakan untuk riset pertanian presisi, uji material alam, atau konservasi sumber daya air. Laboratorium Alam Jantho bisa disewakan ke perusahaan tambang untuk uji restorasi lahan.
Bisa juga dikerjasamakan dengan Dinas Lingkungan Hidup Aceh untuk pelatihan pengelolaan ekosistem.

“Data Potensi yang Terbiarkan
Mari kita lihat data konkret. Laboratorium Kimia FT USK memiliki alat Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Alat ini bisa mendeteksi kandungan logam berat dalam air dan tanah. Satu kali pengujian logam berat untuk sampel air limbah dibanderol Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000 di laboratorium komersial. Jika FT USK menjalankan 100 pengujian per bulan dari perusahaan tambang atau perkebunan, pendapatan kotor mencapai Rp 50 juta hingga Rp 100 juta per bulan,”katanya.

Menurut nya, fakta lain: Laboratorium Teknik Sipil memiliki alat uji tekan beton dan alat uji tarik baja. Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Aceh setiap tahun menguji puluhan sampel material proyek infrastruktur. Selama ini, sebagian pengujian dikirim ke Medan atau Banda Aceh di laboratorium swasta. FT USK bisa mengambil pasar ini. Cukup dengan mengirim surat penawaran resmi ke dinas dan kontraktor lokal.

“Laboratorium Teknik Komputer memiliki perangkat untuk uji keamanan jaringan dan uji forensik digital. Pemerintah kabupaten dan kota di Aceh sedang bertransformasi ke layanan digital. Mereka butuh uji kerentanan sistem. FT USK bisa menawarkan jasa ini dengan harga 30 persen lebih murah dari penyedia jasa eksternal,”jelasnya.

Dikatakan, Teori yang Mendukung
Langkah ini tidak asing dalam literatur manajemen perguruan tinggi. Henry Etzkowitz memperkenalkan konsep Entrepreneurial University pada tahun 1990an. Konsep ini menjelaskan bahwa universitas tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga mengkapitalisasi pengetahuan tersebut. Kapitalisasi pengetahuan terjadi melalui paten, lisensi, atau jasa laboratorium.

“Penelitian terbaru dari UNESCO tahun 2022 menekankan pentingnya fourth mission universitas. Misi keempat itu adalah kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Universitas tidak cukup hanya mengajar dan meneliti. Universitas harus menciptakan lapangan kerja dan pendapatan. Fakultas Teknik USK bisa memenuhi misi keempat ini melalui komersialisasi laboratorium,”jelas mantan Ketua IKA SMANTIG Banda Aceh ini.

Teori Resource-Based View dari Barney juga relevan. Universitas memiliki sumber daya unik. Sumber daya itu adalah peralatan canggih dan ilmuwan yang kompeten. Sumber daya ini sulit ditiru oleh laboratorium swasta karena investasi awalnya mahal. Dengan mengelola sumber daya ini secara sistematis, FT USK menciptakan keunggulan kompetitif. Keunggulan itu menghasilkan pendapatan jangka panjang.

“Pengalaman kami saat mengampu mata kuliah Technopreneurship serta dalam proyek pengabdian berbasis teknologi telah menyuarakan perlunya komersialisasi riset. Dengan demikian Fakultas Teknik ke depan perlu melakukan tiga hal. Pertama, membentuk Unit Layanan Terpadu Laboratorium. Unit ini menangani pemasaran, penjadwalan, dan penagihan jasa laboratorium. Kedua, menetapkan tarif layanan yang kompetitif. Tarif dihitung berdasarkan biaya operasional plus margin 20 hingga 30 persen. Ketiga, memberi insentif langsung ke teknisi dan dosen. Sebanyak 40 persen dari PNBP laboratorium dikembalikan ke pengelola sebagai bonus kinerja,”kata Dr. Nasrullah

Skema insentif ini menurutnya, sudah terbukti di Institut Pertanian Bogor (IPB). IPB meningkatkan PNBP dari jasa laboratorium sebesar 150 persen dalam dua tahun setelah menerapkan sistem bagi hasil yang adil. Contoh lain dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM menghasilkan miliaran rupiah per tahun dari jasa uji lingkungan untuk perusahaan tambang dan pabrik.

Dijelaskannya, Riset Berdampak Membutuhkan Kolaborasi
Fakultas Teknik tidak bisa bekerja sendiri. Ia harus berkolaborasi dengan pemerintah Aceh. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, misalnya, memiliki anggaran untuk monitoring kualitas air sungai. FT USK bisa menjadi mitra resmi. Caranya dengan membuat Perjanjian Kerja Sama (PKS) jangka panjang. Dalam PKS itu, FT USK menyediakan tenaga ahli dan alat. Dinas menyediakan biaya operasional.

“Kolaborasi juga dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh. Kadin memiliki database perusahaan yang membutuhkan jasa uji laboratorium. FT USK bisa meminta Kadin merekomendasikan laboratorium FT USK ke anggota kadin. Sebagai imbalan, FT USK memberi diskon 10 persen untuk anggota Kadin,”jelasnya.

Kolaborasi dengan fakultas lain di USK juga penting. Fakultas Pertanian punya ahli di bidang tanah. Fakultas Kedokteran punya ahli biologi molekuler. Gabungan keahlian ini menciptakan paket layanan komprehensif. Misalnya paket uji dampak tambang yang mencakup tanah, air, dan kesehatan masyarakat. Harga paket ini lebih mahal dan lebih menarik bagi perusahaan besar.

Waktu yang Tepat untuk Bertindak
Fakultas Teknik USK memiliki semua yang dibutuhkan. Laboratorium lengkap. Sertifikasi ISO/IEC 17025:2017 dari UPT Laboratorium Terpadu USK. Dukungan rektor yang pro PNBP. Calon pemimpin yang paham bisnis teknologi. Satu yang kurang: keberanian untuk memulai.

“Berhenti mengandalkan dana BOPTN yang terus menyusut. Mulailah mengelola laboratorium sebagai pusat pendapatan. Jadwalkan setiap alat untuk digunakan minimal 60 jam per bulan di luar praktikum. Latih teknisi untuk melayani pelanggan eksternal dengan ramah dan cepat. Promosikan layanan melalui website dan media sosial,”pintanya.

Jika langkah ini diambil, menurut calon dekan FT USK ini, target 10 miliar rupiah PNBP per tahun dari fakultas teknik bukan mimpi. Uang itu akan meningkatkan kesejahteraan sivitas akademika. Dosen dan staf mendapat bonus. Mahasiswa mendapat beasiswa lebih banyak. Laboratorium mendapat alat baru. Lingkaran positif ini hanya dimulai dari satu keputusan: menjadikan riset berdampak sebagai mesin pendapatan.

“Fakultas Teknik harus menjadi ujung tombak. Aceh menunggu bukti, bukan slogan,”pungkasnya.