Guru Besar IPB Sebut Sawit Tidak Boros Air dan Penghasil Oksigen Lebih Tinggi, Begini Fakta Ilmiahnya

by

BANDA ACEH – Penanews.co.id – Guru Besar IPB University, Prof Hariyadi menyampaikan fakta ilmiah berkaitan manfaat sawit bagi lingkungan dan penopang lapangan kerja. Fakta ini disampaikannya dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (27/07/2026).

Melalui tulisan berjudul Nexus Baru dalam Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan, Prof Hariyadi menyampaikan industri sawit telah menjadi penyedia lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung. Dari 16,38 juta hektare terdapat kebun sawit yang dikelola rakyat seluas 7 juta hektare lebih, perkebunan swasta  lebih dari 8 juta, dan sekitar 1,2 juta hektare perkebunan sawit dikelola BUMN.

“Sawit juga sebagai sumber pendapatan masyarakat juga mendukung industri hilir, Pembangunan daerah dan program bioenergy,” ujar Prof. Hariyadi dikutip dari situs sawitindonesia.com.

Dari aspek lingkungan, kelapa sawit mampu menghasilkan oksigen lebih tinggi dibandingkan padi dan karet. Oksigen yang dihasilkan pohon sawit mencapai 21,2 ton per hektare per tahun. Jumlah ini mendekati hutan tropis yang sebesar 25,3 ton/ha/tahun karena memiliki kerapatan biomassa dan keanekaragaman hayati lebih tinggi.

Tudingan bahwa sawit boros air juga dijawab dalam riset Prof Hariyadi. Berdasarkan perbandingan hasil produksi TBS-nya dan konsumsi air per hektar, ternyata kelapa sawit memiliki efisien yang dalam penggunaan air dibandingkan padi sawah, kedelai, dan karet sehingga kelapa sawit dapat dikatakan tidak boros air. Bersumber dari penelitian Gebens-Leenes et al. (2009), kelapa sawit menghasilkan tonase panen (TBS) yang sangat besar, sehingga kebutuhan air untuk menghasilkan setiap ton produknya menjadi yang paling rendah (paling efisien) dibanding tanaman lain sepetri kedelai, padi, dan karet.

Selain dalam perbandingan simpanan karbon untuk berbagai tipe lahan. Penelitian Hariyadi (2005) dan Syahputra et.al (2025) bahwa Pada umur tanaman yang sama (15 tahun), Kelapa sawit memiliki simpanan karbon sebesar 70,25 ton ha⁻¹ (32%). Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan tanaman perkebunan lain pada umur yang sama, seperti Cengkeh hutan (15,8%), Pala (9,5%), dan Teh budidaya (8,3%). Biomassa kelapa sawit yang tumbuh cepat dan masif membuatnya unggul dalam penyerapan karbon di kategori tanaman perkebunan sejenis.

Menutup arahannya, Prof Hariyadi menegaskan bahwa kerangka kerja “Nexus Baru” harus mengintegrasikan berbagai aspek—mulai dari produktivitas, ketahanan iklim, ekonomi sirkular, hingga digitalisasi—untuk menjawab tantangan global seperti emisi karbon, perubahan iklim, dan standar environment, social, governance (ESG).

ya